NIAS SELATAN , Mediakarya– Momentum sakral dan penuh khidmat menyelimuti Desa Bawomataluo, Nias Selatan, pada Selasa, 25 Agustus 2026. Ratusan warga bersama tokoh adat berkumpul di halaman Rumah Adat Desa Bawomataluo (Ewali Sawolo) untuk menyaksikan prosesi pemugaran makam dan pemindahan jasad leluhur, Faciako Wau, yang juga dikenal dengan gelar Tuha Simae Asi / Tuha Solago Maenamolo.
Acara adat yang bernilai sejarah tinggi ini dihadiri oleh para tokoh adat Si’ulu dan Si’ila dari berbagai Ori (wilayah adat), juga dihadiri tokoh masyarakat pesisir dan cendekiawan mukim
di Nias Selatan. Kehadiran para pemangku adat ini menegaskan betapa pentingnya sosok Faciako Wau dalam tatanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Nias Selatan.
Mowa’a Wau, selaku cucu tertua dari mendiang Faciako Wau, mengungkapkan rasa haru dan bangganya atas kelancaran seluruh rangkaian acara. Beliau menjelaskan bahwa kesuksesan upacara besar ini merupakan buah dari kekompakan luar biasa dari seluruh garis keturunan almarhum.
“Kakek kami, Faciako Wau, telah berpulang sekitar 100 tahun yang lalu. Hari ini, berkat persatuan dan gotong royong dari sekitar 600 orang cucu, cicit, hingga cucu buyut, prosesi pemindahan ini dapat terlaksana dengan sangat baik,” ujar Moawa Wau.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh masyarakat Desa Bawomataluo yang telah memberikan dukungan penuh, sehingga acara adat ini berjalan aman, tertib, dan sakral.
Kebanggaan senada juga dirasakan oleh para Fa’asiulu (tokoh adat) yang hadir. Mereka menilai prosesi ini bukan sekadar ritual keluarga, melainkan manifestasi nyata dari pelestarian hukum adat Nias yang masih terjaga kuat hingga hari ini.
Salah seorang tokoh masyarakat, Karyawan Bago, yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan rasa terima kasihnya kepada keluarga besar penyelenggara. Menurutnya, kesempatan menyaksikan langsung prosesi ini adalah sebuah kehormatan.
“Kami sangat berterimakasih kepada keluarga besar yang telah mengizinkan kami menyaksikan langsung upacara adat ini. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi kita generasi masa kini tentang bagaimana para leluhur zaman dahulu melakukan adat pemindahan makam,” tutur Karyawan Bago.
Suasana semakin bergelora saat peti jenazah diarak keliling kampung. Keharmonisan dan kekompakan antara ratusan keturunan Faciako Wau yang bahu-membahu bersama masyarakat setempat menjadi pemandangan yang memukau.
Tradisi ini kembali mengingatkan publik akan pentingnya menjaga persaudaraan, menghormati para pendahulu, serta melestarikan kekayaan budaya luhur di Nias Selatan.(Nan)










