JAKARTA, Mediakarya – Survei kinerja menteri yang dirilis Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menjadi rapor merah telak bagi dua menteri Kabinet Prabowo Subianto.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri HAM Natalius Pigai terjerembab di posisi terbawah dengan skor minus yang jomplang.
Direktur Program Pusat Kajian Strategis Daksinapati (PKSD) Universitas Indonesia (UI), Agus Wahid, menilai hasil itu bukan sekadar soal tidak populer, melainkan bentuk hukuman publik atas gaya kepemimpinan yang arogan dan minim empati.
“Angka -159 untuk Bahlil dan -158 untuk Pigai itu bukan angka biasa. Itu adalah vonis ketidakpercayaan. Baik di mata ahli maupun masyarakat umum, keduanya dianggap gagal total menjalankan mandat jabatannya,” kata Agus Wahid saat dihubungi Mediakarya Rabu (14/10/2026).
Senelumnya, CELIOS menggelar survei pada 15 September hingga 9 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.142 responden yang terdiri dari para ahli dan masyarakat umum.
Survei menggunakan metode berbeda: masyarakat umum dijaring melalui non-probability sampling lewat Meta Ads yang dilengkapi pembobotan (weighting), sementara kelompok ahli menggunakan snowball sampling.
Bahlil -159: Korban Konflik Kepentingan
Menurut Agus Wahid, skor -159 yang diraih Bahlil Lahadalia adalah akumulasi dari blunder yang tak berkesudahan di sektor energi.
“Publik melihat Bahlil lebih sibuk mengurus politik ketimbang mengurus energi. Dari polemik tata niaga tambang, kisruh LPG, wacana BBM yang membingungkan rakyat, hingga dugaan intervensi politik di internal Golkar. Di mata ahli, ini menteri ESDM yang tidak teknokratis,” tegas Agus.
Ia menilai metode CELIOS yang melibatkan ahli menjadi penanda penting. Ketika kelompok ahli pun memberikan skor terendah, artinya kegagalan Bahlil bukan soal komunikasi, tapi substansi kebijakan.
“Ahli energi melihatnya tidak kompeten. Masyarakat melihatnya tidak empatik. Lengkap sudah,” ujarnya.
Pigai -158: Ironi Menteri HAM Tanpa Kepekaan HAM
Sedangkan untuk Natalius Pigai, Agus menyebut skor -158 sebagai ironi terbesar kabinet.
“Ini Menteri Hak Asasi Manusia, tapi justru dinilai paling tidak memiliki kepekaan HAM. Pernyataan-pernyataannya selama ini kontroversial, reaktif, dan seringkali melukai kelompok korban yang seharusnya ia lindungi,” kritik Agus.
Agus Wahid menilai, posisi Menteri HAM membutuhkan bahasa yang inklusif, keberpihakan pada korban, dan sensitivitas tinggi. Hal itu yang tidak ditemukan publik pada diri Pigai.
“Wajah HAM pemerintah jadi rusak karena menterinya sendiri dianggap anti-HAM oleh publik dan ahli. Ini bahaya,” katanya.
Alarm Keras untuk Prabowo
Agus Wahid menegaskan, hasil survei CELIOS ini harus menjadi alarm keras bagi Presiden Prabowo Subianto.
Dua pos kementerian yang sangat strategis, ESDM yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan HAM yang menyangkut wajah demokrasi Indonesia, justru diisi oleh figur dengan tingkat kepercayaan terendah.
“Survei dengan 1.142 responden ahli dan umum ini adalah cermin. Jika Presiden membiarkan dua rapor merah ini berlama-lama di kabinet, maka beban politiknya akan ditanggung Presiden sendiri. Ini momentum untuk evaluasi total, bahkan reshuffle,” tutup Agus Wahid. (Adit)










