JAKARTA, Mediakarya – Afrika memiliki 30 persen cadangan mineral dunia, namun 389 juta warganya di Sub-Sahara masih hidup dalam kemiskinan ekstrem pada 2022 versi Bank Dunia. Ekspor bahan mentah tanpa hilirisasi dan tata kelola buruk menjadi penyebab.
Pelajaran itu relevan bagi Indonesia. Hal itu ditekankan Ir. R. Haidar Alwi, MT, Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB.
Menurut Haidar, nikel, batu bara, minyak, gas, emas, hutan dan laut adalah modal strategis. Namun kekayaan saja tidak menjamin kemakmuran jika hanya dinikmati segelintir orang.
“Ancaman muncul ketika korupsi, penguasaan pasar, dan kedekatan dengan kekuasaan membuat manfaat sumber daya terkonsentrasi pada kelompok terbatas,” ujar Haidar dalam keterangan tertulisnya yang diterima Mediakarya, Selasa (27/10/2026).
Ia menilai oligarki menjadi masalah ketika modal dipakai untuk memengaruhi kebijakan dan memonopoli akses sumber daya, sementara warga sekitar tambang hanya menanggung dampak lingkungan.
Haidar menilai agenda Presiden Prabowo Subianto dalam pemberantasan korupsi dan hilirisasi menjadi momentum untuk membenahi tata kelola.
“Kekayaan alam Indonesia tidak boleh menjadi sumber keuntungan bagi segelintir orang sementara rakyat hanya menyaksikan dari pinggir,” tegasnya.
Ia mendorong penguatan tambang rakyat legal dan koperasi tambang sebagai jalan ekonomi kerakyatan. Koperasi, kata Haidar, harus dikelola profesional dan benar-benar milik anggota, bukan sekadar nama administratif yang menutupi penguasaan pemodal besar.
“Tambang rakyat dan koperasi bukan sekadar pelengkap pembangunan. Keduanya dapat menjadi jalan agar masyarakat ikut menciptakan nilai tambah dan menikmati hasil kekayaan daerahnya,” ujarnya.
Haidar menegaskan semua upaya itu berpijak pada Pasal 33 UUD 1945 yang mengamanatkan kekayaan alam dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat.
“Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, terbuka peluang besar untuk memperkuat pemberantasan korupsi, memperluas hilirisasi, dan memastikan kekayaan alam memberikan manfaat yang lebih luas,” pungkas Haidar. (Adt)










