Kartini, Perempuan yang Mengajarkan Bangsanya Bermimpi

- Penulis

Jumat, 10 Juli 2026 - 15:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RA Kartini (Foto: Ist)

RA Kartini (Foto: Ist)

Oleh: Mikhail Adam – (Peneliti Ekopol di Nusantara Centre)

Merayakan Indonesia dan membuatnya menjadi “raya serta jaya.” Inilah tema program Nusantara Centre pada bulan juni-juli ini (2026). Program yang disusun untuk menyambut kemerdekaan ke-81. Dan, cara kami merayakannya adalah membuat kelas jenius pikiran para pendiri republik, membukukannya, memfilemkannya dan menyebarkannya dalam semangat “kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.” Kartini, adalah tokoh kesebelas dari tujuhbelas tokoh yang terpilih. Mari kita baca, teliti dan teladani.

Tak ada Kartini, tak ada emansipasi. Jepara abad ke-19 adalah bagian dari dunia kolonial yang bertingkat-tingkat. Di puncaknya berdiri pemerintah penjajah Belanda. Di bawahnya terdapat kaum priyayi dan birokrasi lokal. Sementara di lapisan paling bawah hidup rakyat biasa yang bekerja keras untuk bertahan hidup.

Dalam struktur feodalisme dan kolonialisme inilah kaum perempuan terhimpit dalam kesunyian yang mencekam. Kolonialisme membatasi akses rakyat terhadap kemajuan. Feodalisme membatasi ruang gerak perempuan. Hidup kaum perempuan seperti diringkus dalam trilogi primitif dapur, sumur, dan kasur.

Bagi kaum perempuan, seolah ia lahir dengan takdir yang tidak memberi banyak pilihan. Seolah ia tumbuh tanpa memiliki banyak kesempatan untuk bermimpi. Kartini muda hidup dengan pertanyaan kepada dunia tentang struktur ketidakadilan yang berlapis ini. Beban ganda penindasan yang ditanggung kaum perempuan dalam perjalanan sejarah.

Kartini lahir dalam keluarga bangsawan Jawa. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, adalah Bupati Jepara. Status sosial keluarganya membuat Kartini memperoleh hak istimewa yang tidak dimiliki sebagian besar perempuan pribumi pada masa itu. Ia bisa bersekolah. Ia belajar di Europese Lagere School (ELS), sekolah dasar untuk kalangan Eropa dan elite pribumi.

Di sekolah Belanda ia mengenal bahasa Belanda, buku-buku pemikiran Eropa, surat kabar, dan dunia yang lebih luas dari batas-batas kabupaten tempat ia tinggal. Pendidikan seperti jendela yang membuka dunia bagi seorang Kartini.

Namun, Kartini muda tak lepas dari jeratan struktur feodal Jawa. Tradisi pingitan datang seperti meringkus dan meringkas masa depan Kartini di usianya yang ke-12 tahun. Ia harus tinggal di rumah dan meninggalkan sekolah. Banyak perempuan lain menerima keadaan itu sebagai takdir. Tetapi Kartini sama sekali tidak. Ia tidak seperti bunga yang layu sebelum berkembang. Tubuhnya dipingit, tetapi pikirannya memilih bebas dan berani bermimpi.

“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu,” kata Kartini seperti doa sunyi di altar zaman yang membisu, “Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.” Peristiwa ini menjadi pencarian makna dalam perjalanan hidup seorang Kartini. Pencarian itu tertuang dalam surat-suratnya, spirit hidup, dan gagasan yang ia junjung seumur hidup.

Dalam kesunyian pingitan itu, ia membaca buku. Meniti jalan setapak ilmu pengetahuan. Kartini menolak kalah oleh keadaan. Ia memilih memerdekakan pikirannya dengan membaca. Bagi Kartini, kemerdekaan pikiran adalah bagian penting untuk mencapai kemerdekaan yang hakiki. Kelak, yang ia lakukan ini menginspirasi perjalanan sejarah Indonesia.

“Teruslah belajar,” kata Kartini dalam hati tetapi terdengar seperti berdialog pada masa depan, “karena ilmu pengetahuan selalu menjadi kekuatan terbaik.”
Kartini membaca apa saja yang bisa ia dapatkan: buku sejarah dan filsafat, karya sastra, majalah, surat kabar, hingga tulisan-tulisan mengenai pemikiran yang berkembang di Eropa. Ia melahap pemikiran Eropa yang sedang bergolak oleh gagasan yang diinspirasi oleh Revolusi Prancis 1789 tentang kebebasan, keadilan, kesetaraan, dan hak-hak dasar manusia.

Di antara lembar-lembar bacaan itu, kesadarannya tergugah. Ia tidak hanya mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru, ia menemukan cara untuk bermimpi. Kartini menemukan mimpinya tentang masa depan kaum perempuan dan bangsanya.
“Beranilah untuk bermimpi,” katanya bernuansa sinematik, “Karena sejarah ditulis oleh para pemberani. Para pemberani memenangkan tiga perempat dunia.”
Kesadaran itu membawanya menulis surat. Menulis surat baginya adalah cara membuat mimpi. Menulis menjadi cara untuk mengorganisir harapan. Kartini menjalin korespondensi dengan sahabatnya di Belanda seperti Rosa Abendanon-Mandri dan Estelle Zeehandelaar untuk menuangkan pemikiran dan cita-cita di masa depan.

“Tahukah engkau semboyanku? Aku ingin,” kata Kartini menyimpan kedalaman arti yang tak terucapkan, “Dua kata itu membawaku melintasi segunung keberatan dan kesulitan. Ia memberiku keberanian mendaki puncak impian.” Dalam surat-suratnya, ia bukan sekadar menulis tentang kehidupan sehari-hari. Ia seperti menumpahkan kegundahan intelektual yang menjadi kehendak yang tak lagi mampu ditampung di dada sejarah. Ia menulis tentang kemiskinan rakyat jawa, tentang pendidikan, tentang kolonialisme, tentang perempuan, tentang kemanusiaan, dan tentang masa depan.

“Kita harus membuat sejarah,” kata Kartini seperti membentangkan peta kesadaran kolektif, “kita mesti menentukan masa depan yang sesuai dengan keperluan sebagai kaum perempuan.” Percakapan itu seperti percakapan harapan dan kenyataan. Antara mimpi dan keterbasan. Antara seorang perempuan muda dan dunia yang ingin diubahnya. Kalimatnya seperti gelora sejarah yang hendak mengatakan: manusia dilahirkan merdeka dan semestinya hidup secara merdeka. Merdeka dari kebodohan. Merdeka dari ketakutan. Merdeka dari ketidakadilan.

Baca Juga:  Bhakti Polri di Tengah Badai Delegitimasi

Dalam banyak suratnya, tergambarkan bahwa Kartini memahami antara pendidikan dan kemajuan masyarakat. Baginya kebodohan dan penjajahan bukan sekadar masalah individu. Ia adalah masalah sosial politik. Dalam hal ini, Kartini berkeyakinan pendidikan adalah alat pembebasan. Ia menggariskan bahwa kemajuan bangsa dimulai dari pendidikan.

Harapan, tekad, dan cita-cita yang tertuang dalam ratusan surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Belanda terangkum dalam kalimat ikonik: Door Duisternis Tot Lich, “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Kalimat itu bukan sekadar judul buku. Ia adalah ringkasan dari seluruh kehidupan dan apa yang hendak diperjuangkan Kartini untuk kaumnya. Ia adalah gita sejarah untuk kaum perempuan.

“Bunga mati terkadang menjadi pupuk bagi pohon yang berbuah,” kata Kartini mengubah kemarahan menjadi nyala inspirasi, “dalam hidup manusia, harapan muda yang mati, menginspirasi datangnya harapan yang lebih sempurna dan berbuah.”
Kartini menemukan arti pendidikan yang paling hakiki, sebagai jalan untuk memerdekakan manusia, untuk memerdekakan bangsanya. Dalam posisi ini, perempuan adalah fondasi utama pendidikan dalam kehidupan berbangsa.
Jika dalam literatur Islam, Al-ummu madrasatul ula, Perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Dalam visi kartini, mendidik perempuan berarti mendidik masa depan bangsa.

“Perempuan adalah penggerak peradaban,” kata Kartini estetika dan sarat kontemplasi yang membebaskan, “perjuangkanlah cita-citamu. Berjuanglah untuk masa depan. Berjuanglah untuk orang-orang yang tertindas.” Tahun 1903, dalam suasana kehidupan Kartini yang telah dipinang Bupati Rembang, Raden Adipati Djojoadiningrat. Kartini membuktikan bahwa pernikahan tidak mengakhiri spirit dan gagasannya. Ia semakin mengembangkan pemikirannya tentang pendidikan. Di Rembang, ia mulai mendirikan sekolah bagi perempuan. Dalam sebuah sekolah sederhana itu, tersemat pesan zaman bahwa kaum perempuan Indonesia berhak mendapatkan pendidikan.

“Sampai kapanpun,” katanya filosofis dan menggetarkan, “kemajuan perempuan adalah bagian terpenting dalam membangun peradaban bangsa.” Kartini percaya pendidikan adalah kunci perubahan dan kemajuan peradaban. Ia adalah jalan memanusiakan manusia. Keyakinan ini semakin diperkuat hari ini dengan studi ilmiah dari UNICEF bahwa peningkatan pendidikan berkorelasi kuat dengan penurunan kemiskinan, peningkatan kesehatan masyarakat, penurunan angka kematian bayi, dan peningkatan ekonomi.

Ketika perempuan memperoleh pendidikan yang lebih baik, angka kesehatan keluarga meningkat, tingkat partisipasi ekonomi naik, dan kualitas pendidikan anak-anak menjadi lebih baik. Gagasan Kartini beresonansi di abad ke-21 yang terbukti melalui banyak penelitian sosial dan ekonomi: pendidikan adalah fondasi kemajuan bangsa.
Kartini sejatinya melampaui ide mengenai emansipasi perempuan semata. Ia berbicara tentang kemanusiaan, keadilan sosial, kebudayaan, dan pentingnya ilmu pengetahuan. Dan itu adalah fondasi bagi kemerdekaan bangsa. Dia seperti seorang intelektual publik, seorang filsuf perempuan, dan seseorang merawikan sejarah kaumnya sendiri.

Kartini tidak menyaksikan proklamasi 1945, tetapi spirit dan gagasannya menjadi bagian penting yang membentuk Indonesia modern. 17 September 1904, ia wafat di usia 25 tahun. Usia yang bahkan belum cukup untuk menyaksikan seluruh musim kehidupan. Tapi seluruh hidupnya dipakai untuk tindakan bermakna dan menginspirasi dalam perjuangan untuk kebebasan, kesetaraan, dan keadilan sosial. Baginya, kemerdekaan pikiran adalah syarat pertama bagi kemerdekaan politik.
Setelah wafatnya, sahabatnya, J.H. Abendanon, mengumpulkan surat-suratnya dan menerbitkannya menjadi buku yang diambil lewat penggalan isi surat Kartini.

Kalimat yang kemudian dikenal sebagai Door Duisternis Tot Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang. Dari surat-surat itulah dunia mengenal Kartini. Dari surat-surat itulah bangsa Indonesia menemukan salah satu suara paling jernih dalam sejarahnya.
“Biarpun saya patah di tengah jalan,” kata Kartini lirih, nyaris teatrikal, “saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena saya membuka jalan untuk perempuan Indonesia merdeka dan berdiri sendiri.”

Raden Ajeng Kartini memulai mimpi dan imajinasi untuk bangsanya. Ia percaya bahwa bangsa yang besar harus dibangun oleh manusia-manusia yang berpikir dan tidak takut bermimpi. Dan warisan terbesarnya adalah keberanian untuk bermimpi besar. Keberanian untuk membayangkan masa depan yang lebih baik dan indah.
“Cita-cita itu,” kata Kartini seperti menyalakan lentera untuk perjalanan sejarah republik, “memperindah martabat manusia, memuliakannya, dan mendekatkan pada kesempurnaan.”

Dengan cita-cita mulia dan mimpi besar itulah sebuah bangsa tidak kehabisan inspirasi untuk membangun masa depan. Membangun peradaban yang adil, makmur, dan beradab. Dari perempuan kita belajar perkuat tekad: bahwa mental adalah kuntji. **

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Geledahan Lokasi Terkait Jampidsus: Tanggapan Resmi, Fakta Pengamanan, dan Ujian Sistemik
Raja Juli Antoni, Seteru Anies Baswedan Masuk Radar KPK
Membaca Jejak Penyidikan Tiga Klaster Tipikor BUMN oleh Kortastipidkor Polri dari Awal hingga Pengadilan
Statistikulasi & Cerita Produksi Beras Indonesia yang “Wow”
Meteor Besar Segera Jatuh ke Bumi Nusantara?
Survei IndexMundi Dirilis Tahun 2015 dengan 10 Cacat Metodologis
Di Balik Anggaran: Ketika Media Menjadi Agen Pembagian “Kue”
Urgensi Cadangan Beras Pemerintah Multikualitas
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 15:02 WIB

Kartini, Perempuan yang Mengajarkan Bangsanya Bermimpi

Jumat, 10 Juli 2026 - 10:02 WIB

Geledahan Lokasi Terkait Jampidsus: Tanggapan Resmi, Fakta Pengamanan, dan Ujian Sistemik

Jumat, 10 Juli 2026 - 09:09 WIB

Raja Juli Antoni, Seteru Anies Baswedan Masuk Radar KPK

Jumat, 10 Juli 2026 - 07:19 WIB

Membaca Jejak Penyidikan Tiga Klaster Tipikor BUMN oleh Kortastipidkor Polri dari Awal hingga Pengadilan

Kamis, 9 Juli 2026 - 06:39 WIB

Statistikulasi & Cerita Produksi Beras Indonesia yang “Wow”

Berita Terbaru

RA Kartini (Foto: Ist)

Opini

Kartini, Perempuan yang Mengajarkan Bangsanya Bermimpi

Jumat, 10 Jul 2026 - 15:02 WIB