Penulis Disertasi Amicus Curiae Pertama di Indonesia, Dr. Umbu Kabunang Rudiyanto Menyebutkan Hal Ini Usai Heboh Megawati Mengajukannya ke MK

- Editor

Kamis, 18 April 2024 - 21:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Umbu Rudi Kabunang. SH.MH.CLI saat membuka acara launching kantor ‘Law Firm BS and Partner. Advocate, Curator, and Legal Consultant’.

Dr. Umbu Rudi Kabunang. SH.MH.CLI saat membuka acara launching kantor ‘Law Firm BS and Partner. Advocate, Curator, and Legal Consultant’.

 

JAKARTA,MediaKarya: Amicus Curiae kini membanjiri Mahkamah Konsitusi (MK) jelang putusan sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan PDIP Megawati Soekarnoputri melakukan Amicus Curiae.

Amicus curiae adalah orang atau organisasi yang bukan pihak dalam suatu perkara dan mungkin atau mungkin tidak diminta oleh suatu pihak membantu pengadilan dengan menawarkan informasi, keahlian, atau wawasan yang memiliki kaitan dengan isu-isu dalam kasus tersebut.

Belakang ini ramai kabar di Berbagai kalangan termasuk Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri juga melayangkan Amicus Curiae ke MK.

Rupanya, Dr. Umbu Kabunang Rudiyanto Hunga, SH,.MH.,CLI praktisi hukum asal Pulau Sumba, NTT merupakan orang Indonesia pertama yang menulis disertasi Amicus Curiae atau sahabat peradilan.

Umbu Kabunang Rudianto mengatakan, Amicus Curiae atau Friend of Corut adalah masukan, informasi atau memberikan pendapat hukum , legal brief dari individu dan organisasi yang bukan beritndak sebagai pihak dalam sebuah perkara.

“Namun mereka hanya menaruh perhatian atau lebih kepada berkepentingan terhadap suatu kasus,” ujar Dr. Umbu Kabunang Rudianto seperti dilansir dari SelatanIndonesia.com, Kamis (18/4/2024).

Disebutkan, Amicus Curiae akan diajukan ketika ada perkara yang sedang berproses di pengadilan, baik itu di Pengadilan Negeri (PN) maupun Mahkamah Konstitusi (MK).

“Karena perkara itu menarik perhatian, dan para amicus peduli dan punya pengetahuan, sehingga memberi masukan agar perkara itu dapat membantu hakim memutus atau menyelesaikannya,” ungkapnya.

Dr. Umbu Kabunang Rudianto mencontohkan kasus sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi. Dia menyebut, kasus itu, para amicus ajukan legal opini atau pendapat hukum , Mereka adalah pihak ketiga seperti masyarakat dan LSM atau para pemerhati perkara. “Jadi mereka itu memiliki kapasitas dalam bidangnya masing-masing, dan tidak ada UU yang mengatur bagaimana amicus brief atau amicus curiae ini menjadi bukti di pengadilan,” ungkapnya

Ia menerangkan, amicus brief dalam persidangan di MK, setalah mengajukan legal opini, tidak ada UU dan kewajiban hakim untuk mempertimbangkan. “Tetapi dalam perkara-peekara tertentu, ada hakim yang mempertimbangkan pendapat-pendapat hukum tersebut,” jelasnya.

Sehingga, Dr. Umbu Kabunang Rudianto dalam disertasinya, ia merasa bahwa peran amicus curiae dalam persidangan di pengadilan Indonesia sudah sering kali hadir, dan terlibat dalam proses pengadilan di Indonesia. “Khususnya dalam penelitian saya di pengadilan pidana,” ungkapnya.

Ia menilai bahwa pendapat hukum dari amicus kuruae yaitu amicus brief itu bukan sekedar dipertimbangkan, tetapi harus wajib dipertimbangkan dalam putusan. “Tetapi kenyataan yang terjadi adalah pertimbangan hukum atau legal opini atau amicus brif itu tidak sertamerta dijadikan pertimbangan oleh hakim,” terangnya.

Baca Juga:  Ambang Batas Pilkada: Antara Pembatasan Hukum dan Ketidakpuasan Rakyat yang Terakumulasi

Ia juga menambahkan, disertasi tentang Amicus Curiae ini bakal dibuat dalam bentuk buku dan segera diterbitkan. “Melalui disertasi ini, saya meraih gelar Doktor Ilmu Hukum di Universitas Jayabaya, Jakarta tahun 2023 lalu,” katanya.

Sepintas Disertasi Dr. Umbu Kabunang Rudiyanto Hunga, SH, MH.

Amicus Curiae atau dapat diartikan sebagai teman pengadilan adalah orang atau organisasi swadaya masyarakat atau akademisi yang bukan pihak berperkara di pengadilan, namun memiliki kepentingan yang kuat dalam perkara tersebut dan mengajukan pendapat hukum dengan maksud untuk mempengaruhi keputusan pengadilan.

Amicus Curiae atau friends of court dapat dijadikan salah satu alat bukti berupa kajian ilmiah yang terkait dengan kasus yang sedang disidangkan di pengadilan.

Hakim dapat menggunakan Amicus Curiae sebagai bahan untuk memeriksa, mempertimbangkan serta memutus perkara.

Hakim dapat membuka informasi dan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para pihak yang merasa memiliki kepentingan dengan kasus yang sedang disidangkan tersebut.

Amicus Curtae berbeda dengan pihak dalam intervensi karena para sahabat pengadilan (amici) tidak bertindak sebagai pihak dalam perkara tetapi menaruh perhatian terhadap suatu kasus secara khusus

Namun dalam praktiknya, penggunaan Amicus Curiae ini belum memiliki kepastian hukum karena dapat dikesampingkan oleh hakim.

Sebagai Das sein tentang keberadaan hukum, Amicus Curiae, dalam beberapa tuhun terakhir, diperkirakan sejak 2009, muncul di Penyadilan Negeri Indonesia.

Saran Dalam Penelitian:

1. Dalam rangka memberikan kekuatan pembuktian terhadap keberadaan Amicus Curiae sebagai sahabat pengadilan, disarankan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah Republik Indonesia agar dilakukan perubahan terhadap ketentuan Pasal 184 KUHAP dengan memasukan Amicus Curiae sebagai salah satu alat bukti.

Hal ini berguna untuk memberikan kepastian hukum perihal kekuatan dan kedudukan Amicus Curiae di Pengadilan sesuai dengan sistem hukum di Indonesia.

2. Disarankan kepada Mahkamah Agung agar dibuat aturan baku mengenai Amicus Curiae, sehingga hakim dapat menerapkan sistem pembuktian sebagaimana Teori Conviction Rasionnee yang berbasis nilai-nilai hukum dan keadilan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, yakni sistem hukum pembuktian yang tetap menggunakan keyakinan hakim, tetapi keyakinan hakim didasarkan pada alasan-alasan yang rasional dan undang-undang yang berlaku berbasis nilai-nilai hukum dan keadilan yang terdapat di tengah-tengah masyarakat.

Adanya Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia tentang Penggunaan dan Penerapan Amicus Curiae dalam Perkara Pidana di Pengadilan dapat memberikan jaminan kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan. ***

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Rugikan Negara Rp2 Triliun, Kejagung Ungkap Korupsi Migas Bekasi Langgar Izin DPRD dan Kementerian ESDM
Tri Nusa Bekasi Raya Kawal Kasus Migas, Sebut Wali Kota Bekasi Bakal Dipanggil Kejagung Pekan Depan
Pakar Komunikasi Politik: Suara Kritis Dibungkam, Demokrasi Berhenti Bernapas
Inilah Susunan Lengkap Kepengurusan PBNU Masa Khidmah 2026-2031
DPR Minta Akses Pendidikan Merata dan Berkualitas Mendukung Penuh Masyarakat
Kepala BGN Ubah Skema Insentif SPPG Jadi Rp2.000 per Porsi, Berlaku 5 Oktober 2026
Salurkan Hal Positif, Polsek Bekasi Selatan Buka Pelatihan Ju-Jitsu Bagi Pelajar
Jelang Musda, Kader Senior Golkar Kota Bekasi Adi Yunsyah Imbau Kader Hilangkan Egosentris

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 06:02 WIB

Rugikan Negara Rp2 Triliun, Kejagung Ungkap Korupsi Migas Bekasi Langgar Izin DPRD dan Kementerian ESDM

Kamis, 1 Oktober 2026 - 05:32 WIB

Tri Nusa Bekasi Raya Kawal Kasus Migas, Sebut Wali Kota Bekasi Bakal Dipanggil Kejagung Pekan Depan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 03:40 WIB

Pakar Komunikasi Politik: Suara Kritis Dibungkam, Demokrasi Berhenti Bernapas

Rabu, 30 September 2026 - 23:55 WIB

Inilah Susunan Lengkap Kepengurusan PBNU Masa Khidmah 2026-2031

Rabu, 30 September 2026 - 22:47 WIB

Kepala BGN Ubah Skema Insentif SPPG Jadi Rp2.000 per Porsi, Berlaku 5 Oktober 2026

Berita Terbaru