20 Tahun MoU Helsinki, JASA: Perdamaian Aceh Kian Rapuh

- Editor

Kamis, 14 Agustus 2025 - 22:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDA ACEH, Mediakarya – Dua dekade setelah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005, yang mengakhiri konflik bersenjata antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), pertanyaan besar muncul: apakah janji-janji perdamaian benar-benar telah dirasakan oleh masyarakat akar rumput, atau justru hanya menjadi “perdamaian semu”?

Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA), Datul Abrar, menyampaikan pandangan kritis terkait situasi keamanan, keadilan sosial, dan ekonomi Aceh, khususnya di Aceh Utara. Menurutnya, perdamaian di Aceh kian merapuh karena banyak poin kesepakatan yang belum diimplementasikan secara utuh ke dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA).

“Selama 20 tahun ini, pihak Republik Indonesia telah abai terhadap komitmen perdamaian. Butir-butir MoU Helsinki tidak direalisasikan sepenuhnya. Ini membuat perdamaian di Aceh bersifat semu,” ujar Datul Abrar, Kamis (14/8/2025).

Ia menegaskan, perdamaian bukan sekadar absennya perang, melainkan terciptanya rasa keadilan, kepercayaan, dan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat Aceh. Jika poin-poin tersebut terus diabaikan, ia mengingatkan, kondisi ini ibarat “bom waktu” yang dapat memicu konflik baru.

Baca Juga:  Hasil Rakoor Desa Hilisao'oto: Pergantian Sekdes Ditunda, Usulan Evaluasi Pj. Kades Dikawal Sesuai Aturan

“Dua puluh tahun bukan waktu singkat, ini adalah pergantian satu generasi. Hari ini kami tegaskan, Gerakan Aceh Merdeka masih ada. Kami adalah generasi yang akan melanjutkan tonggak perjuangan, dan kami mempersiapkan kekuatan untuk segala kemungkinan ke depan,” tegasnya.

Selain itu, Datul Abrar menyoroti pentingnya peran struktur wilayah seperti Sagoe dan jaringan mantan kombatan dalam menjaga persatuan serta mengawal realisasi MoU Helsinki di tengah dinamika politik daerah maupun nasional. Ia juga menilai partisipasi masyarakat dalam peringatan 20 tahun MoU Helsinki yang dihadiri tokoh dunia, diplomat, dan mantan negosiator perdamaian, menjadi momentum untuk mengingatkan kembali janji-janji yang belum terpenuhi.

JASA menyerukan agar pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh segera menuntaskan seluruh poin yang masih tertunda dari MoU Helsinki demi keadilan dan kesejahteraan rakyat Aceh. (Zulmalik)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Renungan Kemerdekaan: Masa Depan Demokrasi dan Hukum
Gelorakan Semangat Kemerdekaan, Polres Nisel Gandeng LSM dan Mahasiswa Hijaukan Jalanan dengan Merah Putih
Pakar Komunikasi Ini Apresiasi atas Penghargaan Diraih Polres Pamekasan dari Kapori
OT Peduli Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Gempa M 7,7 Nagekeo NTT
Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, IPPS Sebut Saatnya Jauhkan Prabowo dari Mikrofon
Peringatan Perdamaian Aceh Berujung Pengibaran Bendera Bulan Bintang
Hasil Rakoor Desa Hilisao’oto: Pergantian Sekdes Ditunda, Usulan Evaluasi Pj. Kades Dikawal Sesuai Aturan
Padukan Nilai Estetika, Wali Kota Bekasi Apresiasi Turap Bumi Bekasi Baru

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 21:25 WIB

Renungan Kemerdekaan: Masa Depan Demokrasi dan Hukum

Minggu, 16 Agustus 2026 - 21:15 WIB

Gelorakan Semangat Kemerdekaan, Polres Nisel Gandeng LSM dan Mahasiswa Hijaukan Jalanan dengan Merah Putih

Minggu, 16 Agustus 2026 - 20:52 WIB

Pakar Komunikasi Ini Apresiasi atas Penghargaan Diraih Polres Pamekasan dari Kapori

Minggu, 16 Agustus 2026 - 18:53 WIB

OT Peduli Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Gempa M 7,7 Nagekeo NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, IPPS Sebut Saatnya Jauhkan Prabowo dari Mikrofon

Berita Terbaru

Rektor Universitas Paramadina dan Pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Prof Dr Didik J Rachbini. (Ist)

Headline

Renungan Kemerdekaan: Masa Depan Demokrasi dan Hukum

Senin, 17 Agu 2026 - 21:25 WIB

Pekerja pelabuhan saat menurunkan beras impor. (Ist)

Opini

Kenapa Beras Fortifikasi Menjamur di Retail Modern?

Minggu, 16 Agu 2026 - 20:59 WIB