Gonjang-ganjing Rupiah: Di Bawah Bayang-bayag Ketidakpastian, Kapan Beakhir?

- Penulis

Selasa, 26 Mei 2026 - 06:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Oleh: Tim Redaksi

Sejak awal Mei 2026, rupiah terus terperosok tanpa henti. Kemarin (24 Mei) sempat menembus angka Rp17.820 per 1 Dolar AS, level terlemah sepanjang sejarah, dan bergerak tidak menentu, rentan tertekan kapan saja. Sejak awal tahun, nilainya sudah turun lebih dari 4,3%, jauh melampaui asumsi APBN yang hanya menargetkan Rp16.500.

Yang mengkhawatirkan, pelemahan ini tidak lagi beriringan dengan mata uang negara lain. Rupiah jatuh lebih parah dibanding Ringgit Malaysia, Baht Thailand, atau Peso Filipina. Artinya: masalahnya bukan cuma dari luar, tapi ada yang “kurang beres” di rumah sendiri.

Apa Penyebabnya?

Kondisi ini adalah akumulasi tekanan luar dan dalam negeri yang bertumpuk menjadi satu:

Dari Luar: Ketegangan di Timur Tengah

  1. Konflik Geopolitik: Ketegangan Timur Tengah dan persaingan kekuatan besar membuat harga minyak dunia melonjak ke level US$ 108 -112 per barel. Sebagai pengimpor minyak, kebutuhan dolar kita makin besar, sementara pasokan makin langka.
  2. Suku Bunga AS Tetap Tinggi: The Fed belum menurunkan suku bunga, membuat investor asing lebih memilih menaruh uang di AS karena lebih aman dan menguntungkan. Akibatnya, arus modal keluar masif dari pasar saham dan obligasi Indonesia.
  3. Ekonomi China Melambat: Dampaknya langsung terasa ke ekspor utama kita, kelapa sawit, batu bara, dan nikel, permintaan turun, harga ikut ambles, pemasukan devisa berkurang drastis.

Dari Dalam: Perlu Pembenahan

  1. Defisit Neraca Dagang & Transaksi Berjalan: Kuartal I-2026 tercatat defisit tembus US$ 4 Miliar (setara 1,1% PDB), yang terburuk dalam 6 tahun terakhir. Intinya sederhana: kita beli lebih banyak dari luar negeri daripada yang kita jual. Kebutuhan dolar selalu lebih besar daripada yang masuk.
  2. Struktur Ekonomi Belum Berubah: Masih sangat bergantung pada impor bahan baku, energi, dan barang modal. Akibatnya, begitu rupiah melemah, biaya produksi langsung membengkak, harga barang otomatis naik berantai ke seluruh sektor.
  3. Ketidakpastian Kebijakan: Pasar keuangan ragu melihat konsistensi aturan dan arah kebijakan jangka panjang. Lembaga pemeringkat internasional Fitch dan Moody’s bahkan menurunkan pandangan outlook Indonesia menjadi “Negatif”, artinya risiko ekonomi kita makin mahal di mata dunia.
  4. Cadangan Devisa Menipis: Bank Indonesia terus menggelontorkan miliaran dolar untuk “menahan” rupiah agar tidak jatuh lebih parah. Tapi dampaknya hanya sebentar, dan setiap kali intervensi habis, nilai tukar langsung terperosok lagi. Senjata kita makin tumpul.

Catatan Penting: Ini persis pola yang kita bahas dalam tulisan “Ketika Otoritarianisme Berkostum Hukum”. Secara prosedural kebijakan sudah dikeluarkan, secara administrasi berjalan, tapi secara hakikat ekonomi, struktur dasarnya masih rapuh. Akibatnya, begitu ada goncangan sedikit saja, pondasi langsung bergoyang. Sah secara formal, tapi gagal secara materiil.

Upaya Pemerintah: “Terpaksa dan Terpasah 

Pemerintah dan Bank Indonesia sudah bergerak mati-matian mengerahkan segala instrumen, namun pengakuan dari dalam sendiri jujur: langkah yang diambil ini sifatnya terpaksa, sekadar menahan, dan kerap kalah oleh tekanan pasar.

Langkah 1: Intervensi Langsung. Kementerian Keuangan dan BI sudah berkoordinasi melakukan penyerapan pasar, bahkan membeli surat utang negara senilai Rp 2,2 Triliun demi memberi penyangga nilai tukar. Uang segar masuk, tapi efeknya hanya bertahan satu atau dua hari, setelah itu rupiah kembali tertekan turun.

Baca Juga:  Wakil Ketua DPR Minta Pemerintah Larang Impor Produk Berbasis Budaya

Langkah 2: Menarik Uang Masuk. Menerbitkan surat berharga dengan imbal hasil tinggi dan menaikkan suku bunga acuan supaya uang asing mau bertahan lebih lama. Tapi dampak sampingannya berat: biaya pinjaman makin mahal, dunia usaha makin susah bernapas, risiko perlambatan ekonomi makin nyata.

Kelemahan Dasar: Semua langkah ini hanya obat penenang sementara, bukan penyembuh penyakit utamanya. Masalah akarnya, ketergantungan impor dan lemahnya struktur ekspor, belum disentuh secara mendasar.

Menteri Keuangan sendiri pun buka suara: “Kita berusaha sekuat tenaga menjaga stabilitas, tapi kalau tekanan global makin besar dan ketidakpastian belum reda, kemampuan kita pasti ada batasnya”

Dampak Nyata: Rakyat Jadi Korban 

Gonjang-ganjing nilai tukar ini bukan sekadar angka bergerak di layar keuangan, tapi dampaknya langsung terasa sampai ke dapur rakyat:

  1. Harga Bahan Pokok Melambung: Minyak goreng, gula, tepung, terigu, hingga obat-obatan langsung naik tajam karena bahan dasarnya masih bergantung impor.
  2. Biaya Produksi Melonjak: Pabrik tekstil, makanan, farmasi, dan logistik terpaksa bayar mahal untuk kebutuhan luar negeri. Pilihannya: naikan harga jual atau kurangi produksi hingga PHK.
  3. Daya Beli Makin Tergerus: Pendapatan masyarakat cenderung tetap, tapi harga kebutuhan dasar terus naik beruntun. Angka kemiskinan berisiko naik kembali.
  4. APBN Terancam Jebol: Anggaran negara makin berat menanggung subsidi energi dan pangan yang nilainya membengkak tak terduga. Uang negara habis untuk menambal kebocoran, bukan untuk pembangunan jangka panjang.

Analisis: Mengaapa Selalu Rentan? 

Dari pengamatan mendalam, ada satu fakta pahit yang harus diakui: Rupiah selalu menjadi mata uang yang paling mudah goyah setiap kali ada guncangan ekonomi dunia.

Alasannya sama dari dulu sampai sekarang: selama puluhan tahun kita hanya mengandalkan “manajemen jangka pendek”: atur suku bunga, intervensi pasar, tarik uang asing masuk. Tapi lupa atau lambat memperbaiki struktur dasarnya:

  • Belum mampu swasembada kebutuhan dasar, masih impor besar-besaran.
  • Ekspor masih didominasi bahan mentah, bukan barang jadi bernilai tambah tinggi.
  • Cadangan devisa tidak tumbuh secepat kebutuhan dan utang luar negeri.

Kesimpulan dan Pertanyaan Besar

Kondisi rupiah saat ini bukan sekadar gejala biasa, tapi sinyal bahaya sistemik. Kalau dibiarkan dan hanya ditambal sulam, bukan tidak mungkin kita tergelincir masuk ke krisis mendalam, dengan bentuk dan dampak yang mungkin lebih rumit dibanding pengalaman 1998 atau 2008.

Pertanyaan besar yang menunggu jawaban: Sampai kapan kita hanya bisa bertahan dan menahan? Kapan kita berani menyentuh akar masalah untuk memperkuat struktur ekonomi sendiri?

Selama Indonesia masih bergantung pada kebaikan hati pasar global dan modal asing, selama itu pula rupiah akan terus gonjang-ganjing, sulit dikendalikan, dan menjadi beban berat yang dipikul oleh seluruh rakyat Indonesia. ***

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Tujuan Akhir dari Aturan Monopoli SDA, Reindustrialisasi dan Penerimaan Pajak
Bukan Sekadar Energi, PT JOE Kirim Hewan Kurban untuk Warga Kepulauan Seribu
Listrik Padam, Kontrak Jalan Terus: PLN, Antara Mengurus Rakyat atau Mengurus Utang Tersembunyi?
BPKN RI Dukung Class Action ke PT PLN (Persero), Soroti Dampak Blackout Sumatera dan Aceh
Ketika Otoritarianisme Berkostum Hukum
TACTFLOW Hadir di Indonesia, Usung Lifestyle Self-Care dan Me Time
Dorong Transformasi Digital, Bank Jakarta Raih Penghargaan Digital Brand
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 06:33 WIB

Tujuan Akhir dari Aturan Monopoli SDA, Reindustrialisasi dan Penerimaan Pajak

Selasa, 26 Mei 2026 - 06:10 WIB

Gonjang-ganjing Rupiah: Di Bawah Bayang-bayag Ketidakpastian, Kapan Beakhir?

Senin, 25 Mei 2026 - 13:13 WIB

Bukan Sekadar Energi, PT JOE Kirim Hewan Kurban untuk Warga Kepulauan Seribu

Senin, 25 Mei 2026 - 11:03 WIB

Listrik Padam, Kontrak Jalan Terus: PLN, Antara Mengurus Rakyat atau Mengurus Utang Tersembunyi?

Senin, 25 Mei 2026 - 09:33 WIB

BPKN RI Dukung Class Action ke PT PLN (Persero), Soroti Dampak Blackout Sumatera dan Aceh

Berita Terbaru

Ilustrasi Gaji ke-13 (Foto: Ist)

Headline

Gaji Ke-13: Peristiwa yang Selalu Dirindukan

Senin, 25 Mei 2026 - 23:24 WIB