JAKARTA, Mediakarya – Ironi melanda Partai Golkar di Jawa Barat. Menjadi lumbung suara terbesar secara nasional pada Pemilu 2024, namun kader Golkar asal Jawa Barat kini tak punya satu pun wakil di Kabinet Merah Putih (KMP).
Berdasarkan rekapitulasi KPU, Golkar meraup 4.292.082 suara di Jawa Barat atau sekitar 16,11% – 16,74% suara, menggeser Gerindra di peringkat pertama. Dari provinsi dengan 35,7 juta pemilih, terbesar di Indonesia, raihan itu menjadi penopang utama rebound Golkar di kancah nasional.
Kemenangan didorong soliditas mesin partai, kekuatan caleg lokal, hingga efek bergabungnya mantan Gubernur Jabar Ridwan Kamil sebagai pendongkrak elektabilitas.
Namun kemenangan masif itu berbanding terbalik dengan nasib kadernya di kabinet.
Satu-satunya menteri asal Jabar, Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK), putra tokoh senior Golkar, kini disingkirkan dari kursi Menteri Perindustrian.
Ketua Umum Pemuda Peduli Rakyat Indonesia (PMPRI) Rohimat alias Kang Joker menduga ada upaya sistematis menyingkirkan kader Jabar dari posisi strategis.
“Kami menduga ada upaya sistematis dari kelompok pro oligarki yang menyingkirkan kader Golkar asal Jabar. Kang AGK diduga sengaja disingkirkan dari Menteri Perindustrian,” kata Kang Joker kepada Mediakarya, Rabu (14/10/2026).
Kang Joker menilai cara pencopotan AGK saat menjalankan tugas negara ke luar negeri sebagai pelecehan terhadap masyarakat Jawa Barat.
“Kami menduga bahwa Bahlil sengaja menyingkirkan AGK, sebab penggantinya juga merupakan orangnya dia. Kenapa sesama kader Golkar Bahlil tidak meminta kepada Presiden agar pencopotan AGK setelah pulang dari AS. Menurut kami itu sangat menyakitkan, dan sama saja melukai masyarakat Jabar,” tegasnya.
Menurut Kang Joker, miris melihat menteri kebanggaan Golkar saat ini tidak ada yang merepresentasikan masyarakat Sunda.
“Padahal Jawa Barat penyumbang suara dan kursi terbesar untuk DPR RI. Dipecatnya Pak AGK bagi orang Jawa Barat adalah sebuah keniscayaan bahwa Golkar seolah tidak butuh suara dari masyarakat Sunda,” pungkasnya.
Kemenangan di bilik suara, kekalahan di meja kekuasaan. Lumbung suara terbesar Golkar kini mempertanyakan balasannya. (Ugy)











