Oleh : Aris Gunawan Ketua DPC GMNI Sukabumi Raya
Kami memandang serius peristiwa yang terjadi di Kabupaten Pati, di mana kepemimpinan yang arogan, jauh dari aspirasi rakyat, serta kebijakan menaikkan pajak tanpa kajian matang, telah menimbulkan keresahan dan penderitaan masyarakat. Fenomena ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa pola kepemimpinan yang mengabaikan prinsip kerakyatan dan keadilan sosial dapat terjadi di mana saja — termasuk di Kota Sukabumi — jika masyarakat lengah dan pemimpin terpilih tidak diawasi secara kritis.
Kota Sukabumi harus belajar dari pengalaman pahit tersebut. Pemimpin daerah sejatinya adalah pelayan rakyat, bukan penguasa yang semena-mena menentukan kebijakan demi kepentingan segelintir pihak. Kenaikan pajak atau pungutan yang membebani masyarakat hanya akan memperlebar jurang kesenjangan dan menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat Sukabumi untuk bersatu, kritis, dan berani menyuarakan pendapat ketika kebijakan yang lahir berpotensi menyengsarakan rakyat. Dan kepada para pemangku kebijakan, kami menegaskan: dengarkan suara rakyat, libatkan mereka dalam setiap pengambilan keputusan, dan jalankan kepemimpinan dengan rendah hati serta penuh tanggung jawab.
yang terjadi di kabupaten pati bisa terjadi di daerah manapun ! Hal ini GMNI Sukabumi Raya menilai ada kemiripan pada gaya kepemimpinan Bupati Pati dan Walikota Sukabumi. Kenapa Demikan kami katakan , Contoh kasus yang selalu kami ingatkan dan kritisi pada kebijakan yang selalu di buat oleh walikota sukabumi, mengenai Dominasi Kelompok penuh dengan Abuse Of Power, mendekatakan pada KKN (Korupsi,Kolusi dan Nepotisme) dan akhir-akhir ini menaikan pajak pada UMKM (khusunya para pecinta jajanan-jajanan) yang sering di beli setiap hari nya seperti; Kopi dll.
Hal ini menjadi bagian dari alarm bahwa jangan sampe Walikota sulabumi jumawa dan arogan pada stiap kebijakan yang selalu di keluarkan. kami mahasiswa sedikit tersinggung ketika walikota pernanh menantang Dialog kepada Mahasiswa agar membawa Data , padahal setiap lami mealkukan keritik melalui parlemen jalanan Aksi Demonstrasi) kami hingga 3x tidak pernah di temui satu kalipun, padalah kita selalu mwmbawa data hasil kajiam dan analisi akademik kami.
Bukan Hanya itu , walikota pernah menyatakan bahwa akan menggelontorkan anggaran kepada mahasiwa untuk ruang kreativitas. bagi kami ini senagai bentuk Penghinaan dan pemimpin mental pedagang. sehingga pendekatan yang diberikan selalu matrealistik bukan pada Dialetiktis yang konstruktif!
Sekali lagi kami katakan , Kejadian di kabupaten Pati bisa terjadi di daerah/kota/kabupaten manapun ketika Kekuasaan yang otoriter/ Arogan akan Runtuh oleh kekuatan Rakyat (People Power).
Vox populi, vox dei” ( SUARA RAKYAT ADALAH SUARA TUHAN)






