JAKARTA, Mediakarya – Perkembangan industri mobil listrik dunia mengalami peningkatan yang cukup pesat. Berdasarkan proyeksi Bloomberg NEF (2021), penjualan mobil listrik berbasis baterai (Electric Vehicle/EV) dunia akan melebihi penjualan mobil Internal Combustion Engine (ICE) pada tahun 2035.
Sementara, Indonesia sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar, memiliki potensi besar untuk menjadi produsen baterai mobil listrik. Dengan keunggulan ini, Indonesia diharapkan dapat menguasai pasar mobil listrik dunia.
Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif INDEF, menyatakan potensi cadangan nikel Indonesia sangat besar, namun untuk merealisasikan hingga dapat memproduksi baterai dan mobil listrik sendiri tidak mudah. Salah satu tantangannya adalah mahalnya harga mobil listrik jika dibandingkan dengan mobil ICE.
“Berdasarkan kajian INDEF, biaya kepemilikan (total cost of ownership) mobil EV MPV di Indonesia masih lebih tinggi dari biaya kepemilikan mobil ICE di segmen yang sama. Hal ini disebabkan biaya kendaraan dasar mobil listrik yang masih tinggi,” kata Tauhid dalam ketyerangan tertulisnya yng diterima redaksi, Kamis (21/4/2022).
Oleh karena itu, Tauhid menyatakan pentingnya dukungan dari pemerintah dalam perkembangan industri mobil listrik di Indonesia.
Dalam paparannya, Tauhid menjelaskan bahwa selain mempercepat produksi baterai listrik lokal untuk menekan biaya dasar mobil listrik, diperlukan juga insentif pajak, kredit, serta dukungan regulasi pendukung untuk mendorong adopsi mobil listrik.
“Selain itu, mobil ICE harus diberikan disinsentif agar masyarakat beralih ke mobil listrik,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara menyampaikan bahwa mobil listrik yang beredar saat ini harganya di kisaran Rp600 juta, di atas daya beli masyarakat yang berada di Rp300 juta.
Berbagai kendaraan energi alternatif sudah tersedia secara global, namun adopsinya juga terhambat biaya yang tinggi. Tidak hanya industri, tetapi kesiapan konsumen baik secara daya beli maupun mindset harus diperhatikan.
“Dengan pengembangan baterai dan mobil listrik di Indonesia, Gaikindo mengharapkan Indonesia dapat swasembada mobil listrik dan dapat ekspor ke negara lain,” jelasnya.
Sementara itu, Pembina Industri Ahli Madya, Koordinator Subdit Industri Alat Transportasi Darat, Direktorat IMATAP, Dodiet Prasetyo menyatakan bahwa Indonesia adalah pasar kendaraan bermotor Indonesia terbesar di ASEAN, namun rasio kepemilikan saat ini masih relatif rendah.
‘Perkembangan adopsi EV dipengaruhi oleh biaya komponen, terutama baterai. Saat ini, tantangan terbesar adalah harga baterai yang mahal. Selisih harga motor penggerak mobil EV dengan mobil ICE akan semakin rendah dengan berkembangnya teknologi, mendorong adopsi EV,” jelasnya. (Red)











