Demi Lemuria Demi Indonesia

- Editor

Minggu, 24 November 2024 - 15:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Yudhie Haryono

Ini kisah ilmiah. Yang hilang karena lelah. Lalu, jadi sampah dan sumpah-serapah. Atas alasan itulah, kita akan belajar kembali via sejarah. Tentang mula Atlantik. Kita menyebutnya Bumi Lemuria.

Tentu, ini adalah bumi suci dilahirkannya pancasila yang jujur dan pusat spiritual dunia, pusat tekhnologi, pusat kesemestaan. Inilah tanah suci Indonesia, di masa kini. Inilah bumi nusantara, di masa tengah. Inilah bumi atlantik, di masa purba. Inilah bumi lemuria, di masa pra-sejarah.

Lemuria artinya “benua tidak tak terkoleksi.” Ini merupakan peradaban pra-sejarah yang muncul sebelum Atlantis, sekitar 75.000 SM-11.000 SM. Ciri penghuninya: intuitif, kreatif dan empatif. Mereka mentradisikan musik, seni, dan etika-moral.

Tentu saja, fakta keberadaan tanah Lemuria masih menjadi perdebatan panjang bergelombang. Namun, ada beberapa fakta sejarah yang mendukung teori keberadaannya. Fakta-fakta yang menunjukkan keberadaan legenda dan mitos tentang Bangsa Lemuria telah ada sejak zaman kuno. Legenda ini diceritakan oleh berbagai budaya di sebaran wilayah Sunda dan Jawa, seperti legenda Naga di Sumatra, legenda Suku Dayak di Kalimantan, dan legenda Suku Toraja di Sulawesi, dan Papua.

Ya. Ia telah punah. Setelah hilang, hadirlah benua Atlantis sebagai mula peradaban nusantara kuno dan enigmatis. Beredar sekitar, 11.000 SM-4 SM.

Setelah itu, peradaban Nusantara. Dalam arti yang lebih luas, Nusantara meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, Kepulauan Andaman dan Nikobar, Brunei, Filipina, Timor Timur, Papua Nugini, Solomon Utara, Kepulauan Selat Torres, serta pulau pulau kecil di samudra Hindia seperti Pulau Natal, Kepulauan Cocos (Keeling), dan pulau Pasir.

Baca Juga:  Indonesia Adalah Negara Pancasila

Semua terhubung dengan samudra Atlantik dan benua Atala yang menjadi induk peradaban Atlantik yang mistis, spiritualistik, gigantik, tetapi tertelan disaster (bencana alam) dan paregreg (perang saudara) lalu dihabisi kolonialisme.

Setelah datangnya tiga hal itu, kewarasan, keidealan, kepancasilaan jadi terkubur di perut bumi ini dan dilarung di sungai untuk sampai lautan. Semua dilupakan dan dijadikan sampah yang tak layak dikenangkan. Kehadirannya diharamkan. Mereka dimusiumkan tanpa ingatan.

Sungguh, tanpa perjuangan yang gigih untuk memerdekakan diri, mengangkat harkat dan martabat sebagai punggawa tanah leluhur, menyucikan kembali tanah-tanah sorga dan bumi manusia serta rumah kaca tempat mengabdi, kita hanya akan dianggap kotoran oleh kekuasaan oligarki yang kemaki.

Singkatnya, lawan. Sadari bahwa semua kemerdekaan, kedaulatan, kemandirian, kesejahteraan dan keadilan (5K) itu bermula dari kondisi pikiran. Hanya “pikiran sehat dan crank” yang fokus menggapai kelimanya dengan terus tanpa putus.

Karena itu, mari kita bangkitkan kembali. Lewat kisah dan sejarah ilmiah plus jati diri. Tentu agar kita tak khianat pada Tuhan, sesama dan alam semesta.

Penulis: Rektor Universitas Nusantara

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Masa Jabatan Kapolri: Antara Gugatan, Meritokrasi, dan Ketidakpastian Hukum
Karpet Merah Bukan untuk Anak Petani
Maki-maki PKL di Muka Umum, Tri Adhianto Dituding Tengah Mengadopsi Gaya Kepemimpinan KDM
Ketika Republik Makin Lupa Warisan Konstitusi
Indonesia Perlu Perkuat Deteksi Dini Kebakaran Hutan dan Lahan, Teknologi Satelit dan Analitik Data Jadi Kunci
Transformasi Menyeluruh Polri Dalam Meredam Karhutla Dari Hulu ke Hilir
Menegakkan Panji NU di Muktamar ke-35: Belajar dari Hajar Aswad Memasuki Abad Kedua NU
Inilah 10 Prinsip Rasionalisasi Penutupan TPST Bantargebang

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 09:31 WIB

Masa Jabatan Kapolri: Antara Gugatan, Meritokrasi, dan Ketidakpastian Hukum

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:53 WIB

Karpet Merah Bukan untuk Anak Petani

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:49 WIB

Maki-maki PKL di Muka Umum, Tri Adhianto Dituding Tengah Mengadopsi Gaya Kepemimpinan KDM

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:28 WIB

Ketika Republik Makin Lupa Warisan Konstitusi

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:24 WIB

Indonesia Perlu Perkuat Deteksi Dini Kebakaran Hutan dan Lahan, Teknologi Satelit dan Analitik Data Jadi Kunci

Berita Terbaru

Pakar Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik, Dr. Adi Suparto

Opini

Karpet Merah Bukan untuk Anak Petani

Selasa, 25 Agu 2026 - 12:53 WIB