Program MBG Cacat dari Lahir, Etos Desak Kejagung Periksa Seluruh Yayasan dan Pemilik Dapur Kolektif

- Editor

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah,

Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah,

JAKARTA, Mediakarya – Direktur eksekutif Etos Indonesia Institute, Iskandarsyah, menilai pemerintah selama ini tidak peka dalam merespon keluhan publik terkait dengan persoalan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari kasus keracunan, jual beli titik dapur, hingga kasus korupsi yang terjadi di Badan Gizi Nasional (BGN).

Iskandar menilai bahwa program MBG cacat dari lahir. Program tersebut sejatinya bukan semata-mata meningkatkan gizi siswa, melainkan sebatas merealisasikan janji kampanye populis yang dipaksakan implementasinya. Sehingga berpotensi dikorupsi. Sebab sejak awal tata kelola hingga perencanaannya sudah bermasalah.

“Sering saya kritisi bahwa program MBG itu cacat dari lahir. Sebab program ini dirancang tanpa kesiapan matang dari sisi rantai pasok (supply chain) petani dan peternak lokal, infrastruktur dapur umum yang belum siap, hingga tidak didasari oleh analisis akar masalah gizi yang mendalam,” ujar Iskandar saat dimintai keterangannya oleh Mediakarya, Rabu (10/6/202).

Akibatnya, muncul sejumlah kasus, seperti alokasi anggaran triliunan rupiah yang lebih menguntungkan vendor atau pejabat tertentu, serta lemahnya pengawasan di akar rumput yang menyebabkan berbagai masalah operasional lapangan.

Iskandar mengungkapkan, sejak berjalannya program MBG, publik dan lembaga konsumen menyoroti banyak temuan kendala di lapangan, mulai dari makanan basi, berjamur, hingga kasus keracunan yang membahayakan penerima manfaat.

“Namun sayangnya meski banyak kritik dari masyarakat terkait dengan MBG dianggap angin lalu. Bahkan Presiden Prabowo justru kerap memuji program tersebut hingga kepala BGN Dadan Hindayana sendiri dianugerahi Bintang Jasa Utama. Setelah kasus korupsi mencuat, presiden malah bungkam dan tak lagi membangga-banggakan program unggulannya itu,” kata Iskandar.

Iskandar mengaku sejak awal program ini disosialisasikan, dirinya sering mengingatkan bahwa program MBG rentan risiko korupsi sistemik. “Nah akhirnya terbukti, kepala BGN dan dua wakilnya ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Agung, menyusul dengan terbongkarnya kasus korupsi tata kelola program dan markup anggaran di BGN.

Lebih lanjut, Iskandar juga mengungkapkan bahwa kasus korupsi dalam program MBG itu bukan hanya penyimpangan anggaran, sejumlah pejabat dan pegawai BGN juga diduga ikut terlibat jual beli titik dapur. Celakanya, dapur-dapur mandiri yang diajukan oleh masyarakat yang tidak berafiliasi dengan yayasan pejabat BGN banyak ditolak dengan berbagai alasan dan argumen.

Baca Juga:  Yayasan dan Mitra yang Berafiliasi dengan Mantan Kepala BGN Bakal Diperiksa Kejagung?

“Bahkan, berdasarkan pengakuan dari sejumlah pemohon, harga satu titik berkisar 200 hingga 300 juta rupiah. Ini sih gila. Bayangkan saja masyarakat yang mau membantu program tersebut secara mandiri malah dimintai uang. Padahal untuk membangun dapur itu sendiri menggunakan uang pribadi pemhon atau mitra dan butuh anggaran hingga 1,5 miliar rupah,” jelasnya.

“Sementara jika dilihat dari perjanjian kerja sama atau PKS antara BGN dengan mitra, pihak mitra berada di posisi yang sangat lemah. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang melakukan tindakan penyimpangan,” imbuhnya.

Iskandar juga mengaku mendapat informsi bahwa banyak dapur yang berafiliasi dengan institusi tertentu. Bahkan partai politik hingga lembaga penegak hukum ikut terlibat menangani dapur. Tidak hanya jual beli titik dapur, banyak pejabat diduga ikut menikmati anggaran MBG melalui yayasan.

“Kami mendengar informasi bahwa yayasan yang diloloskan oleh BGN banyak milik pejabat atau orang penting. Sebab yayasan tersebut juga mendapatkan jatah per porsinya 500 rupiah. Jika dikalikan 3500 porsi sudah banyak untungnya. Itu baru satu dapur, bagaimana jika yayasan itu membawahi 10 dapur. bagaimana publik tidak menuding bahwa program MBG dinarasikan maling berkedok gizi,” tutur Iskandar.

Untuk itu, Iskandar juga mendesak agar Kejagung tidak hanya memeriksa pejabat BGN, namun juga diminta mengusut sejumlah yayasan dan mitra yang diduga ikut serta dalam korupsi anggaran BGN.

“Terutama terhadap pemilik dapur yang lebih dari satu. Dan sejumlah yayasan dan mitra yang berafiliasi dengan pejabat tertentu harus diusut. Ini uang rakyat. Jangan sampai nanti dapur-dapur itu jadi sasaran amukan massa yang kesal terhadap program yang dituding menghambur-hamburkan uang rakyat itu,” pungkasnya.

 

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Pakar Komunikasi Politik Nilai Manuver Dedi Mulyadi: Investasi Menuju 2029, Berpotensi Picu Gejolak di Tubuh Gerindra
IPW: Setelah Gebrakan Radikal Ganti 19 Kapolda, Kini Saatnya Kapolri Suyudi Fokus Benahi Pelayanan Publik
Ekonom INDEF Didik J Rachbini Sebut Sidang MK Buktikan Drama Politik dan Berakhirnya “Shadow Politics” Jokowi
Prabowo Jokowi Makan Malam Bersama Saat Putusan Sidang MK
MK Nyatakan Wapres Gibran Tidak Miliki Ijazah Setara SMA Luar Negeri
PPI Siap Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pihak-pihak yang Fitnah Kapolri Suyudi Ario Seto
Amnesty International Kecam Kekerasan Terhadap Fungsionaris BEM UI, Desak Kapolri Usut Tuntas
Haidar Alwi: Legacy Listyo Sigit Jadi Fondasi Strategis Akselerasi Kepemimpinan Suyudi Ario Seto

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:20 WIB

Pakar Komunikasi Politik Nilai Manuver Dedi Mulyadi: Investasi Menuju 2029, Berpotensi Picu Gejolak di Tubuh Gerindra

Rabu, 7 Oktober 2026 - 05:01 WIB

IPW: Setelah Gebrakan Radikal Ganti 19 Kapolda, Kini Saatnya Kapolri Suyudi Fokus Benahi Pelayanan Publik

Rabu, 7 Oktober 2026 - 04:54 WIB

Ekonom INDEF Didik J Rachbini Sebut Sidang MK Buktikan Drama Politik dan Berakhirnya “Shadow Politics” Jokowi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 01:56 WIB

Prabowo Jokowi Makan Malam Bersama Saat Putusan Sidang MK

Rabu, 7 Oktober 2026 - 01:36 WIB

MK Nyatakan Wapres Gibran Tidak Miliki Ijazah Setara SMA Luar Negeri

Berita Terbaru