Investasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bakal Jadi Beban Hutang Rakyat Indonesia

- Editor

Selasa, 21 Desember 2021 - 06:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pebangunan jalan kereta cepat Jakarta-Bandung. (Foto: net)

Pebangunan jalan kereta cepat Jakarta-Bandung. (Foto: net)

JAKARTA, Mediakarya- Kekhawatiran sejumlah kalangan terhadap pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang menggunakan pinjaman modal dari China dan akan bermasalah dalam pengembalian modal, ternyata bukan saja dialami masyarakat Indonesia.

Hal yang sama juga dikatakan oleh analis ekonomi Asian Development Bank Institute, Jonathan Andrew Lane terkait dengan pembukaan jalur kereta cepat antara China dan Laos.

Dia menyebut bahwa Laos bisa mengalami kesulitan dalam membayar kembali proyek yang memiliki nilai investasi sebesar US$ 6 miliar itu kepada Beijing.

Sebagaimana dilansir dari AFP, dalam laporan Asian Development Bank Institute, Laos dirasa memiliki pasar yang sangat kecil untuk membangun sebuah kereta cepat.

Bila memang proyek ini tidak menghasilkan keuntungan yang ditargetkan, pajak tambahan mungkin akan dibebankan kepada masyarakat untuk membayar utang ini.

“Layanan utang itu akan menambah tekanan pada kemampuan pemerintah untuk menaikkan pajak yang terbatas,” ujar Jonathan Andrew Senin, (20/12/2021).

Sementara itu, AidData, sebuah laboratorium penelitian di Universitas William & Mary, Amerika Serikat (AS), menyebutkan bahwa Laos memiliki utang tersembunyi kepada China dalam pembentukan usaha patungan kereta cepat kedua negara.

Baca Juga:  Tak Hanya Disegel, LPKAN Desak Penegak Hukum Ungkap Siapa Pemasang Pagar Laut

Utang tersembunyi ini akan muncul bila proyek ini tidak seperti yang ditargetkan. Utang, yang mengikat tiga perusahaan BUMN China dan satu perusahaan Laos, itu ditaksir bernilai US$ 3,54 miliar.

“Jika tidak cukup menguntungkan, antara 0-100 persen dari total US$ 3,54 miliar utang dapat menjadi kewajiban pembayaran kembali Pemerintah Laos”, AidData sebagaimana CNBC memberitakan.

Kereta cepat yang menghubungkan kota Kunming, China dan Vientiane, Laos ini dibuka pada 3 Desember lalu. Layanan transportasi darat itu menargetkan akan mendapatkan 1 juta penumpang pada musim libur imlek 2022 mendatang.

Hal ini beriringan dengan kebijakan Laos yang akan membuka pintunya pada Januari 2022.

China sendiri berharap bahwa bahwa jalur sepanjang 1.000 km itu pada akhirnya dapat diperpanjang. Beijing menargetkan kereta cepat itu bisa merambah hingga Malaysia dan Singapura

 

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Lusia Carmenita Rosalia Lamba Sabet Mahkota Putri Pariwisata Indonesia 2026
Ormas NU Magnet Elit Politik dan Penguasa
Aksi 27 Agustus Diduga Skenario Pengalihan Isu Politik
Kerja Bakti Bersih Sampah Kali Baru, Walikota Munjirin Bakal OTT Warga yang Buang Sampah ke Kali
Berpotensi Jadi “Musuh dalam Selimut”, Prabowo Diminta Copot Menteri Warisan Jokowi
INDEF GTI Usul Program 100 GWp Tahap Satu Didorong Lewat Kawasan Industri
Pramono Anung Berpotensi Jadi Kuda Hitam Pada Pilres Mendatang
Kodam Jaya Kerahkan Prajurit Bantu Polri Jaga Keamanan Aksi di DPR/MPR

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:54 WIB

Lusia Carmenita Rosalia Lamba Sabet Mahkota Putri Pariwisata Indonesia 2026

Minggu, 30 Agustus 2026 - 07:21 WIB

Ormas NU Magnet Elit Politik dan Penguasa

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:03 WIB

Kerja Bakti Bersih Sampah Kali Baru, Walikota Munjirin Bakal OTT Warga yang Buang Sampah ke Kali

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 10:18 WIB

Berpotensi Jadi “Musuh dalam Selimut”, Prabowo Diminta Copot Menteri Warisan Jokowi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 06:58 WIB

INDEF GTI Usul Program 100 GWp Tahap Satu Didorong Lewat Kawasan Industri

Berita Terbaru

Logo NU (Ist)

Politik

Ormas NU Magnet Elit Politik dan Penguasa

Minggu, 30 Agu 2026 - 07:21 WIB

Opini

Saat Ketua DPR Tak Tandatangani Surat Janji

Sabtu, 29 Agu 2026 - 20:27 WIB