Oleh: Yusuf Blegur
Islam itu universal dan sebagai rahmatan Lil a’lamiin. Sedangkan Prabowo itu hanya untuk dirinya sendiri, Jokowi dan keluarganya, serta oligarki dan para pengikut penjilat
Buku Islam Ala Prabowo, ia tak ubahnya sebuah karya tulis yang dipaksakan. Sebuah deskripsi yang seolah-olah ilmiah, tanpa kekayaan empiris dan tanpa keberlimpahan kebijaksanaan. Narasi kamuflasenya terlihat heroik dan religius terpampang bangga menyusuri wajah sampul. Terlalu penuh rekayasa untuk menjadi indah dan bermakna. Sayangnya, lembar demi lembar isinya jauh lebih buruk dari cover yang terlalu tebal kosmetiknya.
Bukan sekadar sejarah yang dikaburkan. Bukan pula cuma tentang kepalsuan diri. Apalagi terseok-seok merubah hitam menjadi putih. Figurnya tak akan mampu membeli waktu. Tak akan sanggup memulihkan luka yang lama dan terlanjur kering. Ia ingin merubah wajah, ingin membentuk tubuh baru yang elok lebih memesona. Sayangnya, semua dilakukan tanpa operasi batin dan kesadaran jiwa pada kelemahan sejati dalam diri. Ketika yang mabuk kekuasan dan hipokrit menyatu dengan mental yang pekat menjilat. Maka yang kotorpun diorkestrasi dan diekstrasi dicampur dengan yang suci.
Buku Islam Ala Prabowo diterbitkan tak lebih sebagai upaya untuk merehabilitasi sekaligus menormalisasi sosok Prabowo yang kadung hitam kelam dan segelap-gelapnya dalam selimut kejahatan HAM, konstitusi, dan demokrasi masa lalu dan kekinian.
Ambisi kekuasaan, nafsu berbisnis untuk kekayaan ekonomi, dan gila kehormatan yang berlebihan. Membuat Prabowo tak
Penulis: Direktur Eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS) Indonesia










