Ormas NU Jadi Magnet Elit Politik dan Penguasa

- Editor

Minggu, 30 Agustus 2026 - 07:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Logo NU (Ist)

Logo NU (Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dinilai magnet bagi pemerintah dan elite politik, karena memiliki basis massa yang sangat besar serta jaringan kiai pesantren yang kuat di tingkat akar rumput.

Analis sosial dan kebijakan publik, Institute for Public Policy Strategic (IPPS) Indonesia, Nurul Juliana, mengungkapkan NU merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Jumlah anggota dan simpatisan yang masif membuat suara atau dukungan warga NU menjadi pertimbangan penting dalam konstelasi politik nasional.

Selain itu, tradisi dalam menaati kiai di NU berakar dari konsep ta’dzim (penghormatan) dan pencarian barakah yang menjadi fondasi hubungan antara santri/warga NU (nahdliyin) dengan guru spiritual mereka.

Sehingga, petuah di NU yang paling ditaati dan diikuti oleh jamaahnya (Nahdliyin) berakar pada prinsip “Sami’na wa Atha’na” (Kami mendengar dan kami taat) serta kepatuhan kultural yang tinggi terhadap dawuh (perkataan) para Ulama, Kiai, dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

“Sementara, banyak tokoh NU dan para kiai di berbagai daerah dipandang memiliki pengaruh kuat terhadap masyarakat. Jaringan ini sering dimanfaatkan oleh elite politik sebagai saluran komunikasi, mesin sosial, atau peredam ketegangan di masyarakat,” ungkap Nurul dalam kepada Mediakarya di Jakarta, Ahad (30/8/2026).

Secara historis, lanjut dia, NU mengambil peran kebangsaan dalam menjaga NKRI, Pancasila, dan toleransi. Pemerintah memandang ormas besar seperti NU sebagai mitra strategis untuk menjaga stabilitas keamanan, keagamaan, dan sosial.

Baca Juga:  Pemkot Surakarta Berkomitmen Beri Ruang untuk Pemasaran UMKM

“Dalam momentum besar seperti Muktamar NU, kehadiran pejabat negara dan elite politik tidak terlepas dari upaya membangun kedekatan. Dukungan atau hubungan baik dengan pimpinan NU sering dipersepsikan dapat mempermudah jalannya program pemerintah di masyarakat,” ujarnya.

Oleh karena itu, NU sering kali dipandang sebagai “alat” untuk mendapatkan legitimasi politik nasional karena statusnya sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia yang memiliki basis massa sangat solid dan jaringan kultural yang luas

Meski secara formal sejak Muktamar Situbondo 1984, NU telah berkomitmen untuk kembali ke Khittah 1926, yang berarti menarik diri dari politik praktis dan fokus pada urusan sosial-keagamaan. Namun, realitasnya “godaan” politik tetap tinggi.

“Keterlibatan Nahdlatul Ulama dalam pusaran kekuasaan atau pemerintahan memang secara sosiologis dan politik berpotensi kuat memengaruhi independensinya,” katanya.

Dia berpandangan, NU idealnya berfungsi sebagai penyeimbang (checks and balances) dan pengkritik kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat.

“Ketika pimpinan atau institusinya berada di dalam kekuasaan, daya kritis tersebut cenderung melemah atau vokal hanya pada isu tertentu,” jelas Nurul.

Lebih lanjut, meskipun kedekatan dengan kekuasaan memberikan NU daya tawar strategis dalam memengaruhi kebijakan nasional, namun sebagian besar warga Nahdliyin berharap agar NU menjaga jarak dengan kekuatan politik demi menjaga marwah dan independensi organisasi. (Edar)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Aksi 27 Agustus Diduga Skenario Pengalihan Isu Politik
Berpotensi Jadi “Musuh dalam Selimut”, Prabowo Diminta Copot Menteri Warisan Jokowi
Pramono Anung Berpotensi Jadi Kuda Hitam Pada Pilres Mendatang
Kader Partai Demokrat Gelar Gerakan Langit Biru di Pantai Lagundri
Isu Money Politik Warnai Pemilihan Ketum PBNU, Etos Indonesia: Jangan Sampai Arena Muktamar Jadi Ajang OTT
Dasco Siap Mundur jika RUU Perampasan Aset Tak Disahkan 15 Desember 2026
Puan Pastikan RUU Perampasan Aset Ditargetkan Rampung 15 Desember 2026
Polda Metro Amankan Puluhan Orang Diduga Sabotase Demo DPR

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 07:21 WIB

Ormas NU Jadi Magnet Elit Politik dan Penguasa

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:53 WIB

Aksi 27 Agustus Diduga Skenario Pengalihan Isu Politik

Jumat, 28 Agustus 2026 - 18:06 WIB

Pramono Anung Berpotensi Jadi Kuda Hitam Pada Pilres Mendatang

Jumat, 28 Agustus 2026 - 14:43 WIB

Kader Partai Demokrat Gelar Gerakan Langit Biru di Pantai Lagundri

Jumat, 28 Agustus 2026 - 09:58 WIB

Isu Money Politik Warnai Pemilihan Ketum PBNU, Etos Indonesia: Jangan Sampai Arena Muktamar Jadi Ajang OTT

Berita Terbaru

Logo NU (Ist)

Politik

Ormas NU Jadi Magnet Elit Politik dan Penguasa

Minggu, 30 Agu 2026 - 07:21 WIB

Opini

Saat Ketua DPR Tak Tandatangani Surat Janji

Sabtu, 29 Agu 2026 - 20:27 WIB

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal dan Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa menandatangani surat pernyataan untuk mundur apabila Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset tidak disahkan paling lambat 15 Desember 2026 di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Politik

Aksi 27 Agustus Diduga Skenario Pengalihan Isu Politik

Sabtu, 29 Agu 2026 - 19:53 WIB