Dari Pemkot Hingga RSUD: Mengapa Pejabat Bekasi Kompak Bungkam Saat Diminta Transparansi?

- Editor

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komplek Pemkot Bekasi.  (Ist)

Komplek Pemkot Bekasi. (Ist)

KOTA BEKASI, Mediakarya – Budaya bungkam di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi kian akut dan menjalar hingga ke jantung pelayanan publik vital. Jika sebelumnya pejabat Pemkot disorot abai terhadap tuntutan publik, kini sorotan paling tajam mengarah kepada Direktur Utama (Dirut) RSUD Kota Bekasi.

Direktur Eksekutif Etos Indonesia Institute, Iskandarsyah, mengecam keras sikap pejabat Kota Bekasi yang dinilai memelihara tradisi anti-kritik dan alergi transparansi.

“Etos Indonesia Institute menyayangkan sikap pejabat Kota Bekasi yang dinilai abai terhadap tuntutan publik terkait dengan pelayanan dan informasi seputar kebijakan pemerintah daerah,” tegas Iskandarsyah kepada Mediakarya di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Menurutnya, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) seolah mati suri di Kota Patriot.

“UU terkait dengan keterbukaan publik seolah tidak dijadikan sandaran dalam merespon publik dalam menjawab segala persoalan yang buntu,” kritiknya.

Dirut RSUD Paling Anti-Kritik

Fakta di lapangan, kata Iskandar, lebih buruk. Beberapa pejabat yang dikonfirmasi cenderung bungkam dan menghindari wartawan. Bahkan Humas Pemkot yang diharapkan menjadi sumber informasi satu pintu pun tak berdaya.

Puncaknya, ada di RSUD Kota Bekasi. Sang Dirut yang memimpin Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) paling vital itu dikenal paling tidak responsif di kalangan jurnalis.

Saat dimintai tanggapan resmi oleh wartawan terkait dua polemik panas di internal rumah sakit, yakni isu pemotongan remunerasi tenaga kesehatan dan dugaan intimidasi terhadap pegawai, Dirut tersebut memilih bungkam seribu bahasa.

Tidak ada klarifikasi, tidak ada penjelasan, tidak ada bantahan. Padahal, remunerasi adalah hak vital nakes yang menjadi ujung tombak pelayanan, sementara dugaan intimidasi menyangkut iklim kerja dan keselamatan pasien.

Baca Juga:  Terus Bergulir, KPK Periksa Dirut RSUD Kota Bekasi

“Beberapa pejabat yang sempat dikonfirmasi terkait dengan layanan Pemkot Bekasi cenderung bungkam. Keberadaan humas yang diharapkan jadi sumber informasi satu pintu pun tidak bisa berbuat banyak,” ujar Iskandar.

Ketika Rumah Sakit Dijalankan dengan Budaya Bungkam

Secara analitik, sikap Dirut RSUD ini sangat berbahaya. RSUD bukan kantor administratif biasa. Ia adalah institusi pelayanan hidup dan mati yang dibiayai APBD dan uang rakyat.

Jika pucuk pimpinannya saja memilih bungkam saat ditanya soal hak kesejahteraan nakes dan dugaan intimidasi, maka ada dua kemungkinan analitis:

Pertama, ada sesuatu yang sengaja ditutupi. Pemotongan remunerasi yang tidak transparan berpotensi menjadi preseden buruk tata kelola BLUD.

Kedua, krisis kepemimpinan komunikatif. Seorang Dirut yang tidak mampu menjawab kritik publik menunjukkan kegagalan memahami esensi jabatan publik yang terikat sumpah jabatan.

“Pejabat diikat dengan sumpah jabatan, kemudian memberikan layanan terbaik terhadap masyarakat. Di antaranya memberikan informasi yang transparan dan akuntabel terhadap pertanyaan publik,” tegas Iskandar.

Jika di internal saja nakes merasa terintimidasi dan haknya dipotong tanpa kejelasan, bagaimana mungkin publik bisa berharap mendapat pelayanan yang humanis dan profesional?

Desakan Evaluasi Wali Kota

Atas rentetan kebungkaman ini, publik kini mendesak Wali Kota Bekasi untuk tidak lagi tutup mata.

Etos Indonesia Institute menilai Wali Kota harus segera melakukan evaluasi total terhadap kinerja Dirut RSUD Kota Bekasi. Membiarkan Dirut yang alergi wartawan dan abai terhadap transparansi sama saja membiarkan bom waktu meledak di sektor kesehatan.

Jika Pemkot terus memelihara budaya bungkam, maka kepercayaan publik tidak hanya runtuh, tetapi nyawa pelayanan publik di Bekasi sedang dipertaruhkan. (Ugy)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Direktur Program PKSD UI Sentil Dirut RSUD CAM Bekasi: Berhenti Berlagak Pemilik Saham Tunggal
Komisi IV DPRD Bekasi: Tak Dibenarkan Dirut RSUD CAM Potong Remunerasi dan Intimidasi Karyawan
Tata Kelola RSUD CAM Kota Bekasi Disorot, Pegawai Mengeluh Tekanan Kerja Hingga Dugaan Pemotongan Remunerasi
Danramil Taman Sari Datangi SMAN 17 Jakarta, Siswa Diimbau Hindari Tawuran dan Bullying
NCW Tuding Wali Kota Bekasi Bohongi Publik Soal BEP PT Migas, Kejagung Justru Bongkar Korupsi Rp2 Triliun
Ketua Kadin Kota Bekasi Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Ekspor
Kelangkaan BBM Di Bali, Warga Kota Bekasi Khawatir
GMNI Kota Bekasi Miris, Loker Fiktif Belum Ada Perhatian Serius

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:36 WIB

Dari Pemkot Hingga RSUD: Mengapa Pejabat Bekasi Kompak Bungkam Saat Diminta Transparansi?

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:13 WIB

Direktur Program PKSD UI Sentil Dirut RSUD CAM Bekasi: Berhenti Berlagak Pemilik Saham Tunggal

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:02 WIB

Komisi IV DPRD Bekasi: Tak Dibenarkan Dirut RSUD CAM Potong Remunerasi dan Intimidasi Karyawan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:38 WIB

Tata Kelola RSUD CAM Kota Bekasi Disorot, Pegawai Mengeluh Tekanan Kerja Hingga Dugaan Pemotongan Remunerasi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:23 WIB

Danramil Taman Sari Datangi SMAN 17 Jakarta, Siswa Diimbau Hindari Tawuran dan Bullying

Berita Terbaru