JAKARTA, Mediakarya – Hengkangnya sejumlah kader utama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) harus menjadi momentum partai besutan Grace Natalie itu untuk berbenah, terutama mengevaluasi kepemimpinan Giring Ganesha.
Hal itu dikatakan Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin menanggapi pengakuan sejumlah kader yang hengkang lantaran PSI telah melenceng dari visi dan misi partai.
“Kalau ketua umumnya membiarkan visi misi yang melenceng, maka yang bersangkutan sudah lalai dari tanggung jawabnya. Ketua Umum seperti itu sudah layak diganti karena tidak mampu membawa partai sesuai visi misinya,” kata Jamiluddin dalam keterangannya, Jumat (16/12/2022).
Jamiluddin menilai sosok Giring sebagai salah satu yang membuat PSI terpuruk. Menurutnya, Giring kerap melontarkan kritik, namun terkesan membabi buta. Tindak tanduk Giring itu yang justru membuat masyarakat antipati.
“Kritik yang dilakukan, terutama kepada sosok yang tidak disukai, terkesan membagi buta. Akibatnya, kritik yang dilayangkan lebih bernada nyinyir, sehingga menimbulkan antipati di tengah masyarakat,” ujarnya.
“Kader yang dapat membaca hal itu, tentu melihat masa depan di PSI suram. Hal itu tentunya akan berdampak pada kader yang memang ingin lebih maju lagi,” kata Jamiluddin.
Menurut dia, PSI rawan sebagai partai peserta Pemilu 2024. Selain itu, internal PSI juga berpotensi retak yang memicu kader-kader lainnya hengkang.
Untuk itu ia menyarankan agar, PSI melakukan evaluasi secara menyeluruh baik dalam pola komunikasi partai maupun branding yang diangkat, agar ‘mimpi buruk’ di 2019 lalu tidak terulang kembali.
“Para kader yang ingin ke Senayan tentu tidak punya harapan bila tetap bertahan di PSI. Jalan terbaik bagi mereka tentu keluar dari PSI untuk pindah ke partai lain yang lebih menjanjikan,” ujarnya.
Terpisah, Pengamat Politik Universitas Padjadjaran Kunto Adi Wibowo melihat hengkangnya sejumlah kader yang memiliki nama menjanjikan di PSI merupakan sebuah hal wajar ketika wadah partai sudah tidak sesuai dengan visi dan misi personal.
“Jadi menurut saya, ini sebuah kewajaran ya, sebuah dinamika menjelang 2024,” kata Kunto dilansir dari laman CNN.
Kunto melihat para kader yang hengkang ingin berlabuh di partai politik lain yang lebih menjanjikan dan bisa membawa mereka melenggang ke Senayan, hal yang mungkin masih susah dilakukan oleh PSI.
“Mungkin pentolan-pentolan ini ingin berlabuh di partai yang menjanjikan untuk bisa dapat electoral threshold dan bisa duduk di kursi DPR,” ujarnya. (Pri)






