Fahri Hamzah ke Azka: Belajarlah di Belanda, Tapi Perbaikilah Sistem di Sini

- Editor

Jumat, 24 Juli 2026 - 01:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Azka Abdul Malik bertemu Wamen PKP Fahri Hamzah

Azka Abdul Malik bertemu Wamen PKP Fahri Hamzah

JAKARTA, Mediakarya – Bertepatan dengan Hari Anak Nasional, sebelum terbang ke Belanda, Azka Abdul Malik Albayroni memilih menemui Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah. Azka adalah penerima Beasiswa Garuda LPDP. Ia juga siswa SMA Pradita Dirgantara yang mengantongi 30 LoA dari universitas dunia.

Ia diterima di Australian National University, University of Sydney, UNSW Sydney, Wageningen University, NTU Singapura, hingga University of Toronto. Ia memilih University of Amsterdam. Azka ingin mendalami perencanaan kota yang berpihak pada manusia.

“Sebelum berangkat, saya ingin belajar dari pengambil kebijakan. Saya ingin tahu tantangan nyata perumahan Indonesia. Nantinya ilmu saya harus relevan untuk pembangunan tanah air,” ujar Azka.

Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi. Fahri Hamzah memberikan kuliah kebijakan secara langsung. Ia menjelaskan bagaimana sektor properti Indonesia telah berubah menjadi arena spekulasi. Tanah dan rumah tidak lagi berfungsi sebagai kebutuhan sosial. Keduanya menjelma komoditas investasi.

“Rumah harus dikembalikan sebagai hak dasar warga negara. Bukan sekadar aset finansial. Negara hadir untuk memastikan akses hunian layak bagi semua,” kata Fahri.

Ia menatap Azka. Ia ingin anak muda itu memahami akar persoalan sebelum mempelajari solusi di Eropa. Fahri menjelaskan kegagalan pasar properti. Banyak proyek mangkrak akibat spekulasi. Ia menyebut Meikarta, Pesona Square Mall, dan Foresque Residence sebagai contoh nyata.

“Kegagalan itu terjadi karena pasar dibiarkan liar. Ujungnya konsumen yang dirugikan,” jelasnya.

Fahri mengusulkan negara menjadi Business Angel bagi sektor properti. Negara tidak perlu mematikan swasta. Negara harus mengarahkan pengembang membangun perumahan rakyat. Skemanya harus memiliki kepastian pasar dan pendapatan stabil.

“Pengembang tetap bertahan. Masyarakat mendapat rumah terjangkau. Itu keseimbangan yang harus diciptakan,” ujarnya.

Ia juga mengkritik program Tapera. Tujuannya baik, tetapi desainnya bermasalah. Fahri menilai program itu belum menjamin pemerataan akses. Ia mengusulkan sistem antrean nasional untuk rumah bersubsidi. Mekanismenya seperti pengelolaan ibadah haji.

“Semua terdata. Semua terukur. Tidak ada spekulan. Tidak ada perantara. Negara mengawasi penuh,” tegasnya.

Baca Juga:  UKM Perempuan Indonesia Masuk ke Pasar Amerika Serikat melalui Ajang Atlanta Ultimate Women Expo 2021

Ia sadar usul itu akan mendapat perlawanan. Kelompok yang diuntungkan dari perdagangan tanah pasti menolak. Namun Fahri menyebut reformasi adalah keharusan. Keadilan akses perumahan tidak bisa ditawar.

Fahri lalu menyinggung fondasi pemikiran Sumitro Djojohadikusumo. Negara adalah aktor utama dalam menjaga kesejahteraan rakyat. Ia juga mengaitkan gagasannya dengan World Social Forum yang menolak komersialisasi barang publik. Air, kesehatan, dan perumahan tidak boleh menjadi komoditas.

“Azka, kamu akan belajar di Belanda. Di sana kamu akan melihat bagaimana negara mengelola ruang untuk manusia. Bukan untuk kapital. Bukan untuk segelintir orang. Pelajari itu. Bawa pulang. Terapkan di sini,” pesan Fahri.

Azka mendengarkan dengan saksama. Ia mencatat setiap kata. Baginya, ini adalah bekal sebelum ia duduk di kelas urban planning. Ia tidak ingin menjadi lulusan yang hanya pintar teori. Ia ingin ilmunya membumi.

“Kami berbicara tentang bagaimana rumah bisa kembali menjadi hak dasar. Azka harus memahami bahwa perencanaan kota bukan sekadar menggambar peta. Itu tentang keadilan,” ujar Fahri.

Fahri menutup pertemuan dengan kalimat yang menusuk. Ia menatap Azka dan mengatakan, “Kamu adalah salah satu generasi emas. Tugasmu bukan hanya membawa gelar. Tugasmu adalah pulang dan membangun ulang sistem yang saat ini belum adil. Belajarlah dari kesalahan kita. Perbaikilah. Jangan ulangi.”

Azka mengangguk. Perjalanannya baru dimulai. Dari ruang diskusi itu, ia akan terbang ke negeri kincir angin. Ia akan belajar bagaimana kota dibangun untuk manusia. Dan suatu hari, ia akan kembali. Bukan hanya dengan ijazah, tetapi dengan jawaban atas pertanyaan yang ia bawa sejak awal: bagaimana membangun Indonesia yang adil dari akarnya.

Rachma Fitriati, dosen FIA UI dan ibu Azka, menyampaikan apresiasi dan menilai momen ini sangat penting. Seorang pejabat negara tidak hanya hadir, tetapi memberikan inspirasi. Seorang pemimpin tidak hanya memerintah, tetapi membimbing. Dan seorang anak bangsa tidak hanya pergi dengan Beasiswa Garuda, tetapi pulang dengan amanah. (Hab)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Kemendikdasmen Perkuat Pelatihan PMKKA Berbasis Mata Pelajaran, Tingkatkan Kompetensi Guru di Era AI
Bertemu Wamen PU, Penerima Beasiswa Garuda LPDP dengan 30 LoA Dunia Siapkan Ilmu untuk Pembangunan Indonesia
Warta Kota Awards 2026 Jadikan Inovasi Daerah Sebagai Laboratorium Nasional
Aero Astra Akademia Cetak SDM Perhotelan Bersertifikat, Lulusan Langsung Diserap Hotel Berbintang
KKP Gandeng WRI Indonesia Hadirkan Ocean Calculator, Dukung Pengelolaan Laut Berkelanjutan
PLN EMI Dorong Generasi Muda Pahami Dekarbonisasi Lewat Sustainability Campus Talk di IT PLN
Dari Habibie hingga Prabowo, Nannie Hadi Tjahjanto Wujudkan Pendidikan Berkualitas di SMA Pradita Dirgantara
Penyidik Dalami Kerja Sama Publikasi di Kementan, Beberapa Pegawai Jalani Pemeriksaan

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 01:00 WIB

Fahri Hamzah ke Azka: Belajarlah di Belanda, Tapi Perbaikilah Sistem di Sini

Jumat, 10 Juli 2026 - 19:33 WIB

Kemendikdasmen Perkuat Pelatihan PMKKA Berbasis Mata Pelajaran, Tingkatkan Kompetensi Guru di Era AI

Selasa, 7 Juli 2026 - 22:50 WIB

Bertemu Wamen PU, Penerima Beasiswa Garuda LPDP dengan 30 LoA Dunia Siapkan Ilmu untuk Pembangunan Indonesia

Selasa, 7 Juli 2026 - 09:37 WIB

Warta Kota Awards 2026 Jadikan Inovasi Daerah Sebagai Laboratorium Nasional

Minggu, 5 Juli 2026 - 16:35 WIB

Aero Astra Akademia Cetak SDM Perhotelan Bersertifikat, Lulusan Langsung Diserap Hotel Berbintang

Berita Terbaru

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Agus Harimurti Yudhoyono

Daerah

Tantangan Pengembangan TOD, Butuh Biaya Besar

Jumat, 24 Jul 2026 - 20:22 WIB