Jakarta, Mediakarya.id – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI kembali membuka opsi pengadaan kereta rel listrik (KRL) bekas dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan armada Commuter Line Jabodetabek. Usulan tersebut muncul di tengah meningkatnya jumlah pengguna KRL dan adanya sejumlah rangkaian kereta yang mulai memasuki usia tua.
KAI menilai pengadaan KRL bekas yang telah diperbarui atau menjalani refurbishment dapat menjadi solusi sementara untuk menutup kebutuhan armada dalam beberapa tahun mendatang. Opsi tersebut ditempatkan sebagai langkah transisi sembari kapasitas produksi kereta dalam negeri terus ditingkatkan.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa sebagian armada yang saat ini digunakan akan memasuki usia kritis. Kondisi tersebut membuat perusahaan harus menyiapkan penggantian sejumlah trainset agar layanan KRL Jabodetabek tetap dapat berjalan dengan kapasitas yang mencukupi.
“Kereta Jepang ini sudah 45 tahun (di tahun 2028). Ketika trainset-trainset kita ini sudah berumur 45 tahun, 45 tahun ini kita sudah tidak bisa lagi. Satu, sparepart sudah tidak ada. Yang kedua, secara metal dia sudah mulai fatigue (kelelahan logam),” ujar Bobby saat rapat dengan Komisi VI DPR, Jakarta, Senin (23/9/2026).
Menurut paparan KAI, kebutuhan penggantian armada menjadi salah satu persoalan yang harus segera diantisipasi. Hingga 2031, setidaknya 87 trainset KRL disebut perlu diganti karena faktor usia dan kebutuhan keselamatan operasional.
Pada 2026 saja, KAI memproyeksikan adanya kekurangan hingga 22 trainset. Angka tersebut berkaitan dengan keterlambatan pengiriman armada baru serta rencana konservasi terhadap 13 trainset lama.
Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kebutuhan transportasi publik di kawasan Jabodetabek terus berkembang. KRL menjadi salah satu moda utama masyarakat untuk melakukan perjalanan harian, terutama bagi pekerja dan pelajar yang melakukan mobilitas dari wilayah penyangga menuju Jakarta maupun sebaliknya.
Data KAI juga menunjukkan tingginya pertumbuhan pengguna Commuter Line Jabodetabek. Dalam satu dekade, jumlah pelanggan KRL Jabodetabek meningkat dari 257 juta perjalanan pada 2015 menjadi 401 juta perjalanan pada 2025. Hingga Januari-Agustus 2026, jumlah pelanggan tercatat mencapai 277,2 juta.
Di sisi lain, pengadaan armada baru melalui industri dalam negeri tidak dapat dilakukan secara instan. PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA terus didorong untuk meningkatkan kemampuan produksinya, tetapi peningkatan kapasitas membutuhkan proses dan waktu.
KAI menyebut kapasitas produksi INKA sedang diarahkan untuk meningkat hingga sekitar 15-16 trainset per tahun. Dengan kebutuhan armada yang harus dipenuhi dalam waktu relatif cepat, produksi domestik perlu berjalan bersamaan dengan langkah lain agar tidak terjadi kekurangan sarana.
KAI dan INKA sendiri saat ini juga melakukan perawatan sejumlah trainset yang sudah tersedia. Pada September 2026, misalnya, kedua perusahaan tengah menangani tujuh trainset KRL iE305/CLI 225. Pemeriksaan mencakup sistem, komponen teknis, dan aspek keselamatan sebelum rangkaian kembali digunakan.
Bobby menilai opsi pengadaan KRL bekas yang sudah diperbarui dapat digunakan sebagai jembatan sampai kemampuan produksi dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan secara lebih besar.
“Jadi salah satunya yang kami akan usulkan itu adalah kita tambal dulu, Pak, dengan melakukan impor, ya, itu kereta-kereta yang tidak baru. Yang memang secara historis ini bagus, kemudian sudah melakukan refurbishment Pak, kayak pesawat-lah gitu,” jelas Bobby.
Usulan impor tersebut tidak serta-merta berarti seluruh kebutuhan armada akan dipenuhi dari luar negeri. Berdasarkan pembahasan yang disampaikan KAI, pengadaan sarana bukan baru diarahkan sebagai solusi transisi ketika kebutuhan armada meningkat lebih cepat dibanding kemampuan produksi domestik.
Dalam konteks tersebut, sinergi dengan PT INKA tetap menjadi bagian penting. Pengadaan dari luar negeri diharapkan tidak mengurangi upaya membangun kemampuan industri perkeretaapian nasional.
Wakil Ketua Komisi VI DPR Andre Rosiade menyampaikan dukungan terhadap pemenuhan kapasitas KRL Jabodetabek melalui kombinasi penguatan industri lokal dan pengadaan rangkaian kereta bukan baru.
“Memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian khususnya KRL Jabodetabek dengan meningkatkan industri lokal dan melakukan impor rangkaian kereta dan set bukan baru yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ucap Andre saat membacakan kesimpulan rapat.
Andre juga menekankan pentingnya penguatan kemampuan PT INKA. Dengan demikian, kebutuhan jangka pendek dapat ditangani tanpa mengabaikan pengembangan kemampuan industri nasional dalam jangka panjang.
Di tengah pembahasan mengenai kemungkinan impor KRL bekas, aspek keselamatan menjadi perhatian DPR. Kapoksi PKB Komisi VI DPR Rivqy Abdul Halim meminta pemerintah tidak hanya melihat kecepatan pengadaan, tetapi juga memastikan setiap rangkaian yang didatangkan benar-benar memenuhi persyaratan teknis.
“Kalau pemerintah memutuskan impor KRL, jangan sekadar berpikir bagaimana kereta bisa cepat datang. Yang harus dipastikan adalah apakah kereta tersebut benar-benar aman, laik operasi, sesuai dengan kondisi infrastruktur kita dan memberikan kenyamanan kepada penumpang,” kata Rivqy kepada wartawan, Sabtu (26/9).
Menurut Rivqy, pemeriksaan harus mencakup kondisi teknis kereta, aspek keselamatan, kesesuaian dengan infrastruktur perkeretaapian Indonesia, hingga kompatibilitas dengan sistem persinyalan yang digunakan.
Hal tersebut menjadi penting karena usia kereta bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah sebuah rangkaian dapat digunakan. Kondisi aktual setiap unit, riwayat perawatan, ketersediaan suku cadang, sistem kelistrikan, serta hasil pemeriksaan teknis juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan sebelum kereta dioperasikan.
Persoalan armada KRL juga tidak dapat dilepaskan dari tingginya mobilitas masyarakat Jabodetabek. Kepadatan penumpang terutama terlihat pada jam sibuk ketika masyarakat berangkat dan pulang kerja.
Rivqy menilai pertumbuhan jumlah pengguna perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas layanan. Ia menyebut jumlah penumpang KRL Jabodetabek pada tahun ini telah mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari dalam materi yang disampaikannya.
“Kami melihat kondisi saat ini, KRL sudah amat sangat padat, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja. Kondisi ini tentu tidak nyaman bagi masyarakat. Karena itu, kami mendorong adanya penambahan jumlah KRL agar kepadatan bisa dikurangi. Tetapi penambahan armada harus dibarengi dengan peningkatan standar keselamatan dan kenyamanan penumpang,” kata Rivqy.
Data KAI yang dipublikasikan pada September 2026 juga menunjukkan pertumbuhan penggunaan Commuter Line dalam jangka panjang. Selain jumlah pelanggan yang meningkat, jaringan stasiun KRL Jabodetabek juga bertambah dari 71 stasiun pada 2015 menjadi 85 stasiun pada 2026.
Rencana pengadaan KRL bukan baru kemudian berada pada persimpangan antara kebutuhan cepat dan penguatan industri dalam negeri. Di satu sisi, KAI perlu memastikan jumlah armada cukup untuk melayani pertumbuhan penumpang. Di sisi lain, kemampuan PT INKA perlu terus dikembangkan agar kebutuhan sarana perkeretaapian dapat semakin banyak dipenuhi dari produksi nasional.
Andre menekankan pentingnya peningkatan kemampuan teknologi dan manufaktur PT INKA agar industri nasional mampu mencapai tingkat kesiapan yang lebih tinggi.
“Melakukan pengadaan sarana bukan baru sebagai solusi transisi dengan tetap memperkuat sinergi bersama PT INKA dengan meningkatkan (TRL) teknologi readiness level dan manufacturing readiness level PT INKA secara proper level 9 dalam kapasitas kualitas teknologi dan daya saing industri nasional,” ujar Andre.
Dengan pendekatan tersebut, pengadaan KRL bekas dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi pemenuhan kebutuhan armada jangka pendek, sementara pembangunan kapasitas produksi nasional tetap berjalan.
Rencana impor KRL bekas Jepang pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan jumlah rangkaian yang dapat didatangkan. Pemerintah dan KAI juga perlu memperhitungkan aspek keselamatan, kelaikan teknis, kecocokan dengan infrastruktur, biaya perawatan, serta keberlanjutan ketersediaan suku cadang.
Rivqy menegaskan bahwa penambahan armada harus menjadi bagian dari pembangunan sistem transportasi yang mampu mengantisipasi pertumbuhan pengguna.
“Jadi solusinya bukan sekadar menambah kereta. Kita harus membangun ekosistem transportasi KRL yang kapasitasnya memadai, aman, nyaman, tepat waktu, dan mampu mengantisipasi pertumbuhan penumpang ke depan,” ujarnya.
Ia juga menilai kebutuhan terhadap KRL Jabodetabek akan terus meningkat seiring tingginya ketergantungan masyarakat terhadap transportasi massal berbasis rel.
“Artinya, kebutuhan terhadap transportasi massal berbasis rel terus meningkat. Kepadatan tidak bisa terus dianggap sebagai konsekuensi yang harus diterima masyarakat. Negara harus hadir memastikan pertumbuhan jumlah penumpang diikuti pertumbuhan kapasitas layanan,” tegasnya.











