JAKARTA, Mediakarya – Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid, menanggapi pelantikan sejumlah tokoh sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Habib Syakur menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas pelantikan tersebut, namun menyoroti komposisi Wantimpres yang menurutnya idealnya diisi oleh tokoh agama, tokoh budaya, dan tokoh pemersatu bangsa.
“Kita apresiasi kepada Presiden atas dilantiknya sejumlah Wantimpres. Tapi seharusnya Dewan Pertimbangan Presiden itu terdiri dari tokoh agama, tokoh budaya, dan tokoh pemersatu bangsa,” ujar Habib Syakur kepada Mediakarya di Jakarta, Sabtu (3/10/2026).
Ia menyebut kehadiran ulama seperti Prof. Dr. Quraish Shihab dan Sinta Nuriyah Wahid sebagai figur yang dinilai memiliki kapasitas keilmuan dan ketokohan di bidang keagamaan dan kebangsaan.
Dalam pernyataannya, Habib Syakur juga melontarkan kritik terhadap salah satu anggota Wantimpres yang baru dilantik, Rocky Gerung.
Ia menilai gaya komunikasi Rocky selama ini kerap menimbulkan kontroversi di ruang publik.
“Jangan berharap kebaikan, justru kami menilai bahwa pemerintahan Prabowo akan mendapat stigma negatif menyusul dengan kebijakannya yang mengangkat seorang Rocky Gerung menjadi Wantimpres,” ucapnya.
Menurut Habib Syakur, pernyataan seorang akademisi dan figur publik memiliki pengaruh terhadap opini masyarakat. Karena itu, ia menilai Wantimpres perlu diisi oleh sosok yang mampu menjaga narasi kebangsaan.
“Padahal ketika seorang ahli atau figur publik berbicara di ruang umum, ucapan mereka memiliki kekuatan untuk memengaruhi opini masyarakat.
Oleh karena itu, menjaga lisan dari kalimat yang bersifat provokatif, fitnah, atau ujaran kebencian bukan sekadar masalah moral, melainkan juga kepatuhan terhadap hukum,” katanya.
Ia juga menyinggung nama Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat dalam konteks kritik terhadap figur yang dinilainya kerap melontarkan pernyataan menyerang pemerintah. (Ugy)











