Reshuffle Kabinet Kebijakan Panik?

- Penulis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Reshuffle Kabinet Pemerintahan Prabowo-Gibran (Foto: Int)

Reshuffle Kabinet Pemerintahan Prabowo-Gibran (Foto: Int)

Oleh: Agus Wahid

Bisa jadi, sebagian elemen masyarakat tertawa sinis, bahkan geram, atau semakin hopeless. Itulah sikap jika kita mencermati perombakan kabinet Merah-Putih, 27 April kemarin, di istana. Why? Kita tahu, sebagian elemen masyarakat (rakyat) menyaksikan kondisi kenegaraan yang masih carut-marut. Di antaranya faktornya masih bercokolnya sejumlah nama yang terafiliasi ke “Solo”. Mereka bagai “duri” dalam pemerintahan Praowo, sejak awal hingga kini.

Publik pun mempertaengapa nama-nama yang menduduki posisi puncak pada Kementerian Dalam Negeri, Kementerian ESDM, Kementerian Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Kementerian Kehutanan, bahkan Kapolri masih dipertahankan?

Uniknya lagi, yang dilakukan hanya reposisi, bukan perombakan substansial yang diharapkan banyak elemen publik. Kita tahu, nama Dudung Abdurahman, Ahmad Qodari, Hasan Nasbi, bahkan yang tergolong baru memasuki kandang kekuasaan (Abdul Kadir Karding) adalah geng Solo.
Dalam konteks itu, Prabowo tampak mengabaikan suara yang selama ini menggema tentang keharusan memutus mata-rantai jalinan khusus dengan geng Solo dari panggung kekuasaan. Untuk mengembalikan wibawa atau marwah pemerintahan Peabowo, sekaligus menjadi jalan menuju percepatan pembenahan nasional. Reposisi itu justru kian memperkokoh geng Solo. Sebuah gambaran peran Gibran yang mulai mencengkeram? Maybe yes. Atau, Prabowo sendiri yang masih sungkan terhadap Jokowi?

Memang ada tokoh oponen seperti Muhammad Jumhur Hidayat, yang relatif steril dari episentrum Solo. Hal ini menimbulkan spekulasi liar. Kehadiran Jumhur sebagai cara halus Prabowo “menghantam” geng Solo, karena sejarahnya pernah dipenjara zaman Jokowi. Juga, untuk menunjukkan diri dari ikhtiar bahwa Prabowo mulai menjauh dari geng Solo.

Namun demikian, kita perlu mempertanyakan, apakah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang dipercayakan kepada Muhammad Jumhur Hidayat cukup urgent untuk menjawab persoalan kegelisahan nasional saat ini? Memang penting, tapi untuk jangka panjang. Tidak terlalu krusial. Urgensinya minim.

Kini, kita perlu menelaah panorama perombakan kabinet mutakhir itu. Jika kita mencermati ketiga sosok itu (Dudung Abdurahman, Ahmad Qodari dan Hasan Nasbi), maka terlihat arahnya. Ketiga sosok itu tampak dirancang sebagai counter attack terhadap kritik, dalam kaitan pertahanan dan keamanan, ataupun kebijakan umum lainnya dalam spektrum domestik dan internasional.

Tak bisa dipungkiri, serangkaian kebijakan dan perjalanan rezim saat ini tak pernah luput dari gelombang kritik tajam publik. Dan  secara obyektif  gempuran kritik dirasakan mengganggu pemerintahan. Dengan karakteristik miilterisme seorang Prabowo, terdapat kecenderungan anti kritik. Kecenderungan itu dapat kita pahami mengapa terjadi penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, aktivis yang bersikap frontal terhadap RUU TNI. Tindakan represif dengan cara apapun, membuat gelombang kritik makin menguat.

Kita saksikan, banyak kebijakan dalam negeri dan luar negeri menuai kritik pedas. Dalam kontek kebijakan dalam negeri, kritiknya tak jauh dari penilaian gagalnya rezim saat ini dalam mengelola sistem pemerintahan yang responsif, reformatif atau restoratif, dalam kaitan ekonomi, hukum, sosial-pendidikan.

Bahkan meski muncul dalam ketegangan persepsi sektor pertahanan dan keamanan juga tergolong masih banyak persoalan. Dalam beberapa sesi, Menteri Pertahanan secara khusus mengundang sejumlah elitis tentara. Ke mana arahnya? Publik mencium gelagat revalitas tentara versus kepolisian.

Sementara itu, dalam spektrum internasional, kebijakan Prabowo yang masuk ke Board of Peace menjadi bulan-bulanan kritik. Prabowo dinilai gagal paham dalam memandang konstalasi konflik internasional di Timur Tengah yang tidak lagi berpihak pada AS dan Israel, tapi Prabowo justru mengambil posisi pro kedua negara imperialis itu. Sebuah kebijakan yang nyata-nyata menabrak Preambul konstitusi.

Baca Juga:  Agar Tidak Timbulkan Polemik, DPP-API Desak Bareskrim Polri Segera Tetapkan Panji Gumilang Sebagai Tersangka

Prabowo juga dinilai gagal menilai dampak politik nasional akibat masuk ke BoP, dalam kaitan konsistensi kebijakannya yang pro perjuangan Palestina. Minimal – dalam kaitan dampak domestik  kebijakan masuk BoP mengancam keterselamatan kebutuhan energi nasional yang dampaknya justru lebih mengerikan dari peta politik nasional.

Semua itu mengakibatkan gelombang kritik semakin tak terkendali. Di sanalah kita saksikan sekaligus memahami mengapa Prabowo mengambil tokoh yang ahli “ngoceh”, yang pijakannya a priori atau hanya omon-omon tanpa basis data dan analisis yang akurat. Ketiga manusia itu sejatinya dijadikan “bemper” rezim.

Politik “bemper” itu dapat kita catat sebagai strategi defensif atas agresi kritik yang kian menguat. Persoalannya, strategi itu tidak menjawab urgensi kondisi nasional yang memerlukan perbaikan revolusioner. Juga tidak menjawab kehendak rakyat terkait geng Solo.

Ada sisi lain yang menarik untuk kita telaah lebih jauh. Yaitu, pemandangan pengukuhan dalam perombakan kabinet kemarin dihadiri Rocky Gerung (RG). Apa relavansinya? Sekedar mendampingi sang sahabat (Muhammad Jumhur Hidayat)?

Dalam perspektif komunikasi publik, kita harus mencatat, RG adalah sosok di antara kritikus tajam dan konsisten dalam menyuarakan akal sehat. Karenanya, panorama perilaku politik Prabowo tak pernah lepas dari catatan tajam Bung RG.

Karena itu, hadirnya RG ke tengah istana dapat kita catat sebagai ikhtiar politik rezim untuk membangun jarak yang lebih dekat dengan RG. Dalam perspektif psikologi budaya, memperdekat jarak psikologis berpotensi bisa mengurangi sikap kritisnya terhadap apapun yang berkembang di seputar kekuasaan (istana).

Sebuah refleksi psikologi budaya dari kehadiran RG ke tengah istana adalah sebuah harapan untuk menciptakan rasa sungkan, ewuh-pekewuh dalam diri Rocky. At least, Jumhur Hidayat bisa dijadikan person untuk sedikit mengingatkan RG. “Ngono yo ngono, tapi ojo ngono”, sebuah kalimat pendek yang sarat makna dalam upaya mengingatkan RG. Agar tidak terlalu hingar.

Itulah sistem defensif anti kritik dengan pendekatan budaya. Apakah RG akan berubah dari cengkeraman kooptasi rezim? RG memang telah terbentuk jatidirinya yang egaliter dan manusia bebas. Kemampuan keilmuannya membuat dirinya siap berdialog kritis yang membuat sulit menjeratnya dalam ranah pidana.

Namun, RG juga manusia yang hidup dalam warna budaya ketimuran. Untuk itu, pendekatan artikulasi kultur berpotensi besar untuk mengurangi “haru-biru” Bung RG yang kita kenal selama ini.

Akhir kata, kita bisa menggarisbawahi, langkah perombakan kabinet kemarin sejatinya merupakan strategi counter attack. Bukan membungkam yang sarat dengan makna kriminalisasi, tapi lebih mengedepankan sistem pertahanan defensif dalam menghadapi gelombang agresi kritik yang kian menguat. Jika tidak dihadapi dengan cerdas, maka pembiarannya akan mengancam posisinya, dalam jangka pendek, minimal jangka panjang (ambisi mempertahankan kekuasaan periode kedua).

Mencermati arus gelombang kritik itu, sangat boleh jadi, rezim kian panik. Itulah sebabnya, diperlukan langkah urgen dalam bentuk merombak kabinet. Sayangnya, cara berpikirnya “ngasal”. Dalam posisi terhanyut, hanya satu pikirya: bagaiamana bisa selamat. Maka, dalam posisi keterhanyutannya, ia berusaha menggapai ranting-rating yang ada di sekitarnya. Itulah ilustrasi komparatif reshuffle cabinet kemarin yang sejatinya merupakan kebijakan panik.

Penulis: Analis Politik dan Kebijakan Publik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Mau Jadi Pegawai PLN? Jalur Ikatan Kerja ITPLN Ini Diburu Ribuan Pendaftar
Tragedi di Stasiun Bekasi Timur, Resah Usai Musibah
BPK Didesak Audit Bank BUMN Diduga Biayai Perusahaan Perusak Lingkungan
Dibajak di Laut, Diabaikan di Darat: Ironi Perlindungan Pelaut di Hari Buruh
ITPLN Genjot Akreditasi Unggul, Rektor Iwa Garniwa Pastikan Lulusan Siap Kerja di Era Transisi Energi
Peringatan May Day 2026, Mbak Yuke Pastikan DPRD Akan Arahkan Kebijakan Anggaran Agar Lebih Berpihak Pada Buruh
Pakar Audit Ungkap Risiko Himbara dalam Kelola Rekening Dormant
Negara Bicara Angka, Pengangguran Bicara Realita
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:20 WIB

Mau Jadi Pegawai PLN? Jalur Ikatan Kerja ITPLN Ini Diburu Ribuan Pendaftar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 09:05 WIB

Tragedi di Stasiun Bekasi Timur, Resah Usai Musibah

Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:52 WIB

Reshuffle Kabinet Kebijakan Panik?

Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:34 WIB

BPK Didesak Audit Bank BUMN Diduga Biayai Perusahaan Perusak Lingkungan

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:57 WIB

Dibajak di Laut, Diabaikan di Darat: Ironi Perlindungan Pelaut di Hari Buruh

Berita Terbaru

Seluruh rakyat Indonesia turut berduka atas terjadinya kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur wilayah Kota Bekasi-Jawa Barat yang menyebabkan korban meninggal dan luka. Peristiwa memilukan yang terjadi pada 27 April 2026

Headline

Tragedi di Stasiun Bekasi Timur, Resah Usai Musibah

Sabtu, 2 Mei 2026 - 09:05 WIB

Reshuffle Kabinet Pemerintahan Prabowo-Gibran (Foto: Int)

Headline

Reshuffle Kabinet Kebijakan Panik?

Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:52 WIB

Sekretaris Pendiri Indonesia Audit Watch (IAW) Iskandar Sitorus (Foto: Mediakarya)

Ekonomi & Bisnis

BPK Didesak Audit Bank BUMN Diduga Biayai Perusahaan Perusak Lingkungan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:34 WIB