Dari Pra Bowo ke Paska Bowo

- Editor

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Prabowo Subianto (Ist)

Presiden Prabowo Subianto (Ist)

Oleh: Yusuf Blegur

Ada yang bangkit dari kelamnya masa silam, lalu tercerahkan menjunjung keadaban dan kemaslahatan. Namun ada juga yang tetap memilih semakin tenggelam dan larut pada kedalaman kenistaan

Prabowo telah menjalani hampir 2 tahun masa jabatan presiden yang diembannya. Ia begitu excited dan menggebu-gebu. Masih penuh gairah dan semangat menunaikan tugas maha pentingnya buat rakyat, negara dan bangsa. Prabowo tak pernah berhenti secara ekspresif dan impresif melakukan aktualisasi diri. Menampilkan obsesi dan sekaligus halusinasi yang tampak berlebihan dalam pemerintahan yang dipimpinnya. Sepertinya Prabowo lupa, ia telah menjadi presiden bukan lagi capres yang getol kampanye.

Saking merasa bangga dan terhormat menjadi presiden. Prabowo terus menunjukkan eksistensi dan cenderung gemar melakukan validasi serta mengumbar pesona tanpa makna. Tak bisa diam melihat podium yang menantang forum. Mimbar demi mimbar, panggung demi panggung tak dibiarkan mik itu menganggur. Publik sampai cemas, khawatir dan takut, ngomong apalagi nih presiden. Begitu phobianya, sampai ada yang ingin menyembunyikan miknya, agar suaranya tak terdengar. Baginya tak ada waktu tanpa pidato, celoteh, dan bahkan sesumbar. Sesekali suara lantangnya juga kerap bernada mengancam, menuduh dan merendahkan yang lain.

Sayangnya, entah tanpa disadari atau memang sengaja, ia kerap bertindak sentralisktik dan terasa otoritarian. Dari selorohnya berhembus perintah yang menjadi aturan dan hukum. Dari gestur, gimik, dan mimiknya, diorkrestasi menjadi perintah dan ketentuan yang berlaku. Begitu dipaksakan, tanpa sistem, tanpa nilai dan miskin akhlak. Prabowo cuma seorang yang penuh kontroversi dan polemik, tapi dikesankan seolah-olah setara negara, penuh kuasa tanpa batas dan kelemahan. Sementara, atmosfer KKN dan kejahatan HAM serta dugaan disorientasi seksual orang sekitar terus menyelimuti kekuasaannya. Seolah bergeming, mati rasa dan cuek Bebek dengan semua distorsi itu

Inkomptensi, tanpa transparansi dan akuntabilitas. Semua hajat publik diselenggarakan dengan cara yang jauh lebih buruk dari menejemen kue pancong yang tersaji dari gerobak dorong.
Akhirnya publik menilai sembari menyesali penuh kesia-siaan. Kok jadi begini nih negara?. Rusak dan cenderung mengalami kehancuran secara sosial, politik, ekonomi dan hukum. Apalagi budaya dan pertahanan keamanan negara.

Baca Juga:  Menhub Harap Jalur Layang Stasiun Manggarai Bikin Perjalanan KRL Jabodetabek Efisien

Pun demikian, tidak sedikit yang masih mendukung, memuja, dan mengelu-elukannya. Terutama yang sudah merasakan, berharap, dan dijanjikan uang berlimpah, jabatan menggiurkan, dan seabrek fasilitas lainnya. Hampir semua strata sosial mulai dari aktivis, akademisi, profesional dan ulama yang berbondong-bondong antri dan ikut menikmati kue-kue kekuasaan olahan juru masak Prabowo. Jangan tanya, TNI, Polri, birokrat dan korporat. Apalagi mereka. Memang dahsyat dan sungguh menarik hati, kebanyakan sulit menolak materi.

Kini tinggal waktu yang akan menguji, siapa yang masih bertahan menyuarakan nilai-nilai. Bersabar dengan kekurangan dan keterbatasan perjuangan. Sejarah akan bersaksi menyampaikan keadaban realitas pada yang akrab dengan penderitaan dan menjadi lilin-lilin kecil dalam kegelapan republik.

Kelas menengah macam civil society mungkin telah dibungkam. Agama mungkin telah terasing dalam keseharian. Keberanian juga mengalami traumatik dan enggan mengambil resiko lagi. Rakyat juga bagai Kerbau yang dicucuk hidungnya. Pasrah dan hanya bisa menengadah pada kemungkinan terbaik yang entah kapan terjadi.

Khalayak hanya bisa menyaksikan para petinggi pemangku kepentingan publik, elit politik, dan tentunya sang presiden. Bercengkerama dengan kekuasaan. Mengelola kewenangan dan otoritas sesuka hatinya. Entah mengabdi pada kemanusiaan dan ke-Tuhanan. Atau sekadar menambah daftar panjang kalangan jahiliyah dan dzolim kekinian.

Langit menjadi saksi. Nurani menyeruak dari perut bumi. Dunia cemas berharap datang empati atau antipati. Semesta hanya bisa memandang dari kedalaman sekaligus kejauhan, berisiap dan menunggu momentum hukum alam yang tak tertandingi. Itupun kalau revolusi hanya malu tersipu-sipu, enggan dan bersembunyi dalam sunyi.

Kemudian, negeri ini terus miris menyaksikan realisme sembari menghela napas panjang bak menonton drama jenis multi bangsa. Lalu pilihan terbaiknya, bisa jadi menciptakan topan dalam gelas atau terpaksa menggerutu mengikuti transformasi dari Pra Bowo ke Paska Bowo yang tak pernah berubah sekalipun sepanjang masa. Sebelum dan sesudah menjadi presiden. Oh, betapa gelapnya. Sangat gulita.

Penulis: Analis Institute for Public Policy Strategic (IPPS) Indonesia

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Menhub Hadir Bersama Mitra Gojek, Lepas 70 Driver Legend Menuju Baitullah
Aktivis Tolak Wacana Rusun di Atas Sungai, Sebut Gagasan Menteri PKP Konyol
Hampir Satu Dekade Tak Kunjung Diterapkan, Kebijakan Cukai MBDK Resmi Digugat ke PTUN
Nama Ranny Fahd Muncul Jelang Musda Golkar Kota Bekasi
Mekanisme Pemilihan Pimpinan NU: Menjaga Kemandirian di Tengah Tarik‑Ulur Idealisme dan Pragmatisme Politik
13 Tindak Pidana yang Dapat Dijerat UU Perampasan Aset
Lusia Carmenita Rosalia Lamba Sabet Mahkota Putri Pariwisata Indonesia 2026
BON Negara Danantara: Melindungi Harta atau Melindungi Pelanggaran

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 14:37 WIB

Menhub Hadir Bersama Mitra Gojek, Lepas 70 Driver Legend Menuju Baitullah

Senin, 31 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Aktivis Tolak Wacana Rusun di Atas Sungai, Sebut Gagasan Menteri PKP Konyol

Senin, 31 Agustus 2026 - 13:05 WIB

Hampir Satu Dekade Tak Kunjung Diterapkan, Kebijakan Cukai MBDK Resmi Digugat ke PTUN

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:19 WIB

Nama Ranny Fahd Muncul Jelang Musda Golkar Kota Bekasi

Senin, 31 Agustus 2026 - 06:30 WIB

Mekanisme Pemilihan Pimpinan NU: Menjaga Kemandirian di Tengah Tarik‑Ulur Idealisme dan Pragmatisme Politik

Berita Terbaru

Mabes Polri (Ist)

Ekonomi & Bisnis

Dittipidter Bareskrim Polri Garda Terdepan Melawan Mafia Sumber Daya Alam

Selasa, 1 Sep 2026 - 05:49 WIB

Presiden Prabowo Subianto

Nasional

Kejar Target Penghematan 100 Triliun Prabowo Tutup 700 BUMN

Selasa, 1 Sep 2026 - 02:38 WIB

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin

Nasional

Kemenhan Dapat Tambahan Anggaran APBN 2027 Jadi 189 Triliun

Selasa, 1 Sep 2026 - 02:26 WIB