JAKARTA, Mediakarya – Direktrr eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS) Yusuf Blegur, memprediksi elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM berpotensi tergerus dalam beberapa bulan ke depan. Hal itu seiring dengan meningkatnya persepsi positif publik terhadap kinerja Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo.
Yusuf menilai, KDM selama ini unggul karena strategi popularitas di media sosial dan gaya komunikasi populis. Namun tren tersebut mulai menemui penantang serius. “Popularitas KDM yang sangat tinggi di TikTok dan media sosial itu hanya bisa dilawan oleh figur yang menunjukkan prestasi kerja nyata, dan itu ada pada Pramono Anung,” ujar Yusuf kepada Mediakarya di Jakarta, Rabu (29/10/2026).
Menurut Yusuf, Pramono menunjukkan modal politik yang berbeda dari KDM. Jika KDM mengandalkan kedekatan personal dan konten viral, Pramono membangun citra melalui penyelesaian proyek-proyek strategis yang sempat mangkrak.
Ia mencontohkan peresmian Masjid Apung An-Nur di Ancol, penyambungan akses JIS-Ancol, serta perbaikan layanan publik di Jakarta yang dalam beberapa survei terakhir mulai meningkatkan kepuasan warga Jakarta.
“Publik mulai membandingkan. Satu viral, satu lagi bekerja dan hasilnya terlihat. Persepsi soal prestasi ini yang akan menggerus elektabilitas KDM,” jelasnya.
Dia juga menyinggung peta survei nasional terbaru. Dalam beberapa lembaga seperti SMRC dan IPO, Dedi Mulyadi memang masih memimpin dengan elektabilitas di kisaran 32-35 persen, jauh di atas Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.
Namun, ia menilai angka Pramono Anung yang saat ini masih di angka 1-2,5 persen memiliki tren naik yang signifikan, terutama setelah simulasi 5 nama poros utama di mana Pramono masuk 3,9 persen dan simulasi 3 nama mencapai 6,7 persen.
“Jangan lihat angkanya hari ini, lihat trennya. Pramono adalah satu-satunya kepala daerah yang punya panggung nasional sebesar Jakarta. Ketika prestasinya mulai dirasakan, efeknya akan nasional,” katanya.
Ia menegaskan, persaingan Pilpres 2029 tidak akan lagi hanya soal siapa yang paling sering FYP, melainkan siapa yang dianggap mampu mengelola pemerintahan besar seperti Jakarta.
“Untuk melawan KDM, tidak cukup dengan tokoh nasional biasa. Harus kepala daerah yang juga punya bukti kerja. Dan untuk saat ini, hanya Pramono yang bisa melawan KDM,” beber Yusuf.
Beda Gaya Komunikasi Pramono Anung Wibowo vs Dedi Mulyadi
Jika Pramono identik dengan gaya santun, kalem dan diplomatis, KDM justru dikenal dengan gaya blak-blakan, meledak-ledak, dan kerap menonjolkan emosi di hadapan warga. Gaya kedua ini dinilai sebagai cerminan sifat asli keduanya.
Yusuf mengungkapkan, Pramono Anung yang memiliki latar belakang panjang sebagai Sekjen PDIP, Sekretaris Kabinet, hingga Mensesneg, terbiasa dengan komunikasi politik tingkat tinggi. Oleh karenanya, pola komunikasi yang dibangun oleh orang nomor satu di DKI Jakarta itu lebih terukur dan tidak berpolemik.
Seperti dalam merespons kritik soal banjir, macet, atau proyek mangkrak warisan gubernur sebelumnya, Pramono cenderung tidak menyalahkan.
“Contoh saat meresmikan Masjid Apung An-Nur yang mangkrak sejak 2019, ia hanya menyebut bahwa hal-hal yang belum oleh gubernur sebelumnya terselesaikan alhamdulillah bisa diselesaikan’. Pemilihan diksi yang disampaikan oleh Mas Pram itu sangat elegan, tanpa merendahkan pemimpin DKI sebelumnya,” jelasnya.
Tidak hanya itu, lanjut Yusuf, Pramono juga kerap memuji program gubernur sebelumnya, termasuk Sutiyoso, Ahok, dan Anies Baswedan, sebagai bentuk keberlanjutan, bukan kompetisi.
“Gaya ini membuat Pramono dipersepsikan sebagai sosok negarawan yang tenang dan tidak mencari panggung,” ulasnya.
Sebaliknya, Dedi Mulyadi membangun personal branding melalui pendekatan langsung yang sangat emosional. dalam video yang beredar, KDM kerap memarahi kepala sekolah, pejabat, hingga warga yang dianggap melanggar, menjadi konten yang viral hampir setiap hari.
Ia sering memposisikan diri sebagai “Bapak Aing” yang menghukum dan memberi solusi seketika di lokasi, seperti membongkar bangunan, mencopot pejabat, atau menyita HP siswa. Baik sedih, marah, hingga tertawa, semua ditampilkan tanpa filter. “Hal inilah yang oleh pendukungnya dianggap otentik, namun oleh kritikus dinilai sebagai pencitraan yang mengintimidasi,” tutur Yusuf.
Namun demikian, Yusuf menilai gaya KDM efektif untuk algoritma media sosial karena emosi memang lebih mudah viral. Namun risikonya tinggi, karena bisa dianggap tidak memberikan ruang dialog bagi warga.
Lebih lanjut Yusuf Blegur juga menilai, perbedaan pole kepemimpinan Pramono Anung Wibowo dengan Dedi Mulyadi bukan sekadar gaya, tapi strategi kekuasaan. Mantan aktivis 98 ini berpandangan, bahwa Pramono menunjukkan kekuasaan dengan ketenangan, tidak perlu berteriak untuk menunjukkan kuasa. Sementara KDM menunjukkan kekuasaan dengan emosi, agar terlihat dia hadir dan menguasai situasi.
Bagi warga Jakarta yang terbiasa dengan tekanan politik nasional, gaya santun Pramono dianggap menenangkan. Sementara bagi warga Jawa Barat, gaya emosional KDM dianggap sebagai bukti keberpihakan yang cepat dan nyata.
“Pertarungan keduanya kini bukan hanya soal program, tapi soal selera publik, apakah Indonesia ke depan lebih membutuhkan pemimpin yang santun dan menuntaskan kerja dalam diam, atau pemimpin yang emosional dan menyelesaikan masalah di depan kamera,” pungkas Yusuf. (Ugy)











