Pengamat Kritik Feri Amsari, Pernyataan Dinilai Hanya Berdasar Gosip, Bukan Data Kuantitatif

- Editor

Senin, 27 April 2026 - 13:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Mediakarya – Pengamat pertanian dari Aliansi Petani Bersatu, Debi Syahputra, menilai berbagai pernyataan Feri Amsari terkait pangan dan swasembada beras tidak didukung data kuantitatif yang utuh, melainkan sekadar kumpulan gosip yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Semakin keras dia berbicara, semakin terlihat mempermalukan diri sendiri. Sebab yang disampaikan adalah data kumpul gosip, bukan data kumulatif,” ujar Debi, Senin, 27 April 2026.

Debi menegaskan capaian swasembada beras saat ini merupakan hasil kerja keras para petani yang didukung berbagai kebijakan pemerintah. Menurut dia, keberhasilan menjaga ketersediaan pangan nasional tidak bisa dilepaskan dari kontribusi petani yang tetap berproduksi di tengah beragam tantangan.

“Apa yang menjadi kerja keras para petani jangan dibantah lewat data ngawur doang. Kasihan mereka telah bekerja keras,” katanya.

Ia juga menyoroti posisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang disebut telah mencapai sekitar 5 juta ton. Menurut dia, angka tersebut menjadi salah satu capaian tertinggi sepanjang sejarah dan menunjukkan penguatan ketahanan pangan nasional.

Debi merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat produksi beras nasional pada 2025 meningkat 4,07 juta ton menjadi 34,69 juta ton atau naik 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan itu didorong oleh bertambahnya luas panen serta kebijakan penguatan sektor pertanian.

Selain itu, luas panen padi pada 2025 tercatat mencapai 11,32 juta hektare, naik 1,27 juta hektare atau 12,69 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 10,05 juta hektare.

Menurut Debi, peningkatan produksi juga beriringan dengan membaiknya kesejahteraan petani. Ia menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 125,35, tertinggi dalam lebih dari tiga dekade. Sektor pertanian juga disebut tumbuh 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir.

Baca Juga:  Tak Lagi Kesulitan Air, Warga Semanan Kini Nikmati Layanan Dari IPA Portabel PAM JAYA

Tidak hanya bersumber dari dalam negeri, capaian produksi nasional juga mendapat pengakuan dari lembaga internasional yang kredibel. Data United States Department of Agriculture (USDA) menyebutkan produksi beras Indonesia pada musim tanam 2024/2025 mencapai 34,6 juta ton, tertinggi di kawasan ASEAN, melampaui Thailand dan Vietnam.

Sementara itu, Food and Agriculture Organization (FAO) juga memproyeksikan produksi beras Indonesia mencapai 35,6 juta ton pada musim tanam 2025/2026. Proyeksi ini semakin menegaskan bahwa tren produksi nasional berada pada jalur yang kuat dan konsisten.

Menurut Debi, penggunaan data dari lembaga resmi nasional dan internasional tersebut menunjukkan bahwa kondisi pertanian Indonesia dinilai secara objektif dan berbasis metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menilai tudingan bahwa swasembada beras yang dicapai pemerintah merupakan “swasembada palsu” justru melukai perasaan jutaan petani yang selama ini bekerja menjaga pasokan pangan nasional.

“Kalau dikatakan swasembada pemerintah itu palsu, sangat menyakiti jutaan hati petani,” ujarnya.

Debi menambahkan, kritik terhadap sektor pertanian seharusnya dibangun di atas data akurat dan pemahaman terhadap kondisi lapangan. Menurut dia, penilaian mengenai pertanian semestinya juga melihat langsung realitas yang dihadapi petani di sentra-sentra produksi.

“Kalau ingin bicara pertanian, sebaiknya turun ke sawah, melihat dan mendengar langsung keluhan petani,” jelasnya. (hab)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Tata Kelola Tambag Kian Amburadul, GNK Desak Prabowo Pecat Bahlil
Diduga Belum Ada Pelunasan, Pengalihan Saham Pendiri PT ACT Group Berujung Proses Hukum
Ikut Cawe Cawe Muktamar NU, Nusron Wahid Diduga Gelontorkan 180 Miliar
Dirjen Bea Cukai Menghadap Presiden Diperintahkan Berantas Penyelundupan Ilegal
Kritik Dijawab dengan Makian: Cermin Psikologi Kekuasaan yang Tak Sanggup Mendengar
Jadikan Ruang Terbuka Hijau, Pol PP Bongkar Puluhan Bangunan Liar di Puncak
Fahd Dicokok KPK, Loyalis Ranny Fahd Arafiq Galang Dukungan Maju  pada Musda Golkar Kota Bekasi
Pegawai Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Ditampung Agrinas, Qodari : Jadi PKWT BUMN 2 Tahun

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 14:08 WIB

Tata Kelola Tambag Kian Amburadul, GNK Desak Prabowo Pecat Bahlil

Rabu, 23 September 2026 - 12:38 WIB

Diduga Belum Ada Pelunasan, Pengalihan Saham Pendiri PT ACT Group Berujung Proses Hukum

Rabu, 23 September 2026 - 10:55 WIB

Ikut Cawe Cawe Muktamar NU, Nusron Wahid Diduga Gelontorkan 180 Miliar

Rabu, 23 September 2026 - 10:25 WIB

Dirjen Bea Cukai Menghadap Presiden Diperintahkan Berantas Penyelundupan Ilegal

Rabu, 23 September 2026 - 07:50 WIB

Kritik Dijawab dengan Makian: Cermin Psikologi Kekuasaan yang Tak Sanggup Mendengar

Berita Terbaru

Proses penambangan (Foto: Ist)

Ekonomi & Bisnis

Tata Kelola Tambag Kian Amburadul, GNK Desak Prabowo Pecat Bahlil

Rabu, 23 Sep 2026 - 14:08 WIB

Presiden Iran Masoud Pezeshkian

Internasional

Iran Tetap Teguh Melawan Amerika dan Israel di PBB

Rabu, 23 Sep 2026 - 11:23 WIB