TEHERAN, Mediakarya – Juru bicara militer senior Iran Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, memperingatkan Amerika Serikat bahwa setiap “kebodohan” baru terhadap Republik Islam akan memicu respons yang lebih keras daripada yang diberikan selama perang 40 hari.
Shekarch menegaskan ancaman berulang oleh Presiden AS Donald Trump yang “berkhayal” terhadap Iran hanya akan memperdalam masalah Washington. “Mengulangi kebodohan apa pun untuk mengimbangi aib Amerika dalam perang ketiga yang dipaksakan terhadap Iran tidak akan membawa konsekuensi apa pun selain menerima pukulan yang lebih menghancurkan dan parah bagi negara itu,” kata Shekarchi, Minggu (17/5/2026).
Shekarch menilai Presiden AS akan menyesal jika ancaman atau agresi baru terhadap Republik Islam terwujud. Sebab aset dan tentara negara Paman Sam itu telah melemah menyusul dengan skenario ofensif, mengejutkan, dan penuh gejolak yang baru yang akan dilakukan oleh Iran.
Diketahui, Trump telah meningkatkan retorika perangnya terhadap Iran dalam beberapa hari terakhir. Bahkan negara yang mengklaim dirinya sebagai polisi dunia itu akan melancarkan serangan baru terhadap Iran jika diskusi diplomatik tidak langsung tidak mencapai kesepakatan.
Perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dengan serangan udara yang menewaskan pejabat dan komandan senior Iran serta menargetkan infrastruktur sipil, daerah pemukiman, lembaga pendidikan, dan situs bersejarah dan budaya.
Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan 100 gelombang serangan yang berhasil terhadap target-target sensitif dan strategis Amerika dan Israel di seluruh wilayah tersebut. (red)










