Sampai Kapan Politik Saling Sandera Antar Parpol Berakhir?

- Editor

Rabu, 15 November 2023 - 17:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wibisono, Pengamat Militer yang juga Ketua Dewan Pembina Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Indonesia.

Wibisono, Pengamat Militer yang juga Ketua Dewan Pembina Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Indonesia.

JAKARTA, Mediakarya – Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan tiga pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) sebagai peserta Pilpres 2024 yang telah dinyatakan lolos proses verifikasi. Namun, pasca penetapan capres/cawapres sekaligus penetapan  nomor urut itu,  politik saling sandera antarpartai politik mulai mengemuka.

“Jelang Pemilu 2024 ini ada kecenderungan politik sandera antarparpol terkait dengan persoalan hukum  sudah mulai dipertontonkan di ruang publik. Terlebih lagi, anggota legislatif yang saat ini menjabat, 90 persennya dipastikan bakal diisi oleh orang-orang lama yang selama ini dinilai minim prestasi,” ujar Ketua Dewan Pembina Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN),  Wibisono, seperti dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/11/2023).

Oleh karena itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam melakukan pengawasan, sehingga dapat diketahui apakah kasus sandera politik itu sengaja dilakukan untuk melindungi kepentingan politik tertentu atau tidak.

“Sebab, jika itu terjadi maka akan memunculkan adanya transaksi politik dalam setiap pengambilalihan kekuasaan,” ujar Wibi.

Wibi memprediksi bahwa situasi politik jelang pelaksanaan Pemilu 2024 ini bakal memanas. Salah satu indikasinya fenomena politik saling serang di antara partai politik dalam kasus korupsi.

“Alhasil kegelisahan terhadap kasus korupsi bukan hanya berkutat pada aspek dampak kejahatannya yang bisa menyengsarakan rakyat, melainkan pada rusaknya citra partai,” ungkap Wibi.

“Apalagi drama Mahkamah Konstitusi (MK) yang meloloskan Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres akan terus diperdebatkan oleh pakar hukum dan tatanegara,” imbuh Wibi.

Lanjut Wibi, kasus yang saat ini tengah menghangat yaitu terkait dengan masalah hukum yang menjerat ketua KPK Firli Bahuri yang diduga terseret dalam kasus pemerasan terhadap mantan Mentan SYL.

Baca Juga:  Takziah SBY ke Rumah Duka Guruh Soekarno Putra Dinilai Jadi Sinyal Rekonsiliasi Politik

“Ini kasus sampai kapan ini berakhir?, Saya berharap politik sandera ini segera berakhir, dan tidak berkepanjangan, masalah hukum dapat ditegakkan tanpa ada unsur politik, jujur kalau mau semua diselidiki tidak ada satu lembaga negara pun yang bersih dari korupsi. Untuk itu perlu adanya upaya pencegahan yang komprehensif,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum LPKAN Indonesia,  M. Ali Zaeni menambahkan, jika parpol terjebak pada politik saling sandera maka penyelesaiannya menjadi transaksional. Dia berpendapat Setgab Koalisi bisa menjadi alat negosiasi.

“Jika politik saling sandera terus ada dan bahkan terus menguat maka akan terjebak pada transaksi para elite. Akan terjadi penurunan (kualitas) elite yang bisa diukur pada Pemilu 2024 mendatang,” ungkap Ali kepada wartawan.

Ali juga menengarai, politik saling sandera ini akan terus menguat hingga mendekati Pemilu nanti. Saat hal itu terjadi, antar parpol akan saling sikat dan masing-masing parpol akan sibuk sendiri.

Jika ini terus terjadi, ia mengkhawatirkan parpol tidak lagi lagi bicara program tapi bicara kasus yang membelit sehingga kualitas demokrasi jadi buruk.

“Ini akan semakin mengeras menjelang Pemilu 2024. Semua partai kelihatan busuk. Kalau memang ada masalah di partai, sebaiknya dibongkar saja semua sehingga tidak saling sandera. Ini agar semua clear dan tak ada yang transaksional. Gejala politik saling sandera ini muncul karena borok partai mulai terbongkar,” ucapnya.

Sebelumnya, tiga pasangan bakal capres dan cawapres telah mendaftar ke KPU untuk bertarung dalam Pilpres 2024 adalah pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, dan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. (Red)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Dukungan Kader PPP Menguat, Sarif Marhaendi Siap Jadi Wakil Bupati Bekasi
Direktur Etos Indonesia: Golkar Harus Bongkar Pola Lama, Jika Mau Hidup di Era Gen Z
Yusuf Blegur Skakmat Dedi Mulyadi: Pencitraan Pro Rakyat, Giliran Warga Ciamis Ngeluh Jalan Rusak Malah Ngamuk
Analis Politik Sentil Golkar: Citra Hancur Diterpa Korupsi, Kader Bekasi Malah Paksakan Istri Tersangka KPK Jadi Ketua
Sidang Gugatan Pelda Satria Nusantara Ditunda, Pengacara Soroti Netralitas Sekretaris Pusat
Golkar di Ujung Badai, Rapor Merah Bahlil dan Rentetan Kasus Korupsi Kader Jadi Alarm Keras
Soroti Dana Hibah Golkar Bekasi, LI-TPK Dorong Kejari dan BPK Lakukan Penelusuran
Meski Ada Efisiensi, DPRD Tetap Komitmen Jaga Alokasi Anggaran Pendidikan Tak Dipotong di APBD 2027

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 18:22 WIB

Dukungan Kader PPP Menguat, Sarif Marhaendi Siap Jadi Wakil Bupati Bekasi

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:19 WIB

Direktur Etos Indonesia: Golkar Harus Bongkar Pola Lama, Jika Mau Hidup di Era Gen Z

Minggu, 18 Oktober 2026 - 06:52 WIB

Yusuf Blegur Skakmat Dedi Mulyadi: Pencitraan Pro Rakyat, Giliran Warga Ciamis Ngeluh Jalan Rusak Malah Ngamuk

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:54 WIB

Analis Politik Sentil Golkar: Citra Hancur Diterpa Korupsi, Kader Bekasi Malah Paksakan Istri Tersangka KPK Jadi Ketua

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:51 WIB

Sidang Gugatan Pelda Satria Nusantara Ditunda, Pengacara Soroti Netralitas Sekretaris Pusat

Berita Terbaru