Layakkah Prabowo Kembali Didukung di Pilpres 2024?

- Editor

Selasa, 31 Mei 2022 - 07:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rohimat, Ketua Umum Pemuda Mandiri Peduli Rakyat Indonesia (PMPRI)

Rohimat, Ketua Umum Pemuda Mandiri Peduli Rakyat Indonesia (PMPRI)

Oleh: Rohimat (Joker)

Konstelasi politik jelang pemilihan presiden 2024 sudah mulai memanas. Sejumlah lembaga survei pun telah merilis sederet tokoh yang masuk bursa calon presiden (Capres) pada ajang kontestasi politik tiap lima tahun tersebut.

Dari sejumlah tokoh yang muncul, nama Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto, kerap disebut-sebut bakal maju pada Pilpres mendatang.

Namun yang menarik perhatian adalah nama Prabowo Subianto. Bila Ketua Umum Partai Gerindra itu kembali maju pada Pilpres 2024 mendatang, maka untuk yang keempat kalinya (Prabowo) ikut bertarung pada ajang kontestasi Pilpres tersebut.

Seperti diketahui, pada Pilpres 2009 silam Prabowo Subianto menjadi Cawapres berpasangan dengan Megawati Soekarno Putri. Namun saat itu pasangan tersebut harus mengakui keunggulan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla (SBY-JK).

Kalah pada Pilpres 2009 tidak menyurutkan Prabowo kembali maju pada ajang kontestasi Pilpres selanjutnya. Di mana pada tahun 2014 Prabowo Subianto berpasangan dengan Ketum PAN Hatta Rajasa.

Lagi-lagi Prabowo harus menelan pil pahit karena kekalahannya dari pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Kemudian pada Pilpres tahun 2019 silam, Prabowo kembali maju untuk ketiga kalinya, saat itu berpasangan dengan Sandiaga Uno. Namun Prabowo kembali kalah oleh pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin, pada Pilpres tersebut.

Meski Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kalah oleh pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, akan tetapi suara Partai Gerindra saat itu menjadi terdongkrak. Hal itu diduga karena massa partai lain berpindah ke Gerindra.

Selain itu, terdongkraknya suara Gerindra pada pemilu 2019 silam diduga karena dukungan suara kelompok pemilih tertentu yang kecewa terhadap mantan Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin.

Sehingga kelompok tersebut lebih mendukung Prabowo ketimbang Jokowi. Kendati pada akhirnya pasangan Prabowo-Sandi harus kalah oleh Jokowi-Ma’ruf.  Namun spekulasi yang berkembang saat itu bahwa terjadinya kecurangan dalam proses perhitungan suara.

Baca Juga:  KPU RI Terima Permohonan Pembukaan Akses Sipol dari 35 Parpol

Menariknya lagi Prabowo dan Sandiaga yang semula menjadi rivalitas politik pasangan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres sebelumnya, akhirnya saat terbentuk kabinet, Prabowo-Sandi itu masuk dalam jajaran Kabinet Jokowi Jilid II.

Publik yang saat itu mendukung pasangan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 diprediksi di Pilpres 2024 mendatang bakal meninggalkan Prabowo, jika mantan Danjen Kopassus itu kembali maju untuk bertarung pada Pilpres berikutnya.

Kekecewaan masyarakat terhadap Prabowo bukan tanpa alasan. Sebab, saat kampanye Capres pada periode-periode sebelumnya orang nomor satu di Partai Gerindra itu kerap menunjukkan kelantangannya untuk menolak campur tangan asing.

Orasi poilitk Prabowo saat kampanye tersebut mampu menghipnotis pemilih. Namun ketika masuk dalam jajaran kabinet Jokowi Jilid II, penolakan terhadap pekerja asing yang masuk ke Indonesia khususnya dari Tiongkok sudah tak lagi diungkap Prabowo.

Jadi, orasi politik Prabowo saat kampanye ternyata hanya pencitraan semata guna menarik simpati publik.

Kini masyarakat sudah tahu bagaimana ketika Prabowo menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Suara lantang dan berapi-api sudah tak lagi ditunjukkan.

Sepertinya Prabowo sudah nyaman dengan posisi sekarang. Dan selama ini Prabowo hanya tebar pesona bahwa seolah dirinya sebagai pembela rakyat. Tapi faktanya sudah bisa dilihat.

Jika Prabowo pada Pilpres 2024 kembali maju yang digadang-gadang akan berpasangan dengan Puan Maharani, layakkah untuk didukung?

Kini publik harus cerdas dalam memilih. Jangan lagi tertipu oleh janji manis dan dan tebar pesona Capres yang ketika sudah menduduki jabatannya malah lupa terhadap siapa yang mendukungnya.

Penulis: Ketua Umum Pemuda Mandiri Peduli Rakyat Indonesia (PMPRI)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

IAW Sebut Konflik Pulau Rempang Bukti Kegagalan Rezim Jokowi dalam Tata Kelola Agraria
Tiga Sebab Utama Runtuhnya Legitimasi Kekuasaan: Perspektif Lokal & Teori Global
Menanti Status Hukum Djan Faridz dalam Kasus Harun Masuku
Membongkar Kebohongan Jokowi dalam Kasus Rempang-Galang
Analis Politik Irwan Suhanto: Kasus Febrie Adriansyah Jangan Dijadikan Alasan Melemahkan Supremasi Sipil
Nasionalisme Bung Karno: Perspektif Sosiologi Politik
Buka Peluang Kerja Gen Z, Korps Alumni KNPI Jakarta Timur Desak Pemprov Gandeng Duta Besar
Fenomena Kepala Daerah Andalkan Medsos Jadi Sarana Pencitraan: Menara Pasir Popularitas Pemimpin Populis

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:21 WIB

IAW Sebut Konflik Pulau Rempang Bukti Kegagalan Rezim Jokowi dalam Tata Kelola Agraria

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:25 WIB

Tiga Sebab Utama Runtuhnya Legitimasi Kekuasaan: Perspektif Lokal & Teori Global

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:05 WIB

Menanti Status Hukum Djan Faridz dalam Kasus Harun Masuku

Selasa, 28 Juli 2026 - 21:37 WIB

Membongkar Kebohongan Jokowi dalam Kasus Rempang-Galang

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:30 WIB

Analis Politik Irwan Suhanto: Kasus Febrie Adriansyah Jangan Dijadikan Alasan Melemahkan Supremasi Sipil

Berita Terbaru