Dapur MBG Bermasalah, Guru dan Wartawan Jadi Pihak Tertuduh

- Editor

Kamis, 17 September 2026 - 18:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDUNG, Mediakarya – Di atas kertas, deretan piring aluminium berisi makan siang tersusun rapi, menjanjikan gizi bagi anak-anak bangsa. Namun di lapangan, aroma yang menguar dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap kali menyisakan kecemasan alih-alih kelegaan.

Alih-alih melakukan introspeksi mendalam atas carut marut pelaksanaan program, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, justru melempar pernyataan yang memantik bara.

Dalam sebuah rekaman rapat yang belakangan viral, ia berdalih bahwa program MBG secara struktural tidak bermasalah.

Polemik yang telanjur membesar di ruang publik, menurutnya, justru digerakkan oleh faktor ideologis-politis yang disulut oleh para guru, orang tua siswa, wartawan, hingga lembaga swadaya masyarakat.

Pernyataan ini kontan menuai reaksi keras dari berbagai kalangan. Pengamat kebijakan publik, akademisi, hingga para penggiat sosial menilai narasi tersebut sebagai bentuk pengingkaran realitas yang memperkeruh eskalasi konflik di tengah masyarakat.

Menanggapi sikap lempar batu sembunyi tangan tersebut, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Swadaya Masyarakat Pemuda Mandiri Peduli Rakyat Indonesia (LSM PMPR I), Rohimat yang akrab disapa Kang Joker, melayangkan kritik pedas bernada satir dengan gaya bahasa jalanan yang lugas dan blak-blakan.

Sebagai figur aktivis yang kerap vokal menyoroti kebijakan publik, ia menilai menyalahkan guru dan orang tua murid adalah puncak dari ketidakpekaan pejabat negara terhadap perut anak-anak yang terancam.

“Sudaryono jangan asal mangap berbicara program aman sentosa dari balik meja empuk ber AC!. Coba turun ke bawah, lihat langsung realitanya. Guru-guru di sekolah itu ketar-ketir setiap kali kotak makanan dibuka karena takut anak didiknya tumbang keracunan. Kok tega-teganya, yang siaga di garda depan malah dituduh main politik. Jika makanan itu bersih dan bermutu, mustahil orang tua berteriak ngamuk, dan mustahil ribuan dapur ditutup,” kata Kang Joker dalam keterangan tertulisnya yang diterima Mediakarya di Bandung, Kamis (17/9/2026).

Baca Juga:  Kejakgung Klaim Sita 650 Dokumen Bukti Dugaan Korupsi Ekspor Minyak Goreng

Kang Joker juga menyoroti bagaimana logika birokrasi kerap terbalik, di mana alih-alih membenahi sistem dapur dan rantai pasok yang amburadul, pihak berwenang justru sibuk mencari kambing hitam di luar lingkaran kekuasaan demi cuci tangan.

“Klaim pihak BGN yang meyebut bahwa MBG baik-baik saja itu seketika runtuh jika dihadapkan pada rentetan fakta di lapangan. Berbagai catatan insiden membuktikan bahwa persoalan teknis, higienitas, hingga tata kelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi berada dalam kondisi darurat,” tegas Kang Joker.

Sebelumnya kata Kang Joker, sejumlah wilayah sempat diguncang kasus gawat darurat ketika puluhan hingga ratusan siswa terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan akibat mengalami gejala keracunan pasca menyantap menu MBG, yang penanganannya di lapangan sering kali terkesan lamban dan defensif.

“Ironisnya, di tengah klaim program tanpa cela, BGN sendiri sejatinya telah mengambil langkah darurat dengan menangguhkan hingga menutup hampir dua ribu dapur penyedia makanan lantaran terbukti tidak memenuhi standar kelayakan higienitas atau belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi,” ujar Kang Joker.

Selain masalah kesehatan, beban moral yang berat juga dilemparkan kepada para guru di sekolah untuk mencicipi dan memastikan makanan tersebut aman secara mandiri tanpa infrastruktur pengawasan yang memadai.

“Kritik tajam yang dilayangkan oleh pers, aktivis LSM, dan masyarakat sipil bukanlah manifestasi dari sentimen politik atau desas-desus ideologis, melainkan sebuah alarm darurat atas keselamatan generasi penerus bangsa,” tegasnya.

Kaang Joker menilai, ketika dapur-dapur penyedia makanan massal beroperasi tanpa standar higienitas yang ketat, dan pejabat publik lebih memilih menyalahkan pembawa pesan daripada memperbaiki sistem.

“Dalam kasus keracunan MBG tersebut, maka yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar citra sebuah program pemerintah, melainkan nyawa anak-anak di ruang-ruang kelas Indonesia,” pungkasnya.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Cakupan Air Perpipaan Tembus 83 Persen, Jakarta Mulai Kendalikan Penurunan Tanah
Kelas Barista Hingga Manajemen Digital, Cara Al Hikmah 2 Benda Cetak Santripreneur Lewat Ben Ngopi
Dua Pekan Penentu: Agus Wahid Sebut Solusi Kenegaraan Ada di Tangan Prabowo
Politisi PDIP Semprot Mendagri dan Kepala BGN: Jangan Main Ancam Pemda Soal Satgas MBG, Ini Pemerasan Administrasi
MA Putuskan: Suket Penyetaraan SMA Gibran Tidak Sah. Catatan Hukum & Langkah ke Depan
MA Batalkan Suket Pendidikan Gibran, Denny Indrayana Syarat Wapres Tak Terpenuhi
Pengamat Ekonomi: Kasus Oplos Beras SPHP Bukan Soal 600 Ton, Tapi Soal Bobolnya Rantai Subsidi Negara
Bola Panas Dumas Pajak PT BCI di Banyuwangi Kini di Tangan Dirjen Pajak: Sudah Diterima Tiga Pintu, Tinggal Ditelaah

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:49 WIB

Cakupan Air Perpipaan Tembus 83 Persen, Jakarta Mulai Kendalikan Penurunan Tanah

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:54 WIB

Kelas Barista Hingga Manajemen Digital, Cara Al Hikmah 2 Benda Cetak Santripreneur Lewat Ben Ngopi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:52 WIB

Dua Pekan Penentu: Agus Wahid Sebut Solusi Kenegaraan Ada di Tangan Prabowo

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:25 WIB

Politisi PDIP Semprot Mendagri dan Kepala BGN: Jangan Main Ancam Pemda Soal Satgas MBG, Ini Pemerasan Administrasi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:48 WIB

MA Putuskan: Suket Penyetaraan SMA Gibran Tidak Sah. Catatan Hukum & Langkah ke Depan

Berita Terbaru

Anggota DPR RI Fraksi PKS, Tifatul Sembiring (ist)

Hukum

Politisi PKS Desak Kapolri Copot Kapolda Jateng

Minggu, 1 Nov 2026 - 18:22 WIB