Rektor UPMI: Melestarikan Lontar Berarti Menjaga Jati Diri Budaya Bali

- Editor

Senin, 20 Oktober 2025 - 09:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DENPASAR, Mediakarya – Melestarikan lontar pada dasarnya juga berarti melestarikan jati diri dan kebijaksanaan budaya Bali.

Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum., saat membuka Seminar Kolaboratif “Revitalisasi Pengetahuan Tradisional Berbasis Lontar” di Ruang Paseban, UPMI Bali, Sabtu (18/10).

Menurut Prof. Suarta, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga warisan budaya Bali agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Ia juga menegaskan, pelestarian lontar sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi (Pemrov) Bali melalui program “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, yang menekankan keseimbangan antara alam, manusia, dan kebudayaan.

“Seminar ini menjadi langkah konkret dalam menjaga bahasa, aksara, dan sastra Bali, sekaligus memperkuat identitas budaya di era global,” ujarnya.

Seminar hasil kolaborasi antara UPMI Bali dengan Yayasan Karya Buana Lestari, Kabupaten Karangasem ini menghadirkan tiga pembicara, yakni Dr. Anak Agung Gde Alit Geria, M.Si., Dr. I Made Sujaya, dan Adi Wicaksono, dengan moderator I Kadek Adhi Dwipayana, S.Pd., M.Pd.

Baca Juga:  Kementan Lakukan Pengendalian Stok Pangan di 34 Provinsi

Dalam diskusi juga menyoroti pentingnya revitalisasi pengetahuan tradisional berbasis lontar sebagai sumber nilai, etika, dan kebijaksanaan lokal yang relevan untuk generasi masa kini.

Sementara dari Ketua Yayasan Karya Buana Lestari, I Nengah Suarya, S.E. menyatakan, sampai hari ini, di Bali, masih banyak yang tersimpan sebagai koleksi pribadi yang jarang ditransformasi secara umum ke publik.

Dalam penjelasnya, lontar tidak hanya berisi ajaran agama dan filsafat, tetapi juga catatan sosial, pengobatan tradisional, hingga kearifan menjaga alam.

Mudah-mudahan dengan kegiatan ini, masyarakat luas serta kalangan akademik tergugah untuk melanjutkan dan melestarikan, serta kedepannya mampu menguatkan tradisi-tradisi yang bersumber dari lontar yang ada di wilayahnya sehingga tidak punah digerus zaman. (Bud)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Maki-maki PKL di Muka Umum, Tri Adhianto Dituding Tengah Mengadopsi Gaya Kepemimpinan KDM
Ketika Republik Makin Lupa Warisan Konstitusi
Indonesia Perlu Perkuat Deteksi Dini Kebakaran Hutan dan Lahan, Teknologi Satelit dan Analitik Data Jadi Kunci
Polemik HGU Cot Girek Memanas, Warga Tolak Ukur Ulang dan Desak Penyelesaian Sengketa Lahan
Sebanyak 40 Bangli di Atas Aliran Kali Harun Ditertibkan Petugas
Cara Tegur PKL Oleh Wali Kota Bekasi Jadi Sorotan, Ini Kata Pakar Komunikasi Publik
Guru PPPK Hanya Masuk Sekali Sebulan, PBM di SDN Hilinifaoso Nyaris Lumpuh
Momen HUT RI Jadi Gelar Doa Bersama Buat Musibah Di NTT

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:49 WIB

Maki-maki PKL di Muka Umum, Tri Adhianto Dituding Tengah Mengadopsi Gaya Kepemimpinan KDM

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:28 WIB

Ketika Republik Makin Lupa Warisan Konstitusi

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:47 WIB

Polemik HGU Cot Girek Memanas, Warga Tolak Ukur Ulang dan Desak Penyelesaian Sengketa Lahan

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:56 WIB

Sebanyak 40 Bangli di Atas Aliran Kali Harun Ditertibkan Petugas

Senin, 24 Agustus 2026 - 13:26 WIB

Cara Tegur PKL Oleh Wali Kota Bekasi Jadi Sorotan, Ini Kata Pakar Komunikasi Publik

Berita Terbaru

Pakar Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik, Dr. Adi Suparto

Opini

Karpet Merah Bukan untuk Anak Petani

Selasa, 25 Agu 2026 - 12:53 WIB

Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar (kiri) bersama dengan Direktur OT Group, Dr. Yosua Jap, (kanan)

Ekonomi & Bisnis

Melalui Kemensos, OT Peduli Serahkan Bantuan Kepada Korban Gempa NTT

Selasa, 25 Agu 2026 - 12:05 WIB

Prof. Dr. Yudhie Haryono

Headline

Ketika Republik Makin Lupa Warisan Konstitusi

Selasa, 25 Agu 2026 - 08:28 WIB