Ia menilai, tanpa peta jalan pengembangan SDM yang jelas dan terintegrasi, target pengoperasian PLTN berpotensi sulit tercapai. Pasalnya, proyek nuklir merupakan investasi jangka panjang yang memerlukan persiapan matang sejak tahap awal.
Berdasarkan pengalaman internasional, seluruh proses pembangunan PLTN—mulai dari perencanaan, studi kelayakan, hingga operasi—dapat memakan waktu hingga 12 tahun. Bahkan, studi kelayakan saja membutuhkan waktu minimal dua tahun untuk memastikan keamanan lokasi dalam jangka panjang.
“Studi kelayakan harus menjamin keselamatan wilayah setidaknya hingga 100 tahun ke depan. Jika target operasi ditetapkan pada 2032, maka pertanyaan mendasarnya adalah siapa yang akan mengoperasikan fasilitas tersebut,” tegasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ITPLN menyiapkan sistem pendidikan nuklir berjenjang. Pada tingkat sarjana (S1), mahasiswa dibekali dasar ilmu nuklir, material, dan termohidrolika. Program magister (S2) difokuskan pada analisis keselamatan dan simulasi reaktor, sementara program doktoral (S3) diarahkan pada riset lanjutan, termasuk pengembangan small modular reactor (SMR) dan kebijakan energi.




