JAKARTA, Mediakarya – Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute yang juga pengamat politik, Iskandarsyah, menyoroti ramainya pemberitaan terkait desakan pemakzulan terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait polemik ijazah.
Iskandarsyah menduga ada kepentingan elit tertentu yang sengaja menggoreng isu keabsahan ijazah Gibran sehingga berujung pada desakan pemakzulan. Menurutnya, pembahasan terkait ijazah Gibran sudah tidak terbendung dan sengaja digiring untuk mengalihkan perhatian publik dari program pemerintah yang bermasalah.
“Kami menduga isu tersebut sengaja digoreng guna menutupi program pemerintah yang yang dinilai gagal, yakni MBG dan Kopdes agar tetap berjalan tanpa pantauan masyarakat. Publik digiring kepada isu yang buat saya memang mengada-ngada. Ini seperti lagi cari panggung dibantu bohirnya,” ujar Iskandarsyah kepada Mediakarya di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Iskandarsyah mempertanyakan momentum mencuatnya kembali kasus tersebut setelah dua tahun pemerintahan berjalan dan seolah diamini oleh MK, lalu bergerak bersama-sama meneriakkan pemakzulan.
Prabowo Tak Akan Jadi Presiden Tanpa Gibran
Iskandarsyah menegaskan Gibran tidak maju sendiri, ada pasangannya yaitu Presiden Prabowo Subianto. Jika Gibran dianggap cacat moral, maka yang lebih cacat moral adalah pihak yang menjadikan Gibran sebagai Wakil Presiden pada Pilpres 2024 lalu. “Tidak bisa lepas dari itu karena semua satu rangkaian,” tegasnya.
Ia menilai kemenangan Prabowo tidak lepas dari figur Gibran sebagai pasangan. “Kalau Pak Prabowo tidak berpasangan dengan Mas Gibran, pertanyaan saya satu, Pak Prabowo bisa jadi presiden hari ini? Saya katakan tidak akan jadi. Ini rangkaian skema pemenangan beliau kok. Saya berani taruh kalau Pilpres lalu Pak Prabowo berpasangan dengan Erick Thohir atau Yusril Ihza Mahendra, saya pastikan beliau mengalami kekalahan ketiga kalinya di Pilpres,” ujarnya.
Iskandarsyah juga mengingatkan agar loyalis Prabowo jangan pura-pura tidak tahu terkait legalitas Gibran. Saat itu, kata dia, segala skema dibuat untuk memuluskan Gibran, mulai dari putusan MK hingga lolos verifikasi di KPU.
“Semua dibuat sebaik mungkin sehingga bisa mewujudkan mimpi Pak Prabowo jadi presiden. Lalu sekarang didebatkan, diributkan, terus mau sama-sama memakzulkan lewat parlemen? Terus jika mandek mau lewat jalanan? Jalanan mana?” katanya.
Iskandarsyah menegaskan jangan pernah bermimpi terjadi revolusi atau perubahan melalui tangan elit. Menurutnya, revolusi hanya akan lahir dari gerakan rakyat murni.
Lebih lanjut, revolusi yang dimotori oleh kepentingan elit hanya membawa kekecewaan besar rakyat terhadap pemerintah. Saat ini rasa lapar rakyat yang sudah kronis, rasa benci rakyat terhadap program pemerintah yang ngawur sudah memuncak.
“Kalau revolusi pakai bohir bukan revolusi namanya. Perubahan bangsa ini hanya lewat jalan Tuhan, bukan karena elit mengatasnamakan rakyat untuk perubahan,” pungkas Iskandarsyah menutup wawancaranya. (Ugy)









