Jelang Musda, Internal Golkar Kota Bekasi Memanas, Etos Indonesia: Jangan Beri Ruang Politisi “Bar-Bar’ Tumbuh

- Editor

Jumat, 11 September 2026 - 11:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Eksekutif Etos Indonesia Institute Iskandarsyah. (Foto: Mediakarya)

Direktur Eksekutif Etos Indonesia Institute Iskandarsyah. (Foto: Mediakarya)

KOTA BEKASI, Mediakarya – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Kota Bekasi, konstelasi politik di internal partai berlambang pohon beringin itu kini mulai memanas. Dua calon yang dipastikan maju dalam kontestasi pemilihan Ketua DPD Golkar tersebut yakni Ade Puspitasai dan Ranny Fahd Rafiq.

Di tengah perbedaan faksi atau kubu pendukung, para kandidat gencar melakukan lobi politik dan konsolidasi internal untuk mengamankan syarat minimal pencalonan.

Kedua kubu itu mengklaim banwa telah mendapatan dukungan dari mayoritas Pengurus Kecamatan (PK) Partai Golkar yang tersebar di 12 Kecamatan di Kota Bekasi.

Meski arahan DPP agar calon kandidat senantiasa menekankan agar kompetisi dalam Musda tetap berjalan secara sehat dan tidak menimbulkan perpecahan jangka panjang demi menghadapi Pemilu 2029, namun fakta di lapangan isu perpecahan antarakubu Ade Puspitasari dengan Ranny Fahd Arafiq mulai nampak.

Berasarkan informasi sejumlah sumber Mediakarya, bahwa ada dugaan intimdasi yang dilakukan oleh salah satu kubu calon kandidat tertentu, agar PK memilih jagoannya pada Musda mendatang. Bahkan ada ancaman pidana terhadap PK yang melakukan pembangkangan.

Menanggapi dinamika di internal Partai Golkar Kota Bekasi, Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute, Iskandarsyah, mengungkapkan, jika “ancaman” yang dimaksud itu benar adanya, dia menyaranan agar PK tersebut untuk melaporkannya ke DPP Partai Golkar.

Selain itu, Iskadar juga meyarankan agar PK tersebut untuk melaporkan ke pihak kepolisian. Meski di belakang calon kandidat Ketua DPD Golkar itu orang kuat, ia menyarankan para PK yang merasa terintimidasi agar tidak takut untuk melaporkan kepada pihak yang berwajib, karena itu sudah masuk kategori kriminal umum.

“Ini negara hukum, jangan sampai ada politisi “bar-bar” tumbuh subur di Partai Golkar. Jika ada intimidasi maka itu ranah pidana, maka kami sarankan agar para PK untuk melapor ke pihak kepolisian dan tembusan juga ke DPP Golkar. Jangan takut, saat ini negara juga memberikan saluran hukum lain yaitu Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK),” tegas Iskandar saat diwawancarai Mediakarya di Jakarta, Jumat (11/9/2026)/

Baca Juga:  Menanti Status Hukum Djan Faridz dalam Kasus Harun Masuku

Iskandar menegaskan, seharusnya para politisi “bar-bar” itu belajar dari sejarah Akbar Tandjung yang berhasil mempertahankan suara Partai Golkar pascareformasi melalui strategi “The Golkar Way” (Paradigma Baru), yang mengubah citra partai dari perpanjangan tangan rezim Orde Baru menjadi kekuatan politik yang demokratis, mandiri, dan terbuka.

Di bawah kepemimpinannya, saat itu Golkar tidak hanya selamat dari gelombang tuntutan pembubaran partai, tetapi juga berhasil bangkit hingga memenangi Pemilu Legislatif 2004. Tetapi yang terjadi saat ini justru terbalik, sesama internal partai justru saling “gigit”.

“Jika dinamika konflik internal Golkar Kota Bekasi itu tetap dibiarkan, jangan harap suara pada Pileg 2029 mendatang akan meningkat. Untuk memertahankan kursi yang ada saat ini saja sepertinya sulit,” ungkap Iskandar.

Lebih lanjut, bahwa tantangan Golkar mendatang lebih berat, hal tersebut menyusul dengan hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang menempatkan Golkar pada posisi ketiga, yakni hanya 13 persen, setelah Gerindra dan PDI Perjuangan.

“Artinya, Ketua DPD Golkar Kota Bekasi ke depan harus memiliki kapsitas dalam memimpin sebuah organisasi ini. Sebab Kota Bekasi ini unik, ketokohan dan sejarah panjang Golkar di Kota Bekasi masih menjadi parameter pemilih untuk menentukan sikapnya. Oleh karenanya figur yang akan memimpin juga harus dikenal hingga akar rumput. Yang jelas bukan karbitan,” pungksnya. (Ugy)

 

 

 

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Musda Golkar Kota Bekasi di Ujung Mata, Beringin Institut: Pilih Ketua Nomor Dua, Bersih-bersih yang Utama
Pakar Komunikasi Politik Nilai Manuver Dedi Mulyadi: Investasi Menuju 2029, Berpotensi Picu Gejolak di Tubuh Gerindra
Sssttt, Anak Haji Lulung Masuk ‘Kandang Banteng’
Dinilai Bermasalah, Prabu Peduli Lingkungan dan Warga Minta Proyek Pemprov Jabar di TPA Burangkeng Dihentikan
Islah Bahrawi Soroti Dugaan Money Politics di Muktamar NU dan Peran AHWA
Prof Siti Zuhro Usul Sekda Jadi Pj Kepala Daerah Jelang Pemilu Lokal 2031
Terdampak Asap Pembakaran Sampah, Warga Babelan dan Prabu PL Gelar Diskusi “Stop Bakar Sampah”
Dari Anwar Usman Hingga Rocky Gerung, ETOS: Negara Ini Banyak Pelacur Politik

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:54 WIB

Musda Golkar Kota Bekasi di Ujung Mata, Beringin Institut: Pilih Ketua Nomor Dua, Bersih-bersih yang Utama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:20 WIB

Pakar Komunikasi Politik Nilai Manuver Dedi Mulyadi: Investasi Menuju 2029, Berpotensi Picu Gejolak di Tubuh Gerindra

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Sssttt, Anak Haji Lulung Masuk ‘Kandang Banteng’

Senin, 5 Oktober 2026 - 14:35 WIB

Dinilai Bermasalah, Prabu Peduli Lingkungan dan Warga Minta Proyek Pemprov Jabar di TPA Burangkeng Dihentikan

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:53 WIB

Islah Bahrawi Soroti Dugaan Money Politics di Muktamar NU dan Peran AHWA

Berita Terbaru