JAKARTA, Mediakarya – Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya. menyatakan keprihatinan mendalam atas narasi yang dibangun dalam lagu berbahasa Sunda berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” ciptaan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein yang belakangan menjadi perbincangan di media sosial.
Politisi Partai Golkar itu menuding Bupati Purwakarta Saepul Bahri telah mendegradasi atau merendahkan kaum perempuan melalui lagu dengan Bahasa Sunda yang berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat”. Hal tersebut diungkapkan Atalia Praratya melalui unggahan akun Instagramnya @ataliapr.
Ia menilai lagu tersebut bukan karya, namun mencerminkan pola pikir yang cenderung merusak karena liriknya bisa dimaknai merendahkan perempuan. “Jujur saya tidak habis pikir, se-positif apapun saya memaknai lagu ini. Saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” ungkapnya seperti dikutip melalui akun pribadinya, Jumat (3/7/2027).
Menurut Atalia, banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah dan bisa dihunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kehidupan. Masalahnya, kata Atalia, mengapa Saepul Binzein memilih narasi merendahkan perempuan.
Dirinya sangat menyayangkan seorang kepala daerah justru melahirkan narasi patriarki yang menertawakan beban serta pengalaman biologis perempuan, seperti menstruasi, kehamilan, hingga keguguran.
Lebih lanjut, kata dia, lirik yang memicu kontroversi tersebut di antaranya membandingkan keberuntungan menjadi seorang laki-laki yang tidak perlu mengalami telat bulan, tidak perlu membeli bra, hingga sindiran mengenai keguguran di usia sekolah.
Berbagai elemen masyarakat dan aktivis gender menilai lirik tersebut tidak sensitif dan memperlakukan tubuh perempuan sekadar sebagai objek olok-olok politik maupun candaan ruang publik.
Meski Saepul Bahri beranggapan bahwa lagu tersebut hanya sebatas humor menggunakan gaya lokal masyarakat Sunda atau sering disebut heureuy, namun ketika karya tersebut masuk ke ranah media sosial dan dikonsumsi publik luas, tolok ukur penerimaannya bergeser.
Om Zein Minta Maaf
Sementara itu Bupati Purwakarta Saepul Bahri memberikan klarifikasi terkait polemik lagu berbahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang belakangan menjadi polemik..
Saepul Bahri membantah anggapan bahwa lagu tersebut dibuat untuk menyindir atau merendahkan kelompok tertentu, khususnya perempuan. Ia menjelaskan bahwa karya tersebut merupakan puisi sekaligus lagu yang ditulis pada 2020 sebagai bentuk refleksi atas perjalanan hidupnya sendiri.
“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal,” ujar Om Zein dikutip dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Purbakarta, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, setiap lirik yang ditulis merupakan pengakuan atas kekurangan dirinya di masa lalu. Ia menyebut karya tersebut lahir dari proses introspeksi yang dilalui sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.
“Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri,” tambahnya.
Dia berdalih bahwa dalam lagu tersebut bukan ditujukan kepada perempuan ataupun kelompok tertentu. Ia menyebut karya itu merupakan pengingat bagi dirinya sendiri agar terus memperbaiki diri setelah melakukan perenungan atas masa lalu.
Di tengah beragam penafsiran masyarakat terhadap lirik lagu tersebut, Om Zein mengakui bahwa sebuah karya dapat dimaknai secara berbeda oleh setiap orang. Karena itu, ia memilih menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa terganggu atau tidak nyaman.
“Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri,” tegasnya.
Politisi Gerindra itu berharap masyarakat dapat memahami latar belakang lahirnya lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat. Ia menegaskan karya tersebut merupakan refleksi pribadi atas kehidupannya pada masa lalu dan bukan dibuat sebagai bentuk sindiran maupun penghinaan terhadap perempuan atau kelompok tertentu. (red)











