JAKARTA, Mediakarya – Sorotan tajam Media Singapura terhadap tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia dengan narasi “Sell Indonesia” mendapat reaksi keras dari Korps Alumni KNPI Jakarta Timur.
Ketua Korps Alumni KNPI Jakarta Timur Amos Hutauruk kecewa dengan sorotan Media Singapura terkait pelemahan rupiah yang terjadi saat ini.
“Karena Rupiah adalah mata uang kebanggan Rakyat Indonesia. Media Singapura terkesan sedang ‘mentertawakan’ kondisi yang terjadi saat ini,” ujar Amos saat berbincang dengan wartawan, Rabu (10/6).
Menurut Amos narasi “Sell Indonesia” yang disorot Media Singapura sungguh menyakitkan. Amos pun meminta pihak Singapura untuk intropeksi diri.
“Singapura harus intropeksi diri. Karena Singapura banyak tergantung kepada Pemerintah Indonesia,” ujarnya berapi-api.
Menurut Amos karena keterbatasan wilayah dan ketiadaan sumber daya alam di negara singapura, maka Indonesia berbaik hati dijadikan sebagai pilar utama untuk pasokan energi, ketahanan pangan, komoditas industri, tenaga kerja, serta pasar investasi, untuk singapura.
“Singapura bergantung terutama dalam pasokan Energi dan Listrik Bersih dari indonesia,” ujarnya lagi.
Selain itu lanjut Amos Singapura juga bergantung pada aliran gas alam dari Indonesia (seperti dari Blok Natuna dan Sumatra) untuk menggerakkan pembangkit listriknya.
“Bila terjadi gangguan pada pipa gas dari Indonesia, maka akan memicu ancaman krisis listrik di Singapura, yang akhirnya kota indah tersebut akan gelap gulita,” bebernya.
Kata Amos begitu juga dengan Ketahanan Pangan (Agribisnis) Sayur, Buah, dan Hewan Ternak untuk singapura. Karena tidak memiliki lahan pertanian, Singapura mengimpor berbagai kebutuhan pangan dari Indonesia.
“Salah satu contoh konkretnya adalah pasokan ayam hidup, sayur-mayur, dan babi hidup dari Pulau Bulan (Batam) untuk konsumsi isi perut warga Singapura,” ungkapnya.
Tak tanggung-tanggung Amos mendesak Presiden Prabowo Subianto memutus semua kontrak kerja terhadap singapura, dan mengambil semua aset yang ada di Singapura.
“Serta mempertimbangkan kembali kerjasama bilateral yang pernah di tandatangani Presiden Indonesia terdahulu,” tegasnya. (dri)










