JAKARTA, Mediakarya – Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunanto Wijaya, memberikan analisis tajam mengenai dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto yang dinilai mengejutkan banyak pihak.
Menurut Yunanto, yang berubah bukan sosok Prabowo. Prabowo tetap menjalankan apa yang ia yakini sejak lama, sebagaimana tertuang dalam bukunya Paradox Indonesia.
“Kalau kita baca bukunya Paradox Indonesia dan solusinya, itu buku yang paling mengganggu kepalanya. Apa yang dijalankan selama dua tahun exactly dengan apa yang dia yakini tentang membangun sebuah negara,” ujar Yunanto dikutip dari podcast Helmi Yahya, Jumat (23/10/2026).
Yunanto menjelaskan, paradigma Prabowo soal ketahanan pangan, ketahanan energi, alutsista dalam konteks melepaskan middle income trap dan melepaskan kutukan negara tropis yang hanya hidup dari sumber daya alam, dijalankan secara konsisten.
“Berubah mungkin hanya dalam konteks gimmick dulu joget-joget sekarang bisa marah-marah. Itu bukan hal yang substantiflah,” katanya.
Lantas siapa yang paling kaget? Yunanto menyebut justru segmen pemilih Joko Widodo (Jokowi) yang mengira pemerintahan Prabowo adalah keberlanjutan Jokowi.
“Yang menurut saya berubah adalah terutama segmen pemilih Jokowi yang merasa continuity akan terbangun seperti apa yang dijalankan oleh Jokowi ketika Prabowo terpilih karena imajinasinya adalah ini pemerintahan Prabowo-Jokowi,” ungkapnya.
“Pada dasarnya dua orang ini saya selalu mengatakan dua makhluk yang punya imajinasi berbeda tentang Indonesia. Itu yang menyebabkan orang kaget. Orang yang paling kaget terutama dengan kebijakan dua tahun ini menurut saya adalah pecinta Jokowi,” tegas Yunanto.
Ia menekankan, anggaran prioritas APBN 2025-2026 menjadi bukti paling nyata bahwa Prabowo bukan penerus Jokowi.
“Kita enggak bisa bantah dari anggaran prioritas mas. Apa yang menjadi skala prioritas dari APBN 2025-2026 dia menunjukkan bahwa saya adalah Prabowo. Saya bukan penerus Jokowi,” ujarnya.
Bahkan, Yunanto melontarkan analogi yang mengejutkan. Jika Anies Baswedan yang menang Pilpres kemarin, kekagetan publik mungkin tidak akan sebesar sekarang.
“Bahkan kalau mau ekstrem kalau kita mencoba berimajinasi tentang kalau Anies yang menang kemarin, jangan-jangan perubahan dan kekagetan yang terjadi tidak akan sebesar ketika Prabowo yang sekarang kemudian jadi presiden. Jadi dia lebih perubahan dibandingkan Anies Baswedan yang mengusung perubahan itu,” tegas Yunanto. (Adt)










