Teladan yang Membungkam, Inilah Pesan Pimpinan Ponpes Gontor di Hadapan Presiden

- Editor

Senin, 21 September 2026 - 06:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pinpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, K.H. Hasan Abdullah Sahal (Foto: Istimewa)

Pinpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, K.H. Hasan Abdullah Sahal (Foto: Istimewa)

PONOROGO, Mediakarya – Pinpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, K.H. Hasan Abdullah Sahal, baru-baru ini menyampaikan pesan yang dinilai cukup tajam di hadapan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto serta para pejabat tinggi negara saat memberikan sambutan peringatan satu abad Ponpes Gontor.

Dengan bahasa yang lugas namun penuh makna, K.H. Hasan Abdullah Sahal menegaskan bahwa dirinya siap dikritik bahkan didemo jika gaya hidup dan tempat tinggalnya melebihi apa yang dinikmati oleh para santri.

“Jika gaya hidup kami, pakaian kami, makanan kami, tempat tinggal kami, melebihi apa yang dinikmati oleh para santri; silakan mereka protes, silakan mereka turun ke jalan, silakan mereka demonstrasi,” ungkap Kiyai Sahal.

Pakar kominikasi publik, Dr. Adi Suparto menyebut bahwa kalimat yang disampaikan K.H. Hasan Abdullah Sahal itu bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai janji kesetaraan, kesederhanaan, dan pertanggungjawaban yang paling jujur.

Adi memaparkan, inti yang terkandung dalam pesan yang disampaikan oleh Kiiai Sahal, pertama, pemimpin tidak boleh hidup di atas yang dipimpin.

Menurut dia, tidak ada alasan, tidak ada jabatan, tidak ada kehormatan yang membuat seseorang berhak menikmati kemewahan sementara mereka yang dididik atau dipimpin hidup sederhana bahkan kekurangan.

“Dalam pesannya itu beliau (Kiai Sahal) menyampaikan bahwa fasilitas pimpinan tidak boleh melampaui fasilitas yang tersedia bagi yang dipimpin, itulah ukuran keadilan yang paling nyata,” ujar Adi kepada Mediakarya, Ahad (20/9/2026).

Kedua, keterbukaan untuk dikritik adalah bukti kepemimpinan yang kuat. Kiai Sahal tidak menutup diri dari protes.

“Beliau justru mengundangnya, asalkan alasannya benar. Pemimpin sejati tidak takut pada suara rakyat, namun ia takut pada ketidakadilan yang diam-diam terjadi di bawah kepemimpinannya,” lanjut Adi.

Ketiga, keteladanan tidak bisa digantikan oleh pidato. Aturan yang paling kuat bukan yang tertulis di papan pengumuman, melainkan yang terlihat dari kehidupan sehari-hari pimpinan.

Baca Juga:  Kasus Blueray: Benang Merah Menembus Banyak Seragam

“Jika pengasuh bangun paling awal, santri akan bangun lebih awal. Jika pengasuh makan sederhana, santri akan menghargai makanan. Jika pengasuh hidup hemat, bangsa akan belajar tidak boros,” ucapnya.

Keempat, rendah hati adalah kekuasaan yang sesungguhnya. Di hadapan Kepala Negara, Kiai Sahal tidak meninggikan diri, justru merendahkan diri sedemikian rupa sehingga mengingatkan semua orang: kekuasaan hanyalah amanah, bukan hak milik.

“Sebab semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin rendah hatinya seharusnya,” tegas Adi.

Cermin bagi Para Pemimpin Bangsa

Lebih jauh Adi mengungkapkan, bahwa pesan Kiai Sahal itu bukan hanya untuk lingkungan pesantren. Namun demikian, pesan yang disampaikan oleh pentolan Gontor itu merupakan cermin bagi seluruh pejabat publik, di mana pun mereka berada.

Separti, ketika pemimpin naik kendaraan mewah sementara rakyat berdesakan, pesan Gontor mengingatkan: keseimbangan itu hilang.

Kemudian, saat pejabat menginap di hotel berbintang saat kunjungan kerja ke daerah yang penduduknya sulit makan, pesan Gontor mengingatkan ada jarak yang berbahaya.

Selanjutnya, di saat gaya hidup istana dan gedung pemerintahan makin jauh dari keseharian rakyat, pesan Gontor mengingatkan jangan heran jika rakyat akhirnya berbicara di jalanan.

“Dalam hal ini keadilan tidak hanya diucapkan di atas panggung. Ia terlihat dari seberapa sederhana kehidupan pemimpin dibandingkan mereka yang ia pimpin,” kata Adi.

Adi mengungkapkan, bahwa seratus tahun Gontor berdiri bukan karena gedung yang tinggi, bukan karena kekayaan yang banyak, melainkan karena ada kesetaraan, yang memimpin hidup setara dengan yang dipimpin.

“Itulah warisan yang paling berharga. Semoga pesan ini bukan sekadar didengar dan diingat sesaat, melainkan dijalankan, mulai dari diri sendiri, di setiap jabatan, di setiap langkah kehidupan. Pemimpin yang sejati tidak dilihat dari seberapa tinggi ia duduk, melainkan seberapa dekat ia berdiri bersama rakyatnya,” pungkasnya. (Supri)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Praktisi Hukum Herdiyan Saksono Bedah Skandal Penyadapan Ilegal Pejabat Tinggi: Puncak Gunung Es Rusaknya Demokrasi
SBY Geram, Ada Mantan Presiden Jadi Hantu Demokrasi, Prof. Didik: Usut Agen dan Prinsipal Penyadapan
Mubahalah Habib Rizieq Mulai Bekerja! Satu Per Satu Pelaku KM 50 Dijatuhkan Allah
LPKAN: Negara Hukum Tidak Boleh Dikendalikan Kekuasaan, Polri Bukan Alat Kelompok
BTS 4G di Wilayah 3T Mulai Beroperasi, Kontraktor Klaim Tagihan Ratusan Miliar Belum Dibayar
Jangan Berhenti di Polri, LI-PTK Desak Prabowo Copot Menteri KMP Afiliasi Geng Solo
Sekjen PDIP Apresiasi Kapolri Jenderal Suyudi, Penyadapan Presiden Prabowo Itu Pelanggaran HAM Berat dan Makar
Mahfud MD Tegaskan Pasal Makar Mengintai Mantan Kapolri, Bisa Hukuman Mati!

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 13:44 WIB

Praktisi Hukum Herdiyan Saksono Bedah Skandal Penyadapan Ilegal Pejabat Tinggi: Puncak Gunung Es Rusaknya Demokrasi

Kamis, 5 November 2026 - 12:33 WIB

SBY Geram, Ada Mantan Presiden Jadi Hantu Demokrasi, Prof. Didik: Usut Agen dan Prinsipal Penyadapan

Kamis, 5 November 2026 - 08:16 WIB

Mubahalah Habib Rizieq Mulai Bekerja! Satu Per Satu Pelaku KM 50 Dijatuhkan Allah

Rabu, 4 November 2026 - 17:38 WIB

LPKAN: Negara Hukum Tidak Boleh Dikendalikan Kekuasaan, Polri Bukan Alat Kelompok

Rabu, 4 November 2026 - 17:34 WIB

BTS 4G di Wilayah 3T Mulai Beroperasi, Kontraktor Klaim Tagihan Ratusan Miliar Belum Dibayar

Berita Terbaru