Pakar Komunikasi Politik Sentil Parpol Pendukung Prabowo 2029: Terlalu Dini, Rakyat Butuh Solusi Bukan Deklarasi

- Editor

Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Prabowo saat memberikan sambutan  di acara HUT PAN di Jakarta. (Foto: Ist)

Presiden Prabowo saat memberikan sambutan di acara HUT PAN di Jakarta. (Foto: Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Pakar komunikasi politik Dr Suparto mengkritik keras manuver sejumlah partai politik yang buru-buru menyatakan dukungan kepada Prabowo Subianto untuk kembali bertarung di Pemilihan Presiden 2029.

Menurut Adi, deklarasi dini di tengah bangsa yang masih menghadapi persoalan hukum, konstitusi, hingga ekonomi rakyat adalah langkah yang tidak peka dan terkesan pragmatis.

Hingga saat ini, partai-partai yang telah menyatakan dukungan untuk Prabowo 2029 meliputi Golkar, PAN, Gerindra, PKB, dan Demokrat. Sementara PKS dan NasDem mengambil sikap berbeda, tetap mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran hingga akhir masa bakti, namun belum menentukan sikap capres 2029.

“Trik-trik politik memang sudah mulai terlihat. Partai menyusun strategi, ketua umum menyusun manuver, dan pernyataan dukungan disuarakan ke ruang publik. Namun rakyat berhak bertanya: apakah langkah ini benar-benar atas nama kepentingan mereka, atau sekadar jaminan kursi dan kekuasaan di masa depan?” tegas Adi Suparto dalam keterangannya yang diterima Mediakarya, Rabu (14/10/2026).

Adi mencatat, dari peta awal dukungan tersebut belum ada satu pun pembahasan mengenai calon wakil presiden pendamping. Dukungan yang ada dinilai lebih untuk mengamankan posisi dalam konfigurasi kekuasaan saat ini.

“Belum ada pembahasan cawapres, nama calon wakil presiden pendamping belum dibicarakan maupun diputuskan oleh partai-partai pendukung,” ujarnya.

Terlalu Dini Tutup Pintu Koalisi

Menurut Adi, menyusun barisan untuk Pilpres 2029 saat ini terasa terlalu dini. Peta koalisi masih sangat terbuka dan berpotensi berubah total menjelang pemilu.

Baca Juga:  Anggota DPR: Wacana Pembentukan BLU Batu Bara Harus Dikaji Mendalam

“Menurut pandangan kita, menyusun barisan untuk Pilpres 2029 saat ini terasa terlalu dini. Negara sedang berada di masa yang sensitif: persoalan hukum dan konstitusi yang menyita perhatian publik, ketegangan yang berpotensi memengaruhi stabilitas politik, iklim sosial, hingga perekonomian rakyat,” katanya.

“Di saat rakyat masih menunggu kejelasan dan keadilan, fokus para pemimpin seharusnya tertuju pada penyelesaian masalah hari ini, bukan memetakan posisi untuk pertarungan tiga tahun ke depan,” lanjut Adi.

Yang Mendesak: Pulihkan Kepercayaan, Bukan Janji Kampanye

Adi menegaskan, ikrar dukungan antar-partai tidak serta-merta mengembalikan kepercayaan publik. Yang dibutuhkan saat ini bukan deklarasi politik, melainkan pemulihan persepsi melalui tindakan nyata.

“Rakyat tidak butuh janji kampanye yang datang terlalu cepat. Rakyat butuh kepemimpinan yang hadir menyelesaikan masalah hari ini,” tegasnya.

Ia merinci empat hal mendesak yang harus menjadi prioritas:

 

  1. Ketegasan dan keadilan dalam penegakan hukum
  2. Transparansi yang terbuka terhadap pertanyaan rakyat
  3. Prioritas pada pemulihan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat
  4. Komunikasi yang menyejukkan, bukan memanaskan suasana

“Ketika kepercayaan sudah pulih dan masalah-masalah mendesak tertangani, pembicaraan tentang masa depan akan terasa jauh lebih wajar, lebih meyakinkan, dan lebih berharga untuk diperbincangkan,” pungkas Adi. (Ugy)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Sikap PAN Soal Ijazah Gibran: Cari Aman di Lingkaran Kekuasaan, Terancam Ditinggal Pemilih Kritis
Manuver Golkar di RUU Pemilu: Usul Dapil Nasional, Caleg Gagal Bisa Tetap Jadi DPR
Jelang Musda Golkar, GNK Peringatkan Kader Jangan Terjebak Penumpang Gelap Berkedok Senior
Effendi Gazali Gedor PKB Soal Ijazah Gibran: Dorong Hak Angket, Stop Kebohongan! PSI Saja Bilang Good Luck
Ahmad Doli Ngamuk Diserang Hasyim Asy’ari: Dia Lupa Pernah 2 Kali Dipecat Karena Munafik! Komisaris BUMN Hadiah dari Siapa?
Yusuf Blegur Skakmat Pernyataan Bakom Syahganda: Kasihan Pembantunya Prabowo, Klarifikasi Terus dan Kelewat Offside
Bakom RI: Wapres Gibran Tidak Bisa Di-impeachment, Penurunan Foto Kurang Baik
Di Podcast Akbar Faizal, Bos Charta Politika Bongkar Alasan Berseberangan dengan Jokowi

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:07 WIB

Pakar Komunikasi Politik Sentil Parpol Pendukung Prabowo 2029: Terlalu Dini, Rakyat Butuh Solusi Bukan Deklarasi

Rabu, 14 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Sikap PAN Soal Ijazah Gibran: Cari Aman di Lingkaran Kekuasaan, Terancam Ditinggal Pemilih Kritis

Rabu, 14 Oktober 2026 - 04:27 WIB

Manuver Golkar di RUU Pemilu: Usul Dapil Nasional, Caleg Gagal Bisa Tetap Jadi DPR

Selasa, 13 Oktober 2026 - 21:19 WIB

Jelang Musda Golkar, GNK Peringatkan Kader Jangan Terjebak Penumpang Gelap Berkedok Senior

Selasa, 13 Oktober 2026 - 16:17 WIB

Effendi Gazali Gedor PKB Soal Ijazah Gibran: Dorong Hak Angket, Stop Kebohongan! PSI Saja Bilang Good Luck

Berita Terbaru