Kultur Elit PKB yang Wajib Ditinggalkan: Tantangan bagi Masa Depan Partai Kebangkitan Bangsa

- Editor

Kamis, 28 November 2024 - 16:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Mohamad Fuad, Pengamat Politik, Dosen Universitas Gunadarma

Gus Dur, pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), memiliki harapan besar untuk partainya agar menjadi organisasi politik yang modern, demokratis, dan inklusif. PKB tidak hanya diharapkan menjadi saluran aspirasi politik, tetapi juga agen perubahan yang memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat, terutama warga Nahdlatul Ulama (NU). Hal ini sejalan dengan visi yang terkandung dalam mabda siyasi PKB yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

Kultur yang Membentuk PKB

Partai Kebangkitan Bangsa tumbuh dengan kultur yang diwarisi dari NU, yaitu aswaja, supremasi kyai, dan kebangsaan. Nilai-nilai inilah yang selama ini menjadi kekuatan PKB dan membuatnya mampu bertahan di kancah politik Indonesia. Namun, kini, budaya tersebut mengalami pergeseran, terutama dalam hal pengambilan keputusan politik di tubuh partai.

Ketaatan yang Tak Lagi Substansial

Seiring berjalannya waktu, budaya ketaatan kepada kyai dan ulama dalam PKB semakin tergerus. Dulu, ketaatan tersebut dilakukan dengan tulus dan substansial, tetapi kini banyak keputusan penting dalam partai, seperti penentuan calon presiden, wakil presiden, menteri, hingga calon legislatif, yang tidak lagi melibatkan ulama secara aktif. Keputusan-keputusan tersebut lebih didominasi oleh pihak-pihak tertentu yang sering kali bertentangan dengan harapan para kader yang telah berjuang untuk PKB. Praktik ini menyebabkan kekecewaan di kalangan kader yang merasa partai semakin menjauh dari nilai-nilai keadilan dan profesionalisme.

Penyimpangan dalam Pengelolaan Partai

Para anggota legislatif yang berhasil meraih kursi melalui perjuangan keras seringkali merasa terbebani dengan program-program yang mengharuskan mereka menyediakan dana tambahan, meskipun mereka telah berjuang mati-matian untuk mendapatkan dukungan dari rakyat. Kondisi ini semakin memperburuk citra PKB sebagai partai politik yang tidak mengutamakan kepentingan bersama, melainkan lebih mementingkan kepentingan segelintir elit partai.

Baca Juga:  Pelukis Andri Wintarso Sebut IKN Aset Masa Depan Bangsa

Kapitalisasi Politik dan Oligarki dalam PKB

Salah satu fenomena yang mencolok dalam PKB saat ini adalah kapitalisasi politik yang semakin menguat. Degradasi moral dan tumbuhnya oligarki politik membuat praktik politik di partai ini semakin memprihatinkan. Tradisi memprioritaskan kepentingan keluarga elit dan kapitalistik menggambarkan semakin menurunnya kualitas etika, moral, dan norma dalam berpolitik.

Mentalitas Korupsi di Lingkungan Partai

Mentalitas korup yang berkembang di kalangan elit PKB semakin memperburuk situasi. Dalam masyarakat modern yang kental dengan pengaruh kapitalisme, banyak anggota partai yang menganggap harta dan tahta sebagai tujuan utama dalam berpolitik, bukan untuk mengabdi kepada rakyat dan negara. Praktek ini menggambarkan betapa pentingnya reformasi internal dalam PKB agar kembali pada semangat perjuangan Gus Dur.

Masa Depan PKB: Reformasi yang Harus Dilakukan

PKB, sebagai partai politik yang besar, harus mampu meninggalkan kultur-kultur negatif yang saat ini berkembang. Partai ini perlu melakukan reformasi internal untuk menjauhkan diri dari praktik-praktik diskriminatif, oligarki politik, dan kapitalisme yang hanya menguntungkan segelintir elit. Reformasi ini akan memastikan bahwa PKB tetap relevan dan mampu mewujudkan cita-cita Gus Dur untuk menjadi agen perubahan yang membawa keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Dengan perbaikan ini, PKB diharapkan dapat kembali menjadi partai yang memimpin dengan integritas, profesionalisme, dan berlandaskan pada nilai-nilai keadilan serta pengabdian kepada rakyat. Hal ini akan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap PKB sebagai partai yang mampu memberikan perubahan yang nyata dan berkelanjutan. (hab)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Pendapat Para Pakar Jelang Putusan MK Tentang Syarat Pendidikan Calon Pemimpin Neggara
Gaji Minimum Kedamaian Maksimal
Pikiran Ekonomi Heterodoks Yudhie Haryono dan Mazhab Tebet: Dari Perlawanan Epistemik ke Kedaulatan Ekopol
Sekjen NCW Harap Kapolri Baru Perkuat Penegakan Hukum dan Berantas Korupsi di Daerah
Inisiator GNK Habib Syakur: Kapolri Suyudi Ario Seto Harus Bawa Perubahan di Tengah Isu Geopolitik
Etos Indonesia Desak DPP Golkar Cabut Surat Diskresi Ranny Fahd Arafiq: Istri Koruptor Hattrick Ancam Elektoral Partai
Selamat dan Sukses, Kepada Sahabat yang Kini Memegang Tali Pimpinan Bhayangkara
Ketika Kursi Wali Kota Jadi Jalan Menuju Jeruji Besi

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Pendapat Para Pakar Jelang Putusan MK Tentang Syarat Pendidikan Calon Pemimpin Neggara

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:34 WIB

Gaji Minimum Kedamaian Maksimal

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:52 WIB

Pikiran Ekonomi Heterodoks Yudhie Haryono dan Mazhab Tebet: Dari Perlawanan Epistemik ke Kedaulatan Ekopol

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Sekjen NCW Harap Kapolri Baru Perkuat Penegakan Hukum dan Berantas Korupsi di Daerah

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:07 WIB

Inisiator GNK Habib Syakur: Kapolri Suyudi Ario Seto Harus Bawa Perubahan di Tengah Isu Geopolitik

Berita Terbaru