Ketahanan Pangan Indonesia 2026: Strategi, Tantangan, dan Diversifikasi Menuju Swasembada

- Penulis

Rabu, 21 Januari 2026 - 14:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seminar Ketahanan Pangan Indonesia 2026: Dari Bencana ke Strategi yang diselenggarakan CORE Indonesia.

Seminar Ketahanan Pangan Indonesia 2026: Dari Bencana ke Strategi yang diselenggarakan CORE Indonesia.

JAKARTA, Mediakarya – CORE Indonesia menyelenggarakan seminar dan diskusi publik bertajuk “Ketahanan Pangan Indonesia 2026: Dari Bencana ke Strategi” di CORESight Hub, Selasa (20/1/2026). Diskusi ini menyoroti strategi komprehensif untuk menghadapi tantangan ketahanan pangan domestik dan global, termasuk pengelolaan risiko iklim, penguatan pangan lokal, dan pengembangan rantai nilai nasional.

Ketahanan Pangan Lebih dari Produksi

Dr. Etika Karyani, Direktur Riset CORE Indonesia, menegaskan bahwa ketahanan pangan mencakup ketersediaan, aksesibilitas, pemanfaatan, dan stabilitas pangan, bukan sekadar produktivitas pertanian.

Pemerintah menyiapkan strategi intensifikasi lahan, ekstensifikasi, kebijakan pupuk subsidi, regenerasi petani, dan peningkatan kualitas benih. Sugeng Harmono, Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan Kemenko Pangan RI, menyebut target 2026 meliputi penyerapan padi 4 juta ton serta produksi kedelai dan bawang putih. Roadmap swasembada bawang putih ditargetkan pada 2029.

Daerah rawan bencana menjadi perhatian khusus dengan pembentukan satgas rehabilitasi untuk memastikan distribusi pangan tetap lancar.

Diversifikasi Pangan Lokal

CORE menekankan pentingnya diversifikasi pangan melalui pengembangan pangan lokal. Prof. Dwi Andreas Santosa, Guru Besar IPB, menekankan perlunya investasi pemerintah. Eri Prabowo, Dirut PT Berkah Inti Daya, menyebut Sorgum sebagai alternatif yang mudah dibudidayakan dan potensial dikembangkan.

Pemerintah mendorong cadangan pangan lokal melalui Perpres No. 81/2024. Meski prospeknya baik, banyak pangan alternatif berharga tinggi dan jumlahnya terbatas, sementara padi dan gandum tetap unggul dari sisi gizi.

Baca Juga:  Program Irigasi Kementan Diapresiasi, KAMMI Siap Turunkan 40 Ribu Kader Dukung Swasembada Pangan

Indonesia Belum Swasembada Pangan

Menurut Prof. Dwi Andreas, Indonesia belum sepenuhnya swasembada pangan. Banyak komoditas masih bergantung impor, termasuk gandum, bawang putih, kedelai (97%), susu (82%), gula (70%), daging sapi/kerbau (50%), jagung (10%), dan beras (5%). Total impor 12 komoditas mencapai sekitar 25 juta ton pada 2025.

Produktivitas pangan menjadi kendala utama. Padi stagnan selama hampir 15 tahun terakhir dan tertinggal dibanding Vietnam. Meski beras sempat swasembada pada 2025, El-Nino diperkirakan menurunkan produksi beras 5% pada 2026.

Tata Kelola Pangan Berbasis Data dan Sains

Prof. Dwi Andreas menekankan pentingnya kebijakan berbasis data dan sains. Program seperti swasembada bawang putih dan Food Estate dinilai tidak feasible secara geografis dan lahan. Kekeliruan data dapat memicu respons pasar negatif, misalnya harga beras naik meski stok tinggi karena penyerapan “at any quality” oleh Bulog.

Tujuh Rekomendasi Strategis CORE untuk 2026:

  1. Kebijakan berbasis fakta: data akurat, prakiraan pasar, dan analisis dampak.
  2. Kebijakan perdagangan tepat dan berhati-hati membaca sinyal pasar.
  3. Subsidi pangan, input, dan pendapatan disasar efektif untuk menghindari pemborosan fiskal.
  4. Investasi infrastruktur dan rantai pasok kompetitif untuk meningkatkan pasokan.
  5. Manajemen risiko: prakiraan pasar, informasi cuaca, R&D teknologi.
  6. Pengelolaan stok pangan pemerintah bebas intervensi.
  7. Perbaikan kerja sama publik-swasta untuk menurunkan konflik dan membangun kepercayaan.(hab)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Pakar Audit Ungkap Risiko Himbara dalam Kelola Rekening Dormant
Takdir Ketimpangan dari Kebijakan Negara
Pakar Lingkungan Hidup Ini Kritik soal Tata Kelola Sampah di Tangsel
Bulog dan 100 Infrastruktur Pascapanen: Pembelajaran dari Masa Lalu
Penuhi Kebutuhan Iduladha 1447 H, Perumda Dharma Jaya Targetkan Penyediaan 900 Ekor Sapi
HAKU Almond Classic Deluxe Jadi Andalan Glico WINGS, Ajak Gen Z Temukan Momen Tenang di Tengah Kesibukan
realme C100 Gebrak Pasar: Baterai 8000mAh Tahan Seharian, Resmi Meluncur 7 Mei 2026
Tragedi Bekasi Timur Jadi Alarm Keras, PII Dorong Audit Total dan Implementasi ATP Nasional
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:58 WIB

Pakar Audit Ungkap Risiko Himbara dalam Kelola Rekening Dormant

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:27 WIB

Takdir Ketimpangan dari Kebijakan Negara

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:40 WIB

Pakar Lingkungan Hidup Ini Kritik soal Tata Kelola Sampah di Tangsel

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:13 WIB

Bulog dan 100 Infrastruktur Pascapanen: Pembelajaran dari Masa Lalu

Rabu, 29 April 2026 - 21:24 WIB

HAKU Almond Classic Deluxe Jadi Andalan Glico WINGS, Ajak Gen Z Temukan Momen Tenang di Tengah Kesibukan

Berita Terbaru

Logo Bank yqng tergabung dalam Himbara (Foto: Int)

Ekonomi & Bisnis

Pakar Audit Ungkap Risiko Himbara dalam Kelola Rekening Dormant

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:58 WIB

Ucapan Hari Buruh 2026 (Foto: AI)

Opini

Negara Bicara Angka, Pengangguran Bicara Realita

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:33 WIB

Ucapan Hari Buruh 2026 (Foto: AI)

Headline

Takdir Ketimpangan dari Kebijakan Negara

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:27 WIB