KOTA BEKASI, Mediakarya – Wali Kota Bekasi belum lama ini melakukan peneguran kepada Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berada di area Plaza Patriot Chandrabaga. Namun, cara menegurnya menjadi sorotan, karena dinilai arogan.
Pakar Komunikasi dan Kebijakan Publik Adi Suparto menilai untuk gaya komunikasi politik yang dilakukan oleh Wali Kota Bekasi Tri Adhianto saat menegur pedagang kaki lima (PKL), di Taman Plaza Patriot Chandrabhaga, pada Sabtu (21/08) Malam, lantaran berjualan tidak sesuai peruntukan, dianggap tidak mencerminkan sebagai Kepala Daerah.
Ia menyebut, jika Pemimpin Daerah harus menjadi suri teladan bagi rakyat, apabila ada cara persuasif yang lebih elok, mengapa harus menggunakan nada tinggi dan hingga terjadi adu mulut kepada para pedagang.
“Ya, saya lebih setuju pemimpin itu harus menjadi teladan bagi rakyatnya. Kalau masih ada cara yang lebih baik, kenapa tidak itu saja yang digunakan,” ucap dia saat dihubungi bersama awak media, Senin (24/08/2026).
Menurutnya, gaya kepemimpinan Kepala Daerah arogan itu sudah bukan lagi pada zamannya seperti sekarang ini, dikarenakan rakyat tidak hanya sekadar cerdas, tetapi mereka juga telah berani melawan.
“Jangan disalahkan, dan ini jangan dianggap kalimat provokatif. jangan salahkan nanti kalau rakyatnya melawan. Rakyat ini sudah cukup menderita,” jelasnya.
Ia berujar, jangan sampai niat baik yang diinginkan oleh Kepala Daerah, justru menjadi Boomerang bagi dirinya sendiri, hingga pada akhirnya rakyat melawan dan memberontak atas maksud melalui tujuan baik.
“Fenomena ini terjadi di mana-mana ketika seorang pemimpin telah melampaui kewenangannya. Tidak ada satu pun dalam undang-undang yang membenarkan seorang pemimpin mau Bupati, mau Walikota menghinakan anak buahnya atau rakyatnya,” imbuhnya.
Adi menyebut, kerap kali demo bermunculan secara internal dari dalam, walaupun akhirnya bisa diredam. Tetapi, jika rakyat sudah bergerak, tidak akan bisa dihalangi.
“Karena mereka memegang prinsip tidak takut mati. Ini jangan dilawan. Saya ingin mengingatkan bahwa pemimpin itu harus berangkat dari kesadaran. Jangan sampai menjadi pemimpin hanya karena banyak uang,” imbuhnya.
Atas dasar itu, dirinya mengingatkan kepada Wali Kota Bekasi Tri Adhianto agar kejadian serupa menjadi refleksi diri agar Kepala Daerah tidak bersikap arogan atau menyalahgunakan kewenangan, dan perlunya kesadaran diri.
“Secara garis besarnya begitu. Ini menjadi pengingat keras atas penyalahgunaan wewenang (abuse of power). Kesimpulannya, ini terjadi karena ketidaksiapan mental dan tidak adanya integritas pemimpin. Perbanyak membaca buku-buku leadership. Leadership yang baik adalah kepemimpinan yang menanamkan nilai serta moral,” pungkasnya.(Red)










