JAKARTA, Mediakarya – Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eisha M Rachbini, Ph.D., menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tidak bisa dikatakan baik-baik saja di tengah gejolak global saat ini.
Menurut Eisha, ada tiga jalur utama yang timbul akibat guncangan eksternal, yang pada gilirannya berakibat buruk terhadap ekonomi Indonesia. Tiga masalah yang terkena dampak langsung tersebut adalah masalah energi dan fiskal, rantai pasok global, serta investasi dan pasar keuangan.
“Kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok berpotensi meningkatkan biaya produksi, menekan ruang fiskal, serta menghambat investasi dan penciptaan lapangan kerja,” ujar Eisha dalam keterangan tertulisnya yang diterima Mediakarya, Jumat (23/10/2026).
Ia menjelaskan, gejolak pasar keuangan global juga berisiko menekan rupiah, meningkatkan imbal hasil SBN dan biaya dana, serta membuat perbankan lebih selektif dan bahkan terhambat menyalurkan kredit.
“Dampak guncangan eksternal ini penting diperhatikan dalam kebijakan ekonomi karena berpotensi menekan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Tekanan tersebut dapat merembet ke sektor riil dan ekonomi domestik secara lebih luas,” katanya.
Jalur Pertama: Energi dan Fiskal
Eisha memaparkan, jalur pertama berasal dari sektor energi dan fiskal. Eskalasi geopolitik berpotensi mendorong kenaikan harga energi, meningkatkan biaya input produksi, serta memperbesar beban subsidi pemerintah.
“Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan inflasi dan risiko kredit, sekaligus mempersempit ruang fiskal Indonesia. Kalau kita lihat ruang fiskal yang saat ini ada juga terbatas di tengah subsidi energi yang semakin melonjak, kemudian juga prioritas-prioritas program yang juga semakin meningkat,” jelasnya.
Jalur Kedua: Rantai Pasok Global
Jalur kedua, kata Eisha, berasal dari gangguan rantai pasok global. Fragmentasi dan disrupsi jalur pasok berpotensi menekan pembiayaan perdagangan serta meningkatkan kebutuhan modal kerja pelaku usaha.
“Kondisi ini dapat menghambat aktivitas produksi, investasi, hingga penciptaan lapangan kerja dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya.
Jalur Ketiga: Investasi dan Pasar Keuangan
Sementara itu, jalur ketiga berkaitan dengan investasi dan pasar keuangan. Gejolak pasar keuangan global, terutama kenaikan imbal hasil dan pergeseran portofolio investor ke aset yang dinilai lebih aman, berpotensi meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).
“Tekanan tersebut dapat meningkatkan biaya dana dan membuat lembaga keuangan lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Dampaknya, pembiayaan bagi dunia usaha berpotensi semakin terbatas di tengah ketidakpastian global,” paparnya.
“Guncangan ini kami melihat akan berpotensi dan terus menjadi tantangan bagi ekonomi Indonesia di tengah tekanan geopolitik dan dinamika dari ekonomi secara luas. Dan kami rasa guncangan ini tidak lepas, meskipun pertumbuhan secara global ada, berprogres, namun pemulihannya masih cukup tertahan sampai saat ini,” tambah Eisha.
Harga Energi, Logistik, dan Defisit Migas Jadi Ancaman Nyata
Eisha menegaskan ada ketidakpastian geopolitik yang nyata mempengaruhi perekonomian Indonesia. Kenaikan harga energi, tekanan pada biaya logistik, ongkos produksi, serta kondisi pasar keuangan global merupakan fakta yang harus dihadapi dengan kebijakan yang tepat.
“Di sektor riil, dampaknya signifikan dapat memberikan tekanan risiko Indonesia, pada kenaikan harga minyak, ketidakpastian pasokan fisik, ongkos logistik dan biaya produksi. Ketergantungan pada impor minyak mentah maupun BBM dapat berimplikasi pada biaya energi domestik, meskipun minyak yang dibeli Indonesia tidak seluruhnya berasal dari kawasan konflik,” ujarnya.
Defisit neraca perdagangan migas juga akan tertekan sehingga menekan nilai tukar rupiah, apalagi pasar modal tertekan karena evaluasi MSCI. Hal ini kemudian meningkatkan biaya produksi dan distribusi, serta menggerus daya beli masyarakat.
“Untuk itu, pemerintah juga perlu mengantisipasi peningkatan beban subsidi energi yang dapat mempersempit ruang fiskal,” katanya.
Kajian INDEF: PDB Bisa Tertekan 0,21%
INDEF, lanjut Eisha, sudah mengeluarkan buku Kajian Tengah Tahun INDEF 2026 bertajuk Menavigasi Guncangan Global: Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik, Energi, dan Iklim. Buku ini mengukur dampak berbagai risiko global terhadap perekonomian nasional menggunakan model Computable General Equilibrium (CGE).
“Dalam skenario lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah, INDEF memperkirakan pertumbuhan PDB berpotensi tertekan sebesar 0,21 persen. Ekspor diperkirakan melambat 2,44 persen, sementara upah riil turun 0,28 persen. Pada saat yang sama, inflasi meningkat 0,28 persen dan impor melonjak 7,8 persen,” ungkap Eisha.
Menurutnya, konflik di Timur Tengah yang menutup Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb memicu lonjakan harga minyak dunia. Indonesia kehilangan sekitar 25% sumber impor BBM, sehingga ICP naik ke kisaran $105-106 per barel dan perbedaan antara BBM subsidi dan non-subsidi menimbulkan pergeseran perilaku konsumen.
“Simulasi INDEF menunjukkan guncangan energi dapat menekan pertumbuhan PDB sekitar 0,2%, menurunkan ekspor, meningkatkan inflasi serta impor migas, yang selanjutnya memperlebar defisit neraca perdagangan, menekan rupiah, dan menambah beban subsidi energi,” ujarnya.
Untuk merespons hal tersebut, Pertamina merespons dengan diversifikasi pasokan dari Afrika, Amerika Serikat, dan wilayah lain serta meningkatkan produksi dalam negeri. Pengembangan bisnis rendah-karbon seperti biofuel, geothermal, surya, hidrogen hijau, dan SAF diarahkan untuk memperkuat stabilitas makro, reformasi subsidi secara bertahap, dan mempercepat transisi energi terbarukan. (Adt)










