PONOROGO, Mediakarya – Pinpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, K.H. Hasan Abdullah Sahal, baru-baru ini menyampaikan pesan yang dinilai cukup tajam di hadapan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto serta para pejabat tinggi negara saat memberikan sambutan peringatan satu abad Ponpes Gontor.
Dengan bahasa yang lugas namun penuh makna, K.H. Hasan Abdullah Sahal menegaskan bahwa dirinya siap dikritik bahkan didemo jika gaya hidup dan tempat tinggalnya melebihi apa yang dinikmati oleh para santri.
“Jika gaya hidup kami, pakaian kami, makanan kami, tempat tinggal kami, melebihi apa yang dinikmati oleh para santri; silakan mereka protes, silakan mereka turun ke jalan, silakan mereka demonstrasi,” ungkap Kiyai Sahal.
Pakar kominikasi publik, Dr. Adi Suparto menyebut bahwa kalimat yang disampaikan K.H. Hasan Abdullah Sahal itu bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai janji kesetaraan, kesederhanaan, dan pertanggungjawaban yang paling jujur.
Adi memaparkan, inti yang terkandung dalam pesan yang disampaikan oleh Kiiai Sahal, pertama, pemimpin tidak boleh hidup di atas yang dipimpin.
Menurut dia, tidak ada alasan, tidak ada jabatan, tidak ada kehormatan yang membuat seseorang berhak menikmati kemewahan sementara mereka yang dididik atau dipimpin hidup sederhana bahkan kekurangan.
“Dalam pesannya itu beliau (Kiai Sahal) menyampaikan bahwa fasilitas pimpinan tidak boleh melampaui fasilitas yang tersedia bagi yang dipimpin, itulah ukuran keadilan yang paling nyata,” ujar Adi kepada Mediakarya, Ahad (20/9/2026).
Kedua, keterbukaan untuk dikritik adalah bukti kepemimpinan yang kuat. Kiai Sahal tidak menutup diri dari protes.
“Beliau justru mengundangnya, asalkan alasannya benar. Pemimpin sejati tidak takut pada suara rakyat, namun ia takut pada ketidakadilan yang diam-diam terjadi di bawah kepemimpinannya,” lanjut Adi.
Ketiga, keteladanan tidak bisa digantikan oleh pidato. Aturan yang paling kuat bukan yang tertulis di papan pengumuman, melainkan yang terlihat dari kehidupan sehari-hari pimpinan.
“Jika pengasuh bangun paling awal, santri akan bangun lebih awal. Jika pengasuh makan sederhana, santri akan menghargai makanan. Jika pengasuh hidup hemat, bangsa akan belajar tidak boros,” ucapnya.
Keempat, rendah hati adalah kekuasaan yang sesungguhnya. Di hadapan Kepala Negara, Kiai Sahal tidak meninggikan diri, justru merendahkan diri sedemikian rupa sehingga mengingatkan semua orang: kekuasaan hanyalah amanah, bukan hak milik.
“Sebab semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin rendah hatinya seharusnya,” tegas Adi.
Cermin bagi Para Pemimpin Bangsa
Lebih jauh Adi mengungkapkan, bahwa pesan Kiai Sahal itu bukan hanya untuk lingkungan pesantren. Namun demikian, pesan yang disampaikan oleh pentolan Gontor itu merupakan cermin bagi seluruh pejabat publik, di mana pun mereka berada.
Separti, ketika pemimpin naik kendaraan mewah sementara rakyat berdesakan, pesan Gontor mengingatkan: keseimbangan itu hilang.
Kemudian, saat pejabat menginap di hotel berbintang saat kunjungan kerja ke daerah yang penduduknya sulit makan, pesan Gontor mengingatkan ada jarak yang berbahaya.
Selanjutnya, di saat gaya hidup istana dan gedung pemerintahan makin jauh dari keseharian rakyat, pesan Gontor mengingatkan jangan heran jika rakyat akhirnya berbicara di jalanan.
“Dalam hal ini keadilan tidak hanya diucapkan di atas panggung. Ia terlihat dari seberapa sederhana kehidupan pemimpin dibandingkan mereka yang ia pimpin,” kata Adi.
Adi mengungkapkan, bahwa seratus tahun Gontor berdiri bukan karena gedung yang tinggi, bukan karena kekayaan yang banyak, melainkan karena ada kesetaraan, yang memimpin hidup setara dengan yang dipimpin.
“Itulah warisan yang paling berharga. Semoga pesan ini bukan sekadar didengar dan diingat sesaat, melainkan dijalankan, mulai dari diri sendiri, di setiap jabatan, di setiap langkah kehidupan. Pemimpin yang sejati tidak dilihat dari seberapa tinggi ia duduk, melainkan seberapa dekat ia berdiri bersama rakyatnya,” pungkasnya. (Supri)











