Demi Bongkar Kasus Besar Hoegeng Rela Menyamar Jadi Orang Gila, Apa Kabar Dengan Para Jenderal Polri Saat Ini?

- Editor

Sabtu, 18 Januari 2025 - 09:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jenderal Hoegeng (Foto:Ist)

Jenderal Hoegeng (Foto:Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Di tengah keterpurukan citra Kepolisian Republik Indonesia (Polri) ternyata Korps Bhayangkara itu pernah memiliki sosok jenderal yang patut diteladani dan namanya masih harum di masyarakat.

Dialah sosok Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso. Bahkan dalam fase penugasannya ia rela menyamar seperti orang gila demi bongkar kasus besar.

Jenderal Hobi Nyamar

Seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Hoegeng Imam Santoso tercatat dalam sejarah sebagai Kapolri periode 1968-1971. Sekalipun sudah menjadi orang nomor satu dengan sederet bintang, dia tetap melakukan tugas-tugas yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh bawahannya, yakni penyamaran.

Sekitar 1970-an, kasus narkoba di Jakarta sedang meningkat. Banyak anak muda terjerat barang haram itu. Masyarakat pun sudah resah. Apalagi peredaran narkoba di akar rumput sering berganti rupa dan mudah diperoleh. Para pedagang asongan pun bisa menjual narkoba dalam bentuk berbeda yang sulit dideteksi.

Di tengah kondisi demikian, Hoegeng mencetuskan ide penyamaran demi membongkar kasus besar ini. Dalam autobiografi berjudul Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa (2014) diceritakan, pria kelahiran 14 Oktober 1921 itu langsung berkoordinasi dengan anak buah dan diminta untuk menyamar berdandan seperti anak muda 1970-an.

“Maka, saya pakai wig gondrong, kemeja bunga-bunga, syal di leher, pokoknya seperti orang gila,” tutur Hoegeng.

Setelahnya, Hoegeng berjalan ke berbagai tempat selama penyamaran. Dari sini dia berinteraksi dengan anak muda penghisap narkoba yang ternyata banyak berasal dari kalangan elit.

Ternyata, usai ditelusuri lebih jauh, mereka melakukan hal di luar norma itu karena depresi. Tekanan kuat di lingkungan, baik itu rumah, pekerjaan, atau sekolah, membuat mereka depresi, sehingga melarikan diri ke penggunaan narkoba.

Pada titik ini satu benang merah dari kasus besar pun bisa terungkap. Selama proses penyamaran, Hoegeng melakukan seorang diri. Tak ada satupun publik tahu ada Kapolri sedang menyamar bak orang gila.

Baca Juga:  Anggota DPR Usulkan Integrasi Pengawas Lembaga Penegak Hukum

Hoegeng menganggap ‘turun gunung’-nya ke lapangan sebagai bentuk mengetahui kondisi, sekalipun sudah menyandang pangkat jenderal bintang empat.

“Saat sudah menjadi Kapolri, misalnya, saya masih suka menyamar untuk memonitor situasi,” kata Hoegeng dalam Hoegeng: Polisi Idaman dan Kenyataan (1993).

Bagi pria asal Pekalongan ini, menyamar bukan sesuatu yang asing. Sejak masih berpangkat rendah, Hoegeng memang sudah melakukan hal tersebut. Pernah dia berpura-pura jadi pelayan demi memperoleh informasi soal gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia tahun 1948.

Kala itu, Hoegeng ditugaskan Kapolri Raden Said Soekanto menyamar menjadi pelayan restoran. Setelahnya dia ditempatkan sebagai pelayan di Restoran Pinokio di Yogyakarta. Kebetulan, restoran tersebut dekat rumah pribadi Hoegeng dan menjadi sentra berkumpulnya banyak orang lintas kebangsaan dan profesi.

Seperti sudah diduga, Hoegeng mudah memperoleh informasi. Ketika mengantar pesanan, dia selalu mendapat informasi dari penduduk, pedagang, hingga tentara Belanda. Seluruh informasi lantas diteruskan kepada pimpinan guna dipakai untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hoegeng pun dapat apresiasi.

Singkatan, Ini Kepanjangannya

Hobi penyamaran sebenarnya hanya satu dari sekian banyak teladan yang ditampilkan jenderal polisi tersebut. Sejarah mencatat, dia menjadi polisi jujur dan langka sebab anti-suap di tengah korupsi merajalela. Meski begitu Hoegeng sendiri dicopot sebagai Kapolri pada 1971. Setelah pensiun, dia hidup sederhana hingga wafat pada 14 Juli 2004.

Meski sudah tiada, nama Hoegeng tetap harum sebagai polisi teladan. Banyak orang masih dan akan selama-lamanya mencari Hoegeng-Hoegeng yang baru demi mewujudkan polisi yang mengayomi dan melayani publik.**

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Ketika Republik Makin Lupa Warisan Konstitusi
Indonesia Perlu Perkuat Deteksi Dini Kebakaran Hutan dan Lahan, Teknologi Satelit dan Analitik Data Jadi Kunci
GEMAKU Bogor: KPK Jangan Berhenti di Tengah Jalan
Kasus OTT Rektor Unsoed: Pemerintah Diminta Segera Lakukan Transformasi dan Audit Investigasi Jalur Mandiri PMB-PTN
Kiprah Jenderal Listyo Sigit tak Diragukan, GNK Ajak Masyarakat Objektif dalam Menilai Kinerja Kapolri
Kasus OTT Rektor Unsoed: Ketika Landasan Kompetensi Mahasiswa Dijadikan Ajang Transaksi
Kapolri: Menitipkan Pesan Sebelum Berpisah
Ditipu Hingga Puluhan Miliar, Jemaah Korban Hanania Travel Minta Negara Hadir Lindungi Rakyatnya

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:28 WIB

Ketika Republik Makin Lupa Warisan Konstitusi

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:24 WIB

Indonesia Perlu Perkuat Deteksi Dini Kebakaran Hutan dan Lahan, Teknologi Satelit dan Analitik Data Jadi Kunci

Minggu, 23 Agustus 2026 - 12:55 WIB

GEMAKU Bogor: KPK Jangan Berhenti di Tengah Jalan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:24 WIB

Kasus OTT Rektor Unsoed: Pemerintah Diminta Segera Lakukan Transformasi dan Audit Investigasi Jalur Mandiri PMB-PTN

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 22:56 WIB

Kiprah Jenderal Listyo Sigit tak Diragukan, GNK Ajak Masyarakat Objektif dalam Menilai Kinerja Kapolri

Berita Terbaru

Prof. Dr. Yudhie Haryono

Headline

Ketika Republik Makin Lupa Warisan Konstitusi

Selasa, 25 Agu 2026 - 08:28 WIB