Elektabilitas Golkar Disalip Gerindra dan PDIP, Inisiator GNK: Saatnya DPP Berbenah

- Editor

Jumat, 11 September 2026 - 17:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid (Foto: Ist)

Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid (Foto: Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid menilai partai Golkar perlu melakukan evaluasi dan pembenahan strategis guna mendongkrak elektabilitasnya. Hal tersebut menyusul dengan rilis sejumlah lembaga survei yang menempatkan Partai Golkar pada posisi ketiga setelah Gerindra dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Berdasarkan hasil rilis lembaga survei nasional pada Agustus hingga September 2026 seperti Parameter Politik Indonesia (Gerindra 18,3%, PDIP 14%, Golkar 13%) kemudian Indonesia Political Opinion (IPO) (10,4%), posisi Golkar masih berada di bawah bayang-bayang Partai Gerindra dan PDIP.

Habib Syakur juga mendorong pengurus Golkar memperkuat peran jajaran fungsionaris harian dan Wakil Ketua Umum untuk aktif turun ke daerah, sehingga kerja elektoral partai tidak tersentralisasi pada figur Ketua Umum yang memiliki kesibukan birokrasi tinggi.

Partai Golkar harus mampu keluar dari bayang-bayang anggapan sebagai “partai orang tua” atau partai senior dengan menonjolkan inovasi, program yang relevan bagi generasi Z dan milenial, serta kepemimpinan yang adaptif terhadap perubahan zaman.

“Golkar harus mampu mentransformasikan gaya komunikasinya agar tetap relevan bagi pemilih milenial dan Gen Z yang mendominasi demografi pemilih saat ini,” ujar Habib Syakur saat diwawancarai Mediakarya di Jakarta (11/9/2026).

Sebab, mekipun partai tersebut memiliki infrastruktur organisasi sayap pemuda yang lengkap seperti AMPG, AMPI, SOKSI, MKGR, dan Kosgoro, namun Golkar dinilai belum mampu menarik perhatian swing voters atau pemilih milenial/Gen Z.

“Bahwa Golkar kerap diidentifikasi sebagai partai senior, karena sejarah panjangnya dalam politik Indonesia. Namun, untuk tetap kompetitif di era digital, transformasi citra dan reposisi peran kader muda sangatlah krusial,” katanya.

Untuk itu, Golkar wajib memberikan panggung politik yang lebih strategis kepada kader-kader muda potensial di daerah untuk tampil sebagai wajah modern partai, bukan sekadar mengandalkan politisi senior.

Baca Juga:  Ormas NU Magnet Elit Politik dan Penguasa

Konflik Internal Hambat Kemajuan Partai

Lebih lanjut Habib Syakur mengungkapkan, konflik internal Partai Golkar menjadi salah satu faktor utama yang menghambat kemajuan Partai Golkar.

Menurutnya, sebagai partai besar tanpa pemilik saham tunggal, Golkar kerap menghadapi gesekan antar-faksi, perebutan kursi kepemimpinan, hingga dualisme kepengurusan yang menguras energi politik partai.

Di sisi lain, kader Golkar yang duduk di pemerintahan tidak kunjung memberikan kinerja positifnya, justru yang terjadi sebaliknya, menteri dari Golkar kerap mendapatkan persepsi negatif.

“Kader-kader Golkar yang duduk di kabinet seharusnya mampu menunjukkan performa di atas rata-rata dengan menghadirkan terobosan kebijakan yang menjadi rujukan nasional, sehingga arah pemerintahan secara de facto diwarnai oleh ide-ide Golkar,” ungkap dia.

Selanjutnya, kondisi Partai Golkar saat ini juga tengah menghadapi lanskap politik yang jauh lebih kompleks, terutama setelah transisi kepemimpinan ke Bahlil Lahadalia serta persiapan strategis jangka panjang menuju pemilu mendatang.

“Sebagai salah satu partai tertua dengan mesin politik paling stabil, kompleksitas tantangan yang dihadapi Golkar saat ini mencakup dimensi internal maupun eksternal,” ungkap Habib Syakur.

Dia menambahkan, bahwa Golkar dikenal sebagai partai yang selalu berada di garis depan dalam mengawal program pembangunan pemerintah. Namun, tantangan eksternal seperti fluktuasi ekonomi global dan isu domestik.

Partai Golkar harus menjadi motor penggerak utama yang mewarnai kebijakan pemerintahan, bukan sekadar menjadi pengikut (follower) yang mengekor agenda pihak lain.

Sebagai salah satu partai politik tertua dan terbesar di Indonesia dengan basis teknokratis yang kuat, Golkar memiliki posisi tawar, rekam jejak, dan modal politik yang sangat besar untuk menentukan arah strategis bangsa.

“Sebagai salah satu fraksi terbesar di DPR, Golkar harus aktif menginisiasi rancangan undang-undang (RUU) yang pro-rakyat dan menjadi penentu dalam penyusunan anggaran (APBN), bukan sekadar menyetujui usulan pemerintah,” pungkasnya. (Ugy)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Musda Golkar Kota Bekasi di Ujung Mata, Beringin Institut: Pilih Ketua Nomor Dua, Bersih-bersih yang Utama
Pakar Komunikasi Politik Nilai Manuver Dedi Mulyadi: Investasi Menuju 2029, Berpotensi Picu Gejolak di Tubuh Gerindra
Islah Bahrawi Soroti Dugaan Money Politics di Muktamar NU dan Peran AHWA
Prof Siti Zuhro Usul Sekda Jadi Pj Kepala Daerah Jelang Pemilu Lokal 2031
Dari Anwar Usman Hingga Rocky Gerung, ETOS: Negara Ini Banyak Pelacur Politik
Pecah Kongsi Prabowo-Jokowi? Reshuffle Ketujuh Geser Geng Solo dari Pos Strategis
GNK Soroti Komposisi Wantimpres, Singgung Gaya Komunikasi Rocky Gerung
Mantan WK MPO Golkar Jabar: Duet Bahlil-Sarmuji Bawa Golkar Naik Kelas

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:54 WIB

Musda Golkar Kota Bekasi di Ujung Mata, Beringin Institut: Pilih Ketua Nomor Dua, Bersih-bersih yang Utama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:20 WIB

Pakar Komunikasi Politik Nilai Manuver Dedi Mulyadi: Investasi Menuju 2029, Berpotensi Picu Gejolak di Tubuh Gerindra

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:53 WIB

Islah Bahrawi Soroti Dugaan Money Politics di Muktamar NU dan Peran AHWA

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:04 WIB

Prof Siti Zuhro Usul Sekda Jadi Pj Kepala Daerah Jelang Pemilu Lokal 2031

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:58 WIB

Dari Anwar Usman Hingga Rocky Gerung, ETOS: Negara Ini Banyak Pelacur Politik

Berita Terbaru