GNK Soroti Komposisi Wantimpres, Singgung Gaya Komunikasi Rocky Gerung

- Editor

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prosesi pelantikan Wantimpres di Istana Negara (Foto: Istimewa)

Prosesi pelantikan Wantimpres di Istana Negara (Foto: Istimewa)

JAKARTA, Mediakarya – Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid, menanggapi pelantikan sejumlah tokoh sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Habib Syakur menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas pelantikan tersebut, namun menyoroti komposisi Wantimpres yang menurutnya idealnya diisi oleh tokoh agama, tokoh budaya, dan tokoh pemersatu bangsa.

“Kita apresiasi kepada Presiden atas dilantiknya sejumlah Wantimpres. Tapi seharusnya Dewan Pertimbangan Presiden itu terdiri dari tokoh agama, tokoh budaya, dan tokoh pemersatu bangsa,” ujar Habib Syakur kepada Mediakarya di Jakarta, Sabtu (3/10/2026).

Ia menyebut kehadiran ulama seperti Prof. Dr. Quraish Shihab dan Sinta Nuriyah Wahid sebagai figur yang dinilai memiliki kapasitas keilmuan dan ketokohan di bidang keagamaan dan kebangsaan.

Dalam pernyataannya, Habib Syakur juga melontarkan kritik terhadap salah satu anggota Wantimpres yang baru dilantik, Rocky Gerung.

Ia menilai gaya komunikasi Rocky selama ini kerap menimbulkan kontroversi di ruang publik.

Baca Juga:  Lestari: Langkah Antisipasi Dampak Krisis Global Harus Dipercepat

“Jangan berharap kebaikan, justru kami menilai bahwa pemerintahan Prabowo akan mendapat stigma negatif menyusul dengan kebijakannya yang mengangkat seorang Rocky Gerung menjadi Wantimpres,” ucapnya.

Menurut Habib Syakur, pernyataan seorang akademisi dan figur publik memiliki pengaruh terhadap opini masyarakat. Karena itu, ia menilai Wantimpres perlu diisi oleh sosok yang mampu menjaga narasi kebangsaan.

“Padahal ketika seorang ahli atau figur publik berbicara di ruang umum, ucapan mereka memiliki kekuatan untuk memengaruhi opini masyarakat.

Oleh karena itu, menjaga lisan dari kalimat yang bersifat provokatif, fitnah, atau ujaran kebencian bukan sekadar masalah moral, melainkan juga kepatuhan terhadap hukum,” katanya.

Ia juga menyinggung nama Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat dalam konteks kritik terhadap figur yang dinilainya kerap melontarkan pernyataan menyerang pemerintah.  (Ugy)

 

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Mantan WK MPO Golkar Jabar: Duet Bahlil-Sarmuji Bawa Golkar Naik Kelas
Etos Indonesia Desak DPP Golkar Cabut Surat Diskresi Ranny Fahd Arafiq: Istri Koruptor Hattrick Ancam Elektoral Partai
Pakar Komunikasi Politik: Suara Kritis Dibungkam, Demokrasi Berhenti Bernapas
Jelang Musda, Kader Senior Golkar Kota Bekasi Adi Yunsyah Imbau Kader Hilangkan Egosentris
Analis IPPS: Polemik Musda Golkar Kota Bekasi Tak Produktif, Perlu Calon Kuda Hitam Redam Konflik
Halangi Tugas Pejabat Ombudsman RI Saat Sidak, Pegawai Lapas Cibinong Terancam Dipidana
Ichsanuddin Noorsy: Krisis Legitimasi Adalah Krisis Kepercayaan, Harus Dicegah Jadi Disintegrasi
GNK: Kebesaran NU Dibangun dari Kedekatan dengan Umat, Bukan Penguasa

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:51 WIB

GNK Soroti Komposisi Wantimpres, Singgung Gaya Komunikasi Rocky Gerung

Jumat, 2 Oktober 2026 - 09:49 WIB

Mantan WK MPO Golkar Jabar: Duet Bahlil-Sarmuji Bawa Golkar Naik Kelas

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:45 WIB

Etos Indonesia Desak DPP Golkar Cabut Surat Diskresi Ranny Fahd Arafiq: Istri Koruptor Hattrick Ancam Elektoral Partai

Kamis, 1 Oktober 2026 - 03:40 WIB

Pakar Komunikasi Politik: Suara Kritis Dibungkam, Demokrasi Berhenti Bernapas

Rabu, 30 September 2026 - 19:18 WIB

Jelang Musda, Kader Senior Golkar Kota Bekasi Adi Yunsyah Imbau Kader Hilangkan Egosentris

Berita Terbaru