KOTA BEKASI, Mediakarya – Mantan Ketua PMII Jakarta Pusat, Denny Iskandar menyoroti soal empat nama calon Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bekasi yang diumumkan, namun tidak satu pun putra asli daerah. Fakta ini dinilai memunculkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat Bekasi.
Menurut Denny, persoalan ini bukan karena Bekasi kekurangan SDM atau tidak memenuhi syarat. Ia menduga ada faktor lain.
“Menurutnya, Bekasi kekurangan SDM, atau tidak terpenuhinya syarat, namun demikian persoalan ini diduga lantaran Tri Adhianto lebih mendorong keluarganya dan orang dekatnya sebagai Sekda,” ujar Denny dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026).
Denny menilai, ini bukan pertama kalinya Kota Bekasi berganti kepala daerah. Tetapi baru pada periode ini, putra Bekasi seperti tidak mendapatkan tempat di panggung kebijakan.
Terakhir ada Junaedi. Putra asli Bekasi yang masa jabatannya sebagai Sekda akan berakhir pada Oktober 2026.
“Padahal nama putra daerah bukan cuma Junaedi. Ada Kusnanto Saidi, Nadih, Nesan dan masih banyak lainnya yang masih aktif. Mereka tumbuh, bekerja dan memahami Bekasi dari dekat,” ungkap Denny.
Mereka, kata Denny, tahu bagaimana Bekasi dulu. Bukan Bekasi yang hanya dilihat dari gedung tinggi, jalan raya dan kawasan industri.
“Mereka tahu kampungnya. Tahu encang-encingnya. Tahu sejarahnya. Bahkan tahu bagaimana anak Bekasi dulu disunat di tempat almarhum Haji Ilyas Cikunir. Sebelum disunat, dimandikan di sumur dengan air dingin. Tidak ada infus. Tidak ada alat modern. Pisau menjadi senjatanya,” ungkapnya.
“Bagi orang luar mungkin iya. Bagi orang Bekasi, itu bagian dari ingatan. Dan justru ingatan semacam itulah yang membuat seorang putra daerah punya rasa memiliki terhadap kampungnya,” imbuh dia.
Denny menegaskan, menjadi pejabat bukan berarti harus orang Bekasi. Tentu tidak. Tetapi kalau semua ruang strategis perlahan diisi orang dari luar, lalu kapan anak-anak Bekasi mendapat kesempatan menentukan arah rumahnya sendiri?
“Ini bukan soal sentimen daerah. Ini soal keseimbangan. Bekasi membutuhkan orang yang mengerti bagaimana kampung ini tumbuh. Mengerti luka lamanya. Mengerti kebiasaan warganya. Dan tahu ke mana pembangunan seharusnya diarahkan,” tegasnya.
Denny menilai putra Bekasi mulai kehilangan ruang dalam kebijakan, mungkin sudah waktunya orang Bekasi kembali duduk bersama.
“Bukan untuk melawan siapa-siapa. Tapi untuk memastikan satu hal, jangan sampai di tanah sendiri, orang Bekasi hanya menjadi penonton,” pungkasnya. (Mam)










