Rupiah Murah, Rasuah Meriah

- Penulis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Oleh: Yusuf Blegur

Lahirnya kebijakan Danantara, MBG, KDMP, kenaikan pajak, dan penghapusan subsidi secara gradual serta beragam langkah-langkah politik dan ekonomi destruktif lainnya. Harus dilihat publik sebagai konsolidasi KKN yang terstruktur, sistematis, dan masif. Dilakukan pemerintah demi menumpuk kekayaan pribadi dan kelompoknya serta upaya menyiapkan kesinambungan kekuasaan dalam pemilu legislatif dan pemilihan presiden tahun 2029

Sepanjang sejarah kehadiran Indonesia dan pemerintahan berlaku, baru kali ini rupiah sebagai mata uang negara mengalami titik terendah dan cenderung akan terus mengalami penurunan drastis. Menembus 18.000 USD, sebuah angka fantastis yang menunjukkan betapa rupiah semakin tak berharga sekaligus rakyat tak berdaya dan bangsa yang terhina.

Kenapa demikian?. Masalahnya, Indonesia bukan negara miskin, bukan yang letak geografis dan geopolitik tidak strategis dan bukan tak punya kekayaan alam serta sumber daya manusia potensial. Ini soal pemimpin dan pejabat negara yang disorientasi kebangsaan, tentang behaviornya elit politik yang berkhianat pada nasionalisme dan patriotisme.

Kebijakan pemerintah yang menjadikan pajak sebagai tulang punggung pembangunan terasa begitu menyakitkan. Rakyat diperas dari hasil keringatnya, tak ubahnya upeti di zaman kolonial. Sementara hasil pengelolaan sumber daya alam yang eksploitatif tak pernah dipublish secara transparan, kapabel dan akuntabel serta signifikan untuk kesejahteraan rakyat. Sepertinya negara berada dalam transformasi penjajahan lama ke modern, dari sifat yang sama dengan wajah baru, dari pelaku global hingga orang lokal. Negara ini benar-benar mengandalkan pajak untuk pembangunan dan rakyat yang harus menanggungnya.

Rakyat yang membiayai negara dan pejabat yang menikmati kekayaannya. Rakyat diliputi derita dan sengsara, penguasa dan segelintir pengusaha yang berpesta pora. Korupsi merajalela dalam pemerintahan, rakyat terus menjadi korban kebijakan serampangan. Sistem kakistokrasi menjadi andalan rezim yang melahirkan kebodohan dan kemiskinan struktural, seiring sejalan berlangsungnya kekuasaan yang korup, manipulatif, dan destruktif.

Baca Juga:  Membaca Rencana Penyatuan Bapanas dengan Perum Bulog

Pengelolaan kekayaan negara oleh pemimpin dan pejabat yang tak kompeten bukan sekadar tak efisien dan efektif, lebih dari itu terlalu menyimpang dan membahayakan perekonomian nasional. Kebijakan sektor keuangan tak lagi berbasis pada kemampuan mengelola moneter dan fiskal yang sehat. Pemerintah terus membuat infra struktur ekonomi yang menghambur-hamburkan uang. Kebijakan keuangan dikeluarkan berbasis utang dan bertendensi korupsi. Ekonomi terancam bangkrut, rakyat mengalami depresi, dan negara terancam chaos.

Rupiah murah dan rasuah meriah. Rezim hanya fokus melakukan konsolidasi politik dan ekonomi demi meraih kemenangan pemilu legislatif dan presiden berikutnya. Segala cara dilakukan untuk menumpuk kekayaan sekaligus menyiapkan pembiayaan pemilu yang menjamin kekuasaan berkesinambungan. Korupsi dan perilaku tiran rezim bermetamorfosis sebagai proses dan tujuan bernegara. Pemerintah membangun kedigdayaan dan rakyat yang harus menanggung kepiluan.

Iklim investasi melemah akibat perilaku korup dan ‘abuse of power’. Ketidakpercayaan dan sikap ragu investor semakin tinggi melihat perilaku korup pemerintah. Kebijakan keuangan berbasis utang, investasi, dan pemborosan atas nama efisiensi anggaran telah menggerus kedaulatan dan kehormatan negara. Kabinet pemerintahan gemuk yang sejatinya merupakan bagi-bagi kue kekuasaan kebablasan tanpa kontrol. Danantara, MBG, KDMP, kenaikan pajak perusahaan, penghapusan subsidi gradual berdampak ‘rush money’ pada dunia bisnis internasional dan semakin terpuruknya ekonomi UMKM lokal dan pekerja kelas bawah serta rakyat pada umumnya. Akibatnya nyata dari rupiah melemah dan rasuah meriah, Indonesia memasuki situasi dan kondisi yang layak disebut ‘goverment less and failed state’.

Sekali lagi, selamat menikmati rupiah yang kian melemah dan rasuah semakin meriah.

Penulis: Analis Institute for Public Policy Stratgic

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Pengungkapan Kasus Korupsi di BGN Jadi Momentum Reformasi Prorgam MBG
Bank Jakarta Usung Visi Financial Operating System untuk Perkuat Ekosistem Kota
Bank Jakarta Siapkan Empat Strategi Wujudkan Jakarta yang Inklusif dan Terkoneksi
Perkuat PAD dan Fasilitas Publik, Bupati Nias Selatan dan PLN Nias Teken Addendum Kerja Sama PBJT
Mengenal Lebih Dekat Kepala BGN Nanik S Dayeng
Presiden Prabowo Copot Tiga Pejabat Penting di BGN
DPP LPKAN Indonesia Siap jadi Mitra Strategis Kawal PP 20 Tahun 2026
Program Makan Bergizi Gratis: Siapa Sebenarnya Diuntungkan?
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 21:14 WIB

Pengungkapan Kasus Korupsi di BGN Jadi Momentum Reformasi Prorgam MBG

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:17 WIB

Rupiah Murah, Rasuah Meriah

Sabtu, 6 Juni 2026 - 12:33 WIB

Bank Jakarta Usung Visi Financial Operating System untuk Perkuat Ekosistem Kota

Sabtu, 6 Juni 2026 - 09:37 WIB

Perkuat PAD dan Fasilitas Publik, Bupati Nias Selatan dan PLN Nias Teken Addendum Kerja Sama PBJT

Rabu, 3 Juni 2026 - 09:32 WIB

Mengenal Lebih Dekat Kepala BGN Nanik S Dayeng

Berita Terbaru

Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana saat  hendak digelandang ke mobil tahanan.

Ekonomi & Bisnis

Pengungkapan Kasus Korupsi di BGN Jadi Momentum Reformasi Prorgam MBG

Sabtu, 6 Jun 2026 - 21:14 WIB

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Ekonomi & Bisnis

Rupiah Murah, Rasuah Meriah

Sabtu, 6 Jun 2026 - 20:17 WIB