Pancasila dan Daulat Energi

- Penulis

Selasa, 29 Oktober 2024 - 06:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Yudhie Haryono

Tak ada negara miskin. Yang ada hanya pemerintahan yang memiskinkan rakyatnya. Inilah pameo terbesar yang bisa kita baca dalam kurikulum ilmu politik. Terlebih Indonesia yang sangat kaya sumber daya energi. Baik energi purba, maupun terbarukan: keduanya melimpah ruah.

Tetapi, mengapa rakyat Indonesia belum mendapati energi murah? Mengapa energi kita yang melimpah itu tak membuat rakyatnya makmur dan berdaulat? Mengapa epitema energi kita justru paradok? Mengapa kita belum mandiri dan berdaulat?

Pertama, tentu saja karena kita tak punya big data. Adanya peta data purba yang tak mengalami modernisasi. Kedua, peta jalan ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi tak diperbaharui. Padahal, ketahanan energi adalah terjaminnya ketersediaan energi dengan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi dari sumber dalam negeri.

Selanjutnya, kemandirian energi adalah kemampuan negara memastikan harga murah dan terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan hidup.

Sedangkan kedaulatan energi adalah hak seluruh rakyat, bangsa dan negara untuk menetapkan kebijakan energi yang adil dan beradab tanpa campur tangan negara lain maupun jaringan bisnis global yang rakus dan dominan.

Ketiga, birokrasi bisnis Indonesia lebih banyak mentradidikan kebijakan ekonomi ekstraktif (pemerasan dan anti lingkungan) yang membuat rakyatnya makin miskin, bodoh, timpang dan ilutif. Keempat, lingkaran oligarki rakus yang sangat kuat serta menguasai struktur politik. Kelima, pemerintahan yang lemah pada kaum kaya dan sebaliknya, kejam pada kaum miskin.

Keenam, banjirnya agensi neoliberal di semua struktur negara. Mereka itu para sarjana produk luar dan dalam yang disemai untuk memastikan neokolonial tidak berhenti di mana saja. So, Indonesia harus terus ikut dan beriman pada skema global. Saat bersamaan, mereka memastikan selalu menguasai Indonesia tanpa perang bersenjata, melainkan dengan utang dan krisis yang dibuat berulang.

Baca Juga:  Panglima TNI Harapkan Kasal Baru Segera Ditetapkan

Tentu, mereka kumpulan manusia “kimunajat” (khianat, munafik, bejat) untuk menyempurnakan kehancuran republik pancasila. Mereka menyebar di sembilan lembaga: Partai, Ormas, Kampus, TNI-POLRI, BI/Perbangkan, Bapenas, Kadin, OJK dan Kemenkeu. Agenda pinggirannnya: menghabisi kelas menengah, memperbanyak pemimpin boneka dan mendesain negara swasta.

Melihat berbagai problem di atas, kita harus merekapitalisasi 8 energi yang ada: energi kinetik; energi potensial; energi panas, energi kimia; energi nuklir; energi listrik; energi mekanik dan energi cahaya. Selanjutnya melakukan reindustrialisasi secara serius, fokus, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Tetapi, proses rekapitalisasi dan reindustrialisasi energi ini harus berbasis pada Pancasila karena nilai-nilai Pancasila memiliki makna sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, sumber nilai, dan pedoman hidup dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Terlebih, pancasila juga pandangan hidup, dasar negara dan ajaran yang dipengaruhi oleh kondisi bangsa, alam, potensi, dan cita-cita masyarakat.

Dus, dua proses itu harus berkeadilan sosial, melukiskan hidup berkonsensus, menciptakan persatuan, menghadirkan kemanusiaan abadi, serta berketuhanan yang menyemesta (lestari alam raya).

Singkatnya, kedaulatan energi itu penting bagi kedaulatan negara sepanjang adil bagi semua, seimbang, setara di semua aspek kehidupan. Kita semua harus bersikap adil antarsesama tanpa memandang ras, agama, jabatan, fisik, dan hal lain yang membedakan. Sebab, pada dasarnya manusia yang menghargai dan dihargai baru bisa memahami arti kata adil.

Kedaulatan energi juga harus beradab karena memiliki etika, sopan santun, akhlak serta moral yang baik. Kita hidup berdampingan sehingga harus menerapkan budi pekerti sebagai adab yang utama. Jika setiap kita menerapkan adab yang simultan, akan tercipta lingkungan yang harmonis, peradaban atlantis, negeri pancasilais dan bumi sorgawi.

Penulis: Presidium Forum Negarawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Menlu Iran dan Menlu Inggris Bahas Stabilitas Kawasan Teluk
Puluhan Penumpang Kapal Pesiar Mewah MV Hondius Terinveksi Virus Mematikan
Menaker Nilai BLK Kini Tak Sekadar Tempat Pelatihan, tapi Juga Inkubator Bisnis
Kader Posyandu Harus Dilibatkan dalam Program MBG
Terkait Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur, KAI Mengajak Publik Menunggu Hasil Investigasi Resmi KNKT
Perkuat Ketahanan Energi Nasional, Indonesia Harus Manfaatkan Momentum Kendaraan Listrik
Nama Mantan Jenderal Masuk dalam Surat Dakwaan KPK, Tri Nusa Jakarta Raya: KPK Tak Boleh Gentar
Amnesty International Indonesia Kecam Kasus Kekerasan Seksual di Lingkungan Pesantren
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 07:16 WIB

Menlu Iran dan Menlu Inggris Bahas Stabilitas Kawasan Teluk

Minggu, 10 Mei 2026 - 06:53 WIB

Puluhan Penumpang Kapal Pesiar Mewah MV Hondius Terinveksi Virus Mematikan

Minggu, 10 Mei 2026 - 05:56 WIB

Menaker Nilai BLK Kini Tak Sekadar Tempat Pelatihan, tapi Juga Inkubator Bisnis

Minggu, 10 Mei 2026 - 05:49 WIB

Kader Posyandu Harus Dilibatkan dalam Program MBG

Sabtu, 9 Mei 2026 - 08:13 WIB

Terkait Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur, KAI Mengajak Publik Menunggu Hasil Investigasi Resmi KNKT

Berita Terbaru

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper  (Foto: Ist)

Headline

Menlu Iran dan Menlu Inggris Bahas Stabilitas Kawasan Teluk

Minggu, 10 Mei 2026 - 07:16 WIB

Kader Posyandu tengah memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat (Foto: Istimewa)

Headline

Kader Posyandu Harus Dilibatkan dalam Program MBG

Minggu, 10 Mei 2026 - 05:49 WIB