JAKARTA, Mediakarya — Sekolah Vokasi Institut Teknologi PLN (ITPLN) mengupas strategi penguatan listrik hijau di Nusa Penida, Bali, melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang terintegrasi dengan Battery Energy Storage System (BESS).
Pembahasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Guest Lecturer bertema “Penerapan Teknik Instalasi dan Pemeliharaan PLTS di PLN Nusa Penida dalam Mendukung Ketersediaan Energi Lokal” yang diprakarsai Direktur Sekolah Vokasi ITPLN, Tony Koerniawan.
Technician Life Cycle Management and Investasi UBP Bali Indonesia Power, Dwi Wijanarko, menjelaskan sistem PLTS dan BESS menjadi solusi penting untuk menjaga stabilitas listrik di wilayah kepulauan sekaligus mendukung transisi energi nasional menuju energi bersih.
“Teknologi ini menjadi kunci menjaga keandalan listrik di kawasan kepulauan sekaligus mendukung transisi energi nasional,” ujar Dwi.
Ia menjelaskan, sistem kelistrikan di Nusa Penida memiliki tantangan tersendiri karena berada di wilayah terisolasi dengan beban puncak listrik mencapai 16 megawatt (MW).
Saat ini, kebutuhan listrik di kawasan tersebut masih didominasi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas 21 MW. Namun, PLN Indonesia Power juga telah mengoperasikan PLTS berkapasitas 3,5 MWac dan BESS sebesar 3 MWh untuk memperkuat kestabilan pasokan listrik.
Menurut Dwi, keberadaan BESS sangat penting karena mampu mengompensasi fluktuasi daya dari PLTS sehingga listrik yang disalurkan ke masyarakat tetap stabil.
“BESS bekerja menyimpan energi ketika produksi listrik surya berlebih, lalu melepaskannya kembali saat kebutuhan meningkat atau produksi listrik menurun,” katanya.
Teknologi tersebut dinilai efektif untuk mendukung integrasi energi baru terbarukan, terutama di daerah terpencil dan sistem kelistrikan terisolasi seperti Nusa Penida.
Dalam paparannya, Dwi juga menjelaskan sejumlah komponen utama dalam sistem BESS, seperti Battery Management System (BMS), Energy Management System (EMS), dan Power Conversion System (PCS).
BMS berfungsi memantau serta mengatur kondisi baterai agar tetap aman dan efisien. Sementara EMS bertugas mengatur distribusi aliran listrik dari berbagai sumber energi menuju kebutuhan beban masyarakat.
Adapun PCS berfungsi mengubah arus AC menjadi DC maupun sebaliknya agar sistem baterai dapat terhubung dengan jaringan listrik.
Selain instalasi, Dwi turut menekankan pentingnya pemeliharaan berkala pada sistem PLTS dan BESS, mulai dari pemeriksaan pendingin, koneksi kabel, parameter baterai, hingga pengujian performa sistem secara rutin.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLN juga berencana menambah kapasitas energi baru terbarukan di Nusa Penida melalui pembangunan PLTS 4,5 MW terintegrasi BESS pada 2026–2027, serta PLTB 10 MW dengan BESS pada 2027–2028.
“Kombinasi PLTS dan BESS menjadi langkah strategis untuk menciptakan sistem kelistrikan yang lebih andal, efisien, dan ramah lingkungan,” ungkap Dwi.
Direktur Sekolah Vokasi ITPLN, Tony Koerniawan, mengatakan kegiatan Guest Lecturer menjadi bagian dari komitmen kampus dalam mendukung transisi energi nasional melalui pembelajaran berbasis praktik industri.
Menurutnya, mahasiswa perlu dibekali wawasan dan pengalaman langsung dari praktisi agar mampu memahami tantangan sektor energi masa depan.
“Sekolah Vokasi ITPLN terus mendorong lahirnya generasi muda yang adaptif, kompeten, dan siap berkontribusi dalam pengembangan energi bersih serta berkelanjutan,” ujar Tony.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan narasumber lain dari UBP Bali Indonesia Power, Rizal Friansyah selaku Efficiency Engineer. Acara dipandu Dr. Ir. Nurmiati Pasra, S.T., M.T. dan berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. (Hab)










