SUKABUMI, Mediakarya — Monumen Nasional atau Monas merupakan salah satu ikon paling terkenal di Indonesia. Berdiri di jantung Jakarta, Monas tidak hanya menjadi simbol perjuangan kemerdekaan, tetapi juga menyimpan sejumlah cerita sejarah mengenai proses pembangunannya.
Salah satu kisah yang kerap dikaitkan dengan pembangunan Monas adalah mengenai Teuku Markam, pengusaha asal Aceh yang disebut menyumbangkan emas untuk melapisi bagian puncak monumen tersebut.
Nama Teuku Markam bahkan kerap disebut dalam berbagai tulisan sejarah populer sebagai sosok yang menyumbangkan sekitar 28 kilogram emas dari total emas yang digunakan untuk melapisi lidah api Monas.
Namun, kisah mengenai asal-usul emas Monas dan kontribusi Teuku Markam juga perlu ditempatkan dalam konteks sejarah yang tepat karena terdapat sejumlah versi mengenai detail sumbangan tersebut.
Siapa Teuku Markam?
Berdasarkan berbagai sumber sejarah, Teuku Markam dikenal sebagai pengusaha asal Aceh yang memiliki bisnis besar pada era pemerintahan Presiden Soekarno.
Ia disebut memiliki kedekatan dengan lingkungan kekuasaan pada masa Orde Lama dan menjalankan bisnis melalui perusahaan yang dikenal dengan nama PT Karkam.
Pada masa tersebut, Markam dikenal sebagai salah satu pengusaha pribumi yang memiliki pengaruh besar. Aktivitas bisnisnya mencakup perdagangan serta kegiatan ekspor-impor.
Kedekatannya dengan pemerintahan Soekarno kemudian membuat nama Teuku Markam menjadi bagian dari sejarah politik dan ekonomi Indonesia pada masa itu.
Kisah Sumbangan Emas untuk Monas
Salah satu cerita paling populer mengenai Teuku Markam adalah kontribusinya terhadap pembangunan Monas.
Dalam berbagai sumber populer, Teuku Markam disebut menyumbangkan 28 kilogram emas untuk digunakan pada bagian puncak Monas.
Lidah api yang berada di puncak Monas memang dilapisi emas. Lapisan tersebut menjadi salah satu ciri khas monumen yang dirancang sebagai simbol semangat perjuangan bangsa Indonesia.
Kisah mengenai sumbangan Teuku Markam kemudian berkembang menjadi cerita tentang seorang pengusaha yang disebut rela memberikan sebagian kekayaannya untuk pembangunan simbol nasional.
Namun, klaim mengenai angka tepat 28 kilogram serta posisi Teuku Markam sebagai penyumbang utama emas Monas perlu dibedakan antara narasi populer dan dokumentasi sejarah yang dapat diverifikasi.
Kehidupan Teuku Markam Berubah Setelah 1965
Kehidupan Teuku Markam kemudian mengalami perubahan besar setelah pergolakan politik 1965. Kedekatannya dengan pemerintahan Soekarno membuat dirinya berada dalam posisi sulit ketika terjadi perubahan kekuasaan dari Orde Lama menuju Orde Baru.
Teuku Markam kemudian ditangkap dan dipenjara. Dalam sejumlah catatan populer, ia disebut menjalani masa penahanan selama bertahun-tahun tanpa proses pengadilan sebagaimana mestinya. Aset dan bisnis yang sebelumnya dimilikinya juga disebut mengalami penyitaan dan pengambilalihan.
Perubahan tersebut membuat kehidupan Markam berbalik drastis. Sosok yang sebelumnya dikenal sebagai pengusaha besar kemudian harus menjalani masa tahanan dan kehilangan sebagian besar kekayaannya.
Setelah Bebas, Berusaha Memulihkan Nama
Setelah keluar dari tahanan pada 1970-an, Teuku Markam berusaha menjalani kembali kehidupannya. Namun, persoalan yang dihadapinya tidak berhenti pada hilangnya harta benda. Namanya juga telah dikaitkan dengan tuduhan politik yang muncul pada masa pergantian kekuasaan.
Markam disebut berupaya mendapatkan kembali hak-haknya serta memulihkan nama baiknya. Akan tetapi, perjuangan tersebut tidak mudah. Kisah hidupnya kemudian menjadi salah satu cerita mengenai jatuh bangunnya pengusaha pribumi yang berada dekat dengan kekuasaan politik pada era Orde Lama.
Teuku Markam dan Jejak Sejarah Monas
Teuku Markam meninggal dunia pada 1985. Namanya kini lebih banyak dikenal melalui cerita mengenai hubungannya dengan Presiden Soekarno dan kisah sumbangan emas untuk pembangunan Monas.
Monas sendiri tetap berdiri sebagai salah satu simbol nasional Indonesia. Lidah api berlapis emas di puncaknya menjadi bagian yang paling mudah dikenali dari monumen tersebut.
Di balik kemegahan Monas, kisah mengenai Teuku Markam menjadi bagian dari narasi sejarah yang menarik perhatian. Ia dikenal sebagai pengusaha Aceh yang pernah berada di lingkaran penting era Orde Lama, mengalami kejayaan ekonomi, kemudian menghadapi perubahan politik yang berdampak besar terhadap kehidupannya.
Kisah Teuku Markam juga menunjukkan bahwa sejarah pembangunan simbol nasional tidak hanya berbicara mengenai bangunan dan arsitekturnya, tetapi juga mengenai orang-orang yang terlibat di dalam perjalanan panjang pembangunannya.
Meski demikian, sejumlah klaim populer mengenai kontribusi Teuku Markam, termasuk angka 28 kilogram emas, tetap perlu dibaca secara kritis dan dibandingkan dengan sumber sejarah primer maupun dokumentasi resmi agar fakta sejarah tidak bercampur dengan legenda yang berkembang di masyarakat. (eka)











