Indonesia Miliki Potensi Jadi Produsen Baterai Mobil Listrik Terbesar di Dunia

- Penulis

Kamis, 21 April 2022 - 12:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivitas produksi pabril baterai mobil listrik (Foto: Istimewa)

Aktivitas produksi pabril baterai mobil listrik (Foto: Istimewa)

JAKARTA, Mediakarya – Perkembangan industri mobil listrik dunia mengalami peningkatan yang cukup pesat. Berdasarkan proyeksi Bloomberg NEF (2021), penjualan mobil listrik berbasis baterai (Electric Vehicle/EV) dunia akan melebihi penjualan mobil Internal Combustion Engine (ICE) pada tahun 2035.

Sementara, Indonesia sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar, memiliki potensi besar untuk menjadi produsen baterai mobil listrik. Dengan keunggulan ini, Indonesia diharapkan dapat menguasai pasar mobil listrik dunia. 

Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif INDEF, menyatakan potensi cadangan nikel Indonesia sangat besar, namun untuk merealisasikan hingga dapat memproduksi baterai dan mobil listrik sendiri tidak mudah. Salah satu tantangannya adalah mahalnya harga mobil listrik jika dibandingkan dengan mobil ICE. 

“Berdasarkan kajian INDEF, biaya kepemilikan (total cost of ownership) mobil EV MPV di Indonesia masih lebih tinggi dari biaya kepemilikan mobil ICE di segmen yang sama. Hal ini disebabkan biaya kendaraan dasar mobil listrik yang masih tinggi,” kata Tauhid dalam ketyerangan tertulisnya yng diterima redaksi, Kamis (21/4/2022).

Oleh karena itu, Tauhid menyatakan pentingnya dukungan dari pemerintah dalam perkembangan industri mobil listrik di Indonesia. 

Dalam paparannya, Tauhid menjelaskan bahwa selain mempercepat produksi baterai listrik lokal untuk menekan biaya dasar mobil listrik, diperlukan juga insentif pajak, kredit, serta dukungan regulasi pendukung untuk mendorong adopsi mobil listrik. 

Baca Juga:  Rakernas AMAN: Pengesahan RUU Masyarakat Adat jadi Bahasan Penting

“Selain itu, mobil ICE harus diberikan disinsentif agar masyarakat beralih ke mobil listrik,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara menyampaikan bahwa mobil listrik yang beredar saat ini harganya di kisaran Rp600 juta, di atas daya beli masyarakat yang berada di Rp300 juta. 

Berbagai kendaraan energi alternatif sudah tersedia secara global, namun adopsinya juga terhambat biaya yang tinggi. Tidak hanya industri, tetapi kesiapan konsumen baik secara daya beli maupun mindset harus diperhatikan. 

“Dengan pengembangan baterai dan mobil listrik di Indonesia, Gaikindo mengharapkan Indonesia dapat swasembada mobil listrik dan dapat ekspor ke negara lain,” jelasnya. 

Sementara itu, Pembina Industri Ahli Madya, Koordinator Subdit Industri Alat Transportasi Darat, Direktorat IMATAP, Dodiet Prasetyo menyatakan bahwa Indonesia adalah pasar kendaraan bermotor Indonesia terbesar di ASEAN, namun rasio kepemilikan saat ini masih relatif rendah.

‘Perkembangan adopsi EV dipengaruhi oleh biaya komponen, terutama baterai. Saat ini, tantangan terbesar adalah harga baterai yang mahal. Selisih harga motor penggerak mobil EV dengan mobil ICE akan semakin rendah dengan berkembangnya teknologi, mendorong adopsi EV,” jelasnya. (Red)

 

 

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Konsolidasi BUMN Gula dan Jerit Petani Tebu
IPW: Kewenangan Polri Harus Diimbangi dengan Pengawasan Eksternal
Wakil Ketua DPD RI Apresiasi MBG Diprioritaskan ke Daerah 3T
Penanganan Kasus Bea Cukai Jadi Sorotan, Transparansi Dinilai Kunci Jaga Kepercayaan Publik
Harga Pertamax Naik 32 Persen, Ketua BPKN RI: Konsumen Berhak Mendapat Transparansi Pemerintah
WTP Kota Bekasi Dipertanyakan Publik, Ini Penjelasan Pakar Komunikasi Politik
Sambut HUT DKI Jakarta ke-499, PLN UID Jakarta Raya Luncurkan Promo Tambah Daya Diskon 50 Persen
Polri Geledah Kantor WIKA, Usut Dugaan Korupsi Proyek Modernisasi Pabrik Gula Asembagus 
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 10:20 WIB

Konsolidasi BUMN Gula dan Jerit Petani Tebu

Kamis, 11 Juni 2026 - 08:46 WIB

IPW: Kewenangan Polri Harus Diimbangi dengan Pengawasan Eksternal

Kamis, 11 Juni 2026 - 04:09 WIB

Penanganan Kasus Bea Cukai Jadi Sorotan, Transparansi Dinilai Kunci Jaga Kepercayaan Publik

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:38 WIB

Harga Pertamax Naik 32 Persen, Ketua BPKN RI: Konsumen Berhak Mendapat Transparansi Pemerintah

Rabu, 10 Juni 2026 - 12:42 WIB

WTP Kota Bekasi Dipertanyakan Publik, Ini Penjelasan Pakar Komunikasi Politik

Berita Terbaru

Petani tebu (Sumber foto: Antaranews)

Ekonomi & Bisnis

Konsolidasi BUMN Gula dan Jerit Petani Tebu

Kamis, 11 Jun 2026 - 10:20 WIB

Prof. Dr. Yudhie Haryono

Opini

Kisah Kasih di Sejarah Mutakhir Kita

Kamis, 11 Jun 2026 - 08:28 WIB