JAKARTA, Mediakarya – Mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku pernah dikritik keras bahkan didemo besar-besaran saat menjabat sebagai gubernur.
Namun, Ganjar mengaku tidak marah dan justru menjadikannya sebagai bahan evaluasi pemerintahan.
“Apakah jadi marah dengan pengkritik? Meski marah itu manusiawi, namun sejatinya pemimpin tidak boleh marah dengan warganya,” kata Ganjar seperti dikutip dari akun media sosialnya, Kamis (22/10/2026).
Ganjar beranggapan jabatannya adalah hasil dari mandat rakyat. Rakyat lah yang boleh marah kalau pemimpinnya tidak sesuai harapan. Sehingga kritikan atau kemarahan rakyat adalah konsekuensi logis dari mandat tersebut.
Sikap berbeda ditunjukkan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM).
Mantan Bupati Purwakarta itu marah karena rombongannya dicegat dan dibelokkan secara sengaja ke jalan rusak di Desa Cintajaya, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis.
KDM merasa tidak dihargai sebagai tamu karena rute kendaraannya dibelokkan mendadak tanpa komunikasi, padahal ia sedang terburu-buru menghadiri agenda lain dan waktu istirahatnya terganggu.
KDM berdalih bahwa ruas jalan tersebut berstatus sebagai jalan kabupaten, dialihkan dari jalan desa sejak 2023, sehingga tanggung jawab perbaikannya berada di tangan Pemerintah Kabupaten Ciamis, bukan Pemerintah Provinsi. Ia pun menyarankan warga protes langsung ke kantor bupati.
Atas sikap arogansi yang dilakukannya terhadap warga, dan setelah videonya viral, KDM akhirnya minta maaf lewat akun media sosialnya. Guna memperbaiki citranya, KDM kemudian mengundang warga Desa Cintajaya untuk berdialog.
Diketahui, jalan di Desa Cintajaya sudah rusak sejak 2012. Berdasarkan kalkulasi Dinas PU, kebutuhan anggaran perbaikan jalan kabupaten di sana mencapai Rp11 miliar dan jalan desa sekitar Rp5 miliar, total Rp16 miliar.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemkab Ciamis kini menyiapkan rencana kolaborasi serta pengalokasian anggaran perbaikan jalan pada APBD 2027, termasuk dukungan armada mobil cor beton. (Adt)











