SUKABUMI, Mediakarya – Solidaritas Independen Mahasiswa dan Pemuda Utilitarianisme (SIMPUL) Sukabumi menggelar aksi damai di depan kantor Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sukabumi, Kamis (7/5/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi sekaligus kontrol sosial masyarakat terhadap pengelolaan dana zakat, infak, sedekah, dan berbagai alokasi anggaran yang berkaitan dengan kepentingan publik.
Massa aksi menyoroti mangkraknya pembangunan Rumah Sehat BAZNAS (RSB) Bebeza yang hingga kini dinilai belum menunjukkan kejelasan penyelesaian sesuai target awal pembangunan. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik terkait pengelolaan anggaran dan akuntabilitas penggunaan dana umat dalam proyek tersebut.
SIMPUL Sukabumi menilai fasilitas pelayanan kesehatan berbasis sosial itu seharusnya menjadi simbol manfaat nyata bagi masyarakat, bukan justru menimbulkan polemik akibat minimnya keterbukaan informasi kepada publik.
Selain persoalan pembangunan RSB Bebeza, massa aksi juga mempertanyakan transparansi penghimpunan zakat aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sukabumi beserta penggunaan dana zakat, infak, dan sedekah yang berasal dari masyarakat.
Dalam aksi tersebut, massa membawa poster dan spanduk bertuliskan “Evaluasi BAZNAS Kabupaten Sukabumi” dan “Ke Mana Aliran Dana Umat?”.
Koordinator Presidium SIMPUL Sukabumi, Norman Irawan, menegaskan bahwa aksi tersebut bukan bentuk penolakan terhadap zakat maupun lembaga sosial keagamaan. Menurutnya, aksi dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat sipil agar pengelolaan dana umat dilakukan secara terbuka, profesional, dan bertanggung jawab.
Ia menilai mangkraknya pembangunan RSB Bebeza bukan sekadar persoalan teknis, tetapi menyangkut kepercayaan publik terhadap pengelolaan dana sosial keagamaan.
“Ketika pembangunan yang bersumber dari dana umat tidak berjalan sesuai target, maka publik berhak mendapatkan penjelasan secara terbuka,” ujarnya.
Selain itu, SIMPUL Sukabumi juga menyoroti alokasi hibah sekitar Rp6 miliar yang dinilai perlu dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat guna menghindari polemik dan dugaan negatif di ruang publik.
Dalam aksinya, SIMPUL Sukabumi menyampaikan sejumlah tuntutan kepada BAZNAS Kabupaten Sukabumi, di antaranya membuka laporan penghimpunan dan penggunaan dana zakat, infak, dan sedekah secara transparan kepada masyarakat.
Massa juga meminta keterbukaan terkait penghimpunan zakat ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, termasuk mekanisme pengelolaan dan distribusinya.
Selain itu, mereka mendesak penjelasan terbuka terkait mangkraknya pembangunan RSB Bebeza beserta penggunaan anggaran yang bersumber dari dana umat, serta meminta penjelasan mengenai alokasi hibah sekitar Rp6 miliar.
Tak hanya itu, SIMPUL Sukabumi juga mendorong agar data penerima manfaat program bantuan dibuka secara transparan dengan tetap memperhatikan perlindungan data pribadi dan kepatutan sosial.
Norman Irawan menegaskan bahwa transparansi merupakan kewajiban moral lembaga publik, terlebih ketika dana yang dikelola berasal dari masyarakat.
“RSB Bebeza tidak boleh menjadi simbol gagalnya transparansi dana umat. Ketika pembangunan mangkrak dan publik tidak mendapatkan penjelasan yang utuh, maka wajar apabila kepercayaan masyarakat mulai dipertanyakan,” tegasnya.
Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat kepolisian. SIMPUL Sukabumi menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut melalui jalur konstitusional serta mendorong keterbukaan informasi demi menjaga integritas pengelolaan dana sosial keagamaan di Kabupaten Sukabumi. (eka)









